Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Joviana Henza: Performance Stylist di Balik Project Naykilla hingga no na
Joviana Henza: Performance Stylist di Balik Project Naykilla hingga no na (IDN Times/Nisa Zarawaki | instagram.com/__henza)
  • Joviana Henza membangun karier performance styling secara otodidak setelah memulai dari ketertarikan pada fashion dan pengalaman mengelola online shop baju second-hand.

  • Kariernya berkembang dari project bersama Basboi pada 2022 hingga menangani styling sejumlah musisi, termasuk Naykilla, NPD, Reality Club, dan no na.

  • Jovi mengutamakan pendekatan kolaboratif, kenyamanan performer, serta kebebasan berekspresi tanpa membatasi styling berdasarkan gender.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2022

Jovi mengerjakan pengalaman pertama performance styling untuk membantu Basboi memenuhi kebutuhan panggungnya. Dari project tersebut, ia mulai bertemu dan dipercaya oleh musisi lain.

Pestapora 2023

Jovi pertama kali bekerja bersama Naykilla untuk performance di Pestapora 2023. Setelah itu, mereka mengerjakan beberapa project bersama.

Baru-baru ini

Jovi menjadi sosok di balik performance outfit NPD di Pestapora 2026 serta MV Honk! sampai Speaker Freaker no na.

24/8/2026

IDN Times berbincang dengan Jovi di wilayah Sudirman, Jakarta Selatan, mengenai perjalanan dan pendekatannya dalam performance styling.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Joviana Henza menjalani pekerjaan sebagai performance stylist dan menangani styling untuk sejumlah musisi.
  • Who?
    Joviana Henza, atau Jovi, bersama musisi seperti Basboi, Naykilla, NPD, Reality Club, dan no na.
  • Where?
    Perbincangan dengan Jovi berlangsung di wilayah Sudirman, Jakarta Selatan.
  • When?
    Perbincangan tersebut berlangsung pada 24/8/2026. Pengalaman pertama performance styling Jovi terjadi pada 2022.
  • Why?
    Jovi membantu performer menerjemahkan musik, cerita, dan persona mereka ke dalam penampilan yang nyaman serta mendukung kepercayaan diri.
  • How?
    Jovi bekerja secara otodidak dan kolaboratif melalui diskusi mengenai musik, lagu, cerita, persona, serta kebutuhan performer di atas panggung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Joviana Henza atau Jovi bekerja memilih pakaian untuk musisi saat tampil. Ia belajar sendiri walau kuliahnya hukum. Jovi mulai membantu Basboi pada 2022, lalu bekerja dengan Naykilla, NPD, Reality Club, dan no na. Sekarang ia masih membuat styling dengan cara berdiskusi agar musisi nyaman dan percaya diri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perjalanan Joviana Henza menunjukkan bahwa latar pendidikan yang berbeda tidak menutup kesempatan untuk membangun keahlian baru. Pengalaman dari online shop, photoshoot, dan project bersama musisi membentuk pendekatannya secara bertahap. Cara kerja yang mengutamakan diskusi juga membuat performance styling berfungsi sebagai pendukung identitas dan kenyamanan performer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam sebuah penampilan live dari artis atau musisi, yang paling diingat penonton biasanya adalah lagunya, energinya, atau bagaimana mereka bisa mengisi seluruh ruangan hanya dengan kehadirannya. Tapi, ada satu elemen yang bekerja diam-diam di balik semua itu, yaitu apa yang mereka kenakan. Performance styling adalah seni yang jarang disebut namanya, tapi dampaknya terasa di setiap sudut panggung.

Profesi ini menuntut lebih dari sekadar selera fashion yang baik. Seorang performance stylist harus bisa memahami siapa artist-nya, musik apa yang ia bawakan, dan persona apa yang ingin ia tonjolkan di hadapan penonton. Semua itu kemudian diterjemahkan ke dalam satu look yang enak dipandang sekaligus membuat performer tetap merasa nyaman dan percaya diri saat show.

Joviana Henza atau Jovi menjalani pekerjaan itu setiap harinya. Tanpa background pendidikan fashion, ia membangun kariernya dari nol secara otodidak hingga kini dipercaya menangani banyak project bersama musisi seperti Naykilla, NPD, Reality Club, hingga no na. Pada (24/8/2026) di wilayah Sudirman, Jakarta Selatan, IDN Times berkesempatan berbincang dengan Jovi tentang perjalanannya, pendekatannya dalam performance styling, dan prinsip yang selalu ia pegang dalam berkarya.

1. Titik mula tertarik pada dunia fashion

Joviana Henza: Performance Stylist di Balik Project Naykilla hingga no na (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Ketertarikan Jovi pada fashion bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ketertarikan sudah ada sejak belia, jauh sebelum ia tahu bahwa itu suatu hari akan jadi profesinya. Salah satu memori yang ia ingat adalah saat pertama kali punya TV kabel dan menemukan Fashion TV, sebuah channel yang ia tonton berulang-ulang sampai takjub melihat bagaimana manusia bisa menciptakan sesuatu yang begitu indah dari tangannya sendiri.

