Psikoterapis hubungan, Miranda Christophers, mengatakan, “Jika kamu merasa berada dalam hubungan menjadi bagian utama dari identitasmu, hal itu bisa menimbulkan banyak tekanan,” dikutip dari Cosmopolitan.
Saat Identitas Perempuan Ikut Dilekatkan pada Status Pasangannya

- Perempuan kerap lebih dulu dikenali melalui status sebagai pasangan, meski mereka memiliki pekerjaan, pertemanan, mimpi, dan perjalanan pribadi sendiri.
- Pencapaian seperti promosi, pendidikan, atau usaha bisa dikaitkan dengan posisi pasangan, sehingga jerih payah dan kemampuan pribadi berisiko terabaikan.
- Dalam hubungan, keputusan bersama penting, tetapi perempuan tetap perlu mempertahankan suara, pilihan, dan kesadaran diri sebagai individu yang unik.
Kamu baru saja tiba di sebuah acara ketika seseorang datang menghampirimu. Sebelum sempat memperkenalkan diri, dia sudah lebih dulu berkata, “Oh, kamu pacarnya dia, ya?” Kamu ikut tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu. Hanya saja, untuk beberapa detik kamu jadi berpikir, bukankah sebelum menjadi pacarnya seseorang, kamu sudah menjadi dirimu sendiri?
Ada pekerjaan yang kamu jalani setiap hari, teman-teman yang mengenalmu jauh sebelum hubungan itu dimulai, juga mimpi yang perlahan kamu bangun dengan tangan sendiri. Namun ketika sebuah hubungan hadir, semua hal itu kadang seperti bergeser ke belakang. Namamu tetap ada, tetapi status sebagai pasangan justru lebih cepat diingat orang. Tanpa disadari, ada beberapa momen ketika identitasmu sebagai perempuan mulai ikut dilekatkan pada siapa pasanganmu.
1. Saat orang lebih dulu mengenalmu sebagai pasangannya

ilustrasi pasangan (pexels.com/Samson Katt) Ada suatu saat kamu datang bersama pasanganmu mengunjungi sebuah acara. Baru beberapa menit berada di sana, seseorang yang belum mengenalmu bertanya, “Oh, ini pacarnya X?” Pada saat itu kamu mungkin hanya tertawa kecil. Menurutmu, itu juga bukan pertanyaan yang kasar. Bisa jadi orang tersebut memang hanya sedang mencoba membuka percakapan.
Namun semakin sering mengalaminya, kemudian muncul pertanyaan kecil dalam benakmu, “Kenapa aku lebih mudah dikenali dari siapa yang bersamaku daripada diriku sendiri?” Padahal, ada banyak hal yang bisa diceritakan tentang dirimu selain hubungan. Sayangnya, semua cerita itu kadang kalah cepat dengan satu pertanyaan sederhana tentang siapa pasanganmu.
Sesekali orang mengenalmu sebagai pasangan seseorang, mungkin tidak masalah. Tetapi ketika acara demi acara sudah kamu lewati dan kamu terus mendapati pertanyaan itu, rasanya perlahan seperti hanya itu satu-satunya cara orang melihatmu. Sedangkan, menjadi pasangan seseorang seharusnya hanya menjadi salah satu bagian dari cerita saja, bukan menjadi bagian utama dari identitasmu.
2. Ketika pencapaianmu ikut dibaca melalui status pasangan

Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Mikhail Nilov) Hari itu kamu baru saja mendapat promosi, menyelesaikan pendidikan, atau membangun usahamu sendiri. Bukannya mendapat ucapan selamat atas kerja kerasmu, orang justru sibuk menghubungkan pencapaianmu ini dengan status pasanganmu.
“Wajar sukses, suaminya juga punya posisi bagus,” ujar mereka.
Ada pencapaian yang akhirnya terasa seperti bayangan dari status pasangan. Hubungan memang bisa memberi dukungan, tetapi bukan berarti dukungan itu mengesampingkan hasil jerih payahmu sendiri.
3. Saat hidup mulai harus memakai kata “kita”

ilustrasi pasangan membicarakan masa depan (unsplash.com/cannedstreet) Dulu, kamu terbiasa membuat rencana sendirian. Sabtu pagi mau pergi ke mana, pekerjaan apa yang ingin dicoba, atau kota mana yang ingin kamu kunjungi berikutnya. Setelah kamu menjalin hubungan cukup lama dengan pasanganmu, semuanya mulai berubah. Ketika mendapat tawaran pekerjaan, kamu memikirkan “kita”. Ketika ingin pindah kota, kamu memikirkan “kita”.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika hidup mulai terasa seperti perjalanan bersama. Ketika menyusun rencana dan membicarakan masa depan kamu mengajak pasanganmu untuk berdiskusi tentang hal-hal tersebut. Namun di tengah begitu banyak keputusan bersama, jangan sampai suara “aku” benar-benar menghilang.
Seperti yang dijelaskan dalam laman Psychology Today, bahwa kita perlu bisa menyatu dengan pasangan, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki kesadaran bahwa diri kita adalah individu yang unik dan terpisah. Untuk melakukannya, kita perlu bersedia dekat dengan orang lain tanpa kehilangan bagian-bagian penting dari diri kita sendiri karena berusaha meleburkan identitas dengan identitas pasangan.
Di kemudian hari ketika seseorang bertanya, “Kamu pacarnya dia, ya?”, kamu masih akan tersenyum dan mengangguk. Namun, setelah itu kamu tahu ada banyak hal lain yang tetap bisa kamu ceritakan tentang dirimu. Karena dirimu sadar, di balik statusmu sebagai pacar, tunangan, maupun istri, tetap ada seorang perempuan dengan perjalanan, pilihan, dan cerita yang tidak melekat pada siapapun selain dirinya sendiri.





















