Di dunia kerja, label “toxic leader” sering muncul ketika membahas gaya kepemimpinan yang dianggap kurang sehat. Menariknya, atasan perempuan kerap lebih cepat dikaitkan dengan label ini dibandingkan laki-laki. Entah karena dianggap terlalu emosional, terlalu perfeksionis, atau terlalu menuntut. Padahal, belum tentu semua penilaian tersebut benar atau objektif. Banyak faktor yang memengaruhi persepsi ini, termasuk budaya kerja dan cara pandang terhadap gender.
Penting untuk memahami bahwa kepemimpinan toxic tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh perilaku dan pola komunikasi. Namun, ada dinamika sosial yang membuat atasan perempuan lebih mudah disorot atau disalahpahami. Dengan memahami alasan di balik stigma ini, kita bisa melihat situasi dengan lebih adil dan tidak terburu-buru memberi label. Yuk, simak beberapa faktor yang sering membuat atasan perempuan dikaitkan dengan kepemimpinan yang dianggap toxic.