Tapi, perjalanan dari kekaguman itu ke dunia styling profesional tidaklah berjalan linear. Jovi merupakan lulusan hukum, jauh dari dunia fashion secara formal. Di sela-sela itu, ia tetap mengeksplorasi minatnya dengan cara yang ia bisa. Koleksi bajunya menumpuk sampai akhirnya ia dan sahabatnya membuka online shop baju second-hand. Karena sadar bahwa foto baju tanpa styling tidak menarik, ia mulai menata dan memotret sendiri setiap item yang dijual. Tanpa ia sadari, dari situlah instingnya sebagai stylist mulai terasah.

"Dulu tuh pas baru punya pertama TV kabel tuh, yang kayak di-play ulang-ulang tuh Fashion TV. Aku tuh kayak amazed gitu lho, how human can make such beautiful things with their hands. Dari situ, aku mulai tertarik. Sampai pas kuliah, aku tetep mencoba kayak nge-explore my own kind of fashion," jelas Jovi.

Dari online shop kecil-kecilan itu, Jovi kemudian bekerja di divisi marketing sebuah fashion brand, di mana ia mulai terlibat langsung dalam proses photoshoot. Satu pengalaman mengalir ke pengalaman berikutnya, lalu pelan-pelan Jovi menemukan jalannya sendiri menuju dunia styling.

2. Perjalanan kariernya justru berakar pada hal yang tak direncanakan

Project yang pernah di-handle Joviana Henza (instagram.com/__henza)

Karier Jovi sebagai performance stylist tidak dimulai dari portofolio formal atau koneksi di industri. Semuanya berawal dari satu permintaan sederhana dari sahabatnya sendiri. Basboi, seorang musisi yang hendak merilis full album, butuh bantuan untuk merepresentasikan dirinya di atas panggung. Jovi yang tahu betul karakter sahabatnya itu, pun turun tangan.

Dari project pertama yang sangat personal itulah, semuanya mengalir. Kepercayaan datang satu per satu. Dari satu musisi ke musisi lain, dari satu panggung ke panggung berikutnya. Jovi tidak pernah merencanakan ini sebagai sebuah karier yang tersusun rapi. Ia hanya terus mengerjakan apa yang ada di depannya dengan sepenuh hati. Dunia performance styling menerimanya dengan cara yang sama organiknya.

"Journey-ku tuh lumayan organik. Pengalaman pertama aku tuh performance styling buat bantu sahabat aku, Basboi, untuk kebutuhan panggung-panggungnya dia. Itu di tahun 2022. Dari situ, aku mulai ketemu beberapa musisi lain juga, terus habis itu dipercaya buat styling mereka juga. Beda sama yang lain mungkin, background aku tuh sebenarnya lulusan hukum. Jadi, aku tuh belajar styling benar-benar otodidak dari nol, dari pengalaman langsung, explore juga, belajar online, sampai akhirnya aku bisa nemuin pendekatan yang aku punya sekarang," tambahnya.

Hal yang menarik dari titik mula Jovi adalah betapa sedikitnya kalkulasi di dalamnya. Tidak ada rencana besar atau target karier yang tersusun. Hanya ada kemauan untuk mencoba dan dari sana semuanya terbentuk serta bertumbuh sendiri.

3. Menjadi fashion stylist dengan mengedepankan nilai kolaboratif

Project yang pernah di-handle Joviana Henza (instagram.com/__henza)

Kalau ada satu hal yang paling membentuk cara Jovi bekerja sebagai stylist, itu adalah keyakinannya bahwa perannya bukan untuk mendominasi, namun untuk melengkapi. Setiap kali ia masuk ke sebuah project, yang pertama ia lakukan bukan langsung memilih pakaian. Ia terlebih dahulu duduk dan mendengarkan. Musik apa yang dibawakan, cerita apa yang ingin disampaikan, persona apa yang ingin ditonjolkan di hadapan penonton.

Dari pemahaman itulah, baru ia mulai menerjemahkan semuanya ke dalam bahasa styling. Dan hasilnya, menurut Jovi, selalu merupakan hasil diskusi bersama. Dengan kata lain, bukan keputusan sepihak dari seorang stylist yang merasa tahu yang terbaik.

"Aku tuh percaya bahwa peranku sebagai stylist itu melengkapi mereka as an artist dan juga dengan karya yang mereka bawa. Bukan mengambil alih atau ngubah identitas mereka. Jadi, apa yang mereka mau sampaikan, itu yang coba aku kembangkan. Setiap project itu pasti jadinya punya pendekatan yang berbeda dan pasti hasilnya juga itu adalah hasil diskusi kita berdua. Proses adaptasinya juga dimulai dari banyak diskusi, terus digging lebih dalam juga dari musik, dari lagu yang mereka bawain," lanjut Jovi.

Sesuatu yang juga selalu Jovi ingat adalah artist yang ia tangani adalah performer. Artinya, look yang dipilih bukan hanya harus terlihat bagus di foto, tapi juga harus membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri saat bergerak di atas panggung. Karena pada akhirnya, styling yang paling berhasil adalah yang membuat si artist merasa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya.

4. Pernah handle project MV Naykilla, no na, hingga perform Reality Club

Project yang pernah di-handle Joviana Henza (instagram.com/__henza)

Dari Basboi, nama Jovi mulai dikenal di lingkaran musisi lokal. Satu per satu project datang. Ada Ramengvrl, Oslo Ibrahim, Idgitaf, Reality Club, hingga Naykilla. Baru-baru ini, Jovi juga merupakan sosok di balik performance outfit NPD di Pestapora 2026 dan MV Honk! sampai Speaker Freaker no na. Setiap nama membawa tantangan yang berbeda dan setiap project mengasah instingnya lebih jauh.

Dengan Naykilla, chemistry itu terbentuk dari Pestapora 2023, project pertama mereka bersama. Dari sana berlanjut ke EP Centil dan kolaborasi sebagai muse parfum Kitschy dalam project Girls Day Out. Bagi Jovi, Naykilla adalah artist yang menarik karena persona yang ia bangun sangat kuat dan distinctive, sesuatu yang menjadi kanvas yang menarik untuk diterjemahkan ke dalam styling.

"Pertama kali terpapar tuh, menurut aku she is such an interesting artist buat aku, buat landscape music Indonesia juga. Mau dari sisi musik ataupun persona yang dia bangun. Dan akhirnya, terhubung tuh ketika aku di-call sama timnya dia, kerja pertama kali untuk performance-nya dia di Pestapora 2023. Chemistry-nya ada, ternyata style kita bisa nyambung, berdiskusi bareng juga. Jadi, ada beberapa project yang akhirnya kita bisa kerjakan bareng."

Project terbaru yang ia sebut sebagai milestone berbeda adalah bersama no na, di mana ia dan Ivanka Wu dipercaya untuk menangani styling mereka bersama-sama. Sebuah project yang menurut Jovi adalah 'a whole different game' dan learning curve yang besar bagi keduanya.

5. Menurut Jovi, fashion itu tak ada batas gender

Project yang pernah di-handle Joviana Henza (instagram.com/__henza)

Sebagai stylist yang banyak menangani talent perempuan seperti grup no na, Naykilla dan Fathia Izzati dari Reality Club, Jovi punya pandangan yang jelas soal bagaimana fashion berperan dalam membentuk citra seorang perempuan di atas panggung. Ternyata jawabannya sederhana tapi kuat, tidak ada bedanya dengan laki-laki.

Bagi Jovi, tanggung jawab seorang stylist tetap sama terlepas dari gender talent yang ia tangani. Hal yang paling penting selalu kembali ke satu hal, bagaimana pakaian yang dipilih bisa membuat si performer merasa confident, comfortable, dan bebas mengekspresikan dirinya sebagai artist.

"Menurutku, styling buat siapa pun, mau perempuan, mau laki-laki, pada dasarnya tuh punya tanggung jawab yang sama. Kita as a stylist harus bisa nunjang performance mereka as a performer. Jadi buat aku, gender tuh bukan satu hal yang membatasi bagaimana seseorang harus di-styling atau dicitrakan. Yang paling penting balik lagi, gimana pakaian yang mereka pakai itu bisa membuat mereka feel confident, comfortable, dan tetap bisa ngekspresiin mereka as an artist," kata Jovi.

Dalam pandangan itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar soal pakaian. Bahwa fashion, di tangan seorang stylist yang tepat, bukan alat untuk mendefinisikan seseorang dari luar. Namun, justru untuk membantu mereka tampil lebih utuh sebagai diri mereka sendiri.

6. Where there's a will, there's a way

Joviana Henza (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Jovi adalah bukti hidup dari prinsip yang ia pegang. Tanpa background fashion dan jalur yang sudah tersedia, ia membangun kariernya dari nol dengan modal utama yang paling sederhana, yakni kemauan. Baginya, bakat memang bisa jadi titik awal. Namun yang benar-benar membawa seseorang ke suatu tempat adalah keyakinan bahwa apa yang ingin dicapai memang bisa dicapai.

Ia juga tidak pernah melihat tantangan sebagai sesuatu yang menghalangi. Setiap hambatan yang datang, selalu ia frame sebagai bahan pembelajaran, sebuah cara berpikir yang membuatnya terus tumbuh tanpa merasa perlu berhenti di satu titik dan merasa cukup.

"I always believe when there's a will, there's a way. Itu selalu aku terapkan dalam kehidupanku. Karena dengan profesiku sekarang, aku as a fashion stylist without any fashion background, it's a gift. But it's also a skill that I built by the times that I've already been doing this. Jadi kalau misalkan emang punya karunia talentanya, itu tuh belum cukup. Yang butuh tuh adalah malah keyakinan, mau untuk bisa dicapai di hal tertentu," pungkasnya.

Dari prinsip itu pula, ia memandang setiap tantangan bukan sebagai hurdle yang harus dihindari, tapi sebagai bagian alami dari proses bertumbuh. Karena bagi Jovi, stylist yang berhenti merasa tertantang adalah stylist yang berhenti belajar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article