Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Profil 8 Women 2026 Global Landscape Forum, Ada Retno Marsudi

Profil 8 Women 2026 Global Landscape Forum, Ada Retno Marsudi
8 Women with a New Vision for Earth 2026 GLF (instagram.com/uninindonesia)

Menjelang peringatan International Women's Day (IWD), Global Landscapes Forum (GLF) kembali menyoroti peran perempuan dalam menjaga masa depan planet ini. Melalui daftar 8 Women with a New Vision for Earth 2026, forum ini memperkenalkan delapan tokoh perempuan dari berbagai negara yang dinilai membawa gagasan segar sekaligus aksi nyata untuk menjawab ragam tantangan lingkungan.

Salah satu sosok perempuan yang masuk dalam daftar ini adalah Retno Marsudi. Diplomat Indonesia satu ini dikenal luas atas kiprahnya di panggung internasional, khususnya dalam isu kerja sama global dan keberlanjutan. Selain Retno Marsudi, ada juga beberapa tokoh lainnya seperti Billie Eilish, Francia Marquez, hingga Alessandra Yupanqui. Yuk, simak profil singkat delapan perempuan inspiratif ini!

1. Retno Marsudi

Retno Marsudi (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Retno Marsudi (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Retno Marsudi, atau Retno Lestari Priansari Marsudi, merupakan Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air terhitung sejak 1 November 2024. Ia juga merupakan Menteri Luar Negeri perempuan pertama sepanjang sejarah Indonesia sejak era kemerdekaan. Perempuan yang lahir di Semarang pada 27 November 1962 ini memiliki sepak terjang di Kemlu RI sejak 1986. Ia merupakan lulusan Hubungan Internasional di UGM pada 1985. Setelahnya, Retno melanjutkan perjalanannya sebagai staf di Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerja sama ASEAN di Kementerian Luar Negeri RI pada 1986. Setelah itu, kariernya terus meroket hingga ditunjuk menjadi Duta Besar RI di Norwegia (2005-2018) dan Duta Besar RI untuk Belanda (2012-2014).

Sepanjang kariernya, Retno Marsudi dikenal sebagai diplomat yang aktif mendorong kerja sama global, terutama dalam isu pembangunan berkelanjutan. Dalam masa jabatannya, Retno terlibat dalam berbagai forum internasional penting, termasuk memimpin keterlibatan Indonesia dalam 10th World Water Forum di Bali pada 2024 yang menghasilkan deklarasi menteri untuk mendorong praktik pengelolaan air yang lebih berkelanjutan. Kini, melalui perannya, ia terus memperjuangkan peningkatan ketahanan air dan akses sanitasi. Terutama bagi perempuan dan anak perempuan yang sering kali paling terdampak oleh krisis air di berbagai belahan dunia. Upaya tersebut menjadi penting mengingat masih banyak masyarakat global yang belum memiliki akses terhadap air minum bersih.

"Saya membayangkan dunia yang menempatkan agenda air dan perempuan di pusat kebijakan, program, dan tindakan. Karena memberdayakan perempuan akan mempercepat solusi atas persoalan air, dan membangun ketahanan serta keberlanjutan air berarti melindungi planet ini. Masa depan Bumi bergantung pada keduanya."

2. Billie Eilish

Billie Eilish (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Billie Eilish (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Billie Eilish Pirate O'Connell, atau dikenal dengan nama Billie Eilish, lahir di Los Angeles, California pada 18 Desember 2001. Nama Billie Eilish sebagai penyanyi dan penulis lagu mulai naik daun lewat single viral bertajuk Ocean Eyes (2016). Ia juga menjadi orang termuda yang memenangkan Grammy untuk album When We All Fall Asleep, Where Do We Go? (2019). Billie mulai menulis dan menyanyikan karya ciptaannya sejak 2011. Ia juga menjadi salah satu penyanyi berprestasi yang berhasil mencatatkan namanya di posisi #1 Billboard Hot 100 lewat lagu Bad Guy saat usianya masih 18 tahun.

Di luar karya musiknya, Billie Eilish juga dikenal sebagai figur publik yang aktif menyuarakan isu sosial dan lingkungan. Dalam tur Hit Me Hard and Soft Tour, ia bekerja sama dengan organisasi lingkungan Reverb untuk menghadirkan eco-station di setiap lokasi konser. Melalui inisiatif ini, para penggemar diajak terlibat dalam berbagai aksi nyata. Mulai dari mendaftar sebagai pemilih, berdonasi untuk mendapatkan botol minum pakai ulang, berkomitmen mencoba pola makan berbasis nabati, hingga terhubung dengan organisasi iklim lokal. Ia juga mendorong penggemarnya membawa perlengkapan luar ruang dan perlengkapan mandi untuk disumbangkan kepada orang yang mengalami tunawisma.

Lewat program Changemaker Project, Billie bahkan menyediakan opsi tiket khusus dengan harga lebih tinggi, di mana sebagian keuntungannya disalurkan ke berbagai organisasi seperti Tree Folks, Rural Action, dan Youth Climate Institute. Komitmennya terhadap isu keadilan lingkungan membuatnya menerima Environmental Justice Award di MLK Jr. Beloved Community Awards 2026.

"Jika kamu adalah seorang miliarder, apa alasan di balik kekayaanmu," katanya dalam ajang Wall Street Journal Music Innovator Awards (2025).

3. Francia Marquez

Francia Marquez (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Francia Marquez (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Francia Marquez, Wakil Presiden Kolombia, memiliki nama asli Francia Elena Márquez Mina. Ia lahir di Suarez, Kolombia, pada 1 Desember 1981. Sebelum menjabat sebagai Wakil Presiden Kolombia, ia merupakan Minister of Equality and Equity of Colombia (2023-2025). Ia terkenal sebagai pahlawan untuk masyarakat kecil, khususnya perempuan. Di masa mudanya, ia menghabiskan kehidupannya di Sungai Ovejas, sebelum akhirnya diusik oleh para penambang emas ilegal. Sehingga, di usianya yang sangat muda (13 tahun), ia mulai memperjuangkan hak tanah leluhurnya. Perjuangannya pun terus berlanjut hingga di usia dewasa, ia memutuskan untuk bersekolah di studi hukum.

Pada 2018, Francia mendapatkan penghargaan Lingkungan Goldman. Ia dianggap berhasil mengatasi seksisme, rasisme, dan korupsi untuk memimpin pawai perempuan. Semenjak saat itu, namanya semakin digaungkan dan diberdayakan sebagai perwakilan komunitas Afro-Kolombia di pemerintahan. Pada 2022, ia mencatat sejarah dengan terpilih sebagai wakil presiden perempuan Afro-Kolombia pertama, sekaligus terus menyuarakan isu hak perempuan, masyarakat adat, dan kelompok Afro-Kolombia di tingkat nasional maupun internasional.

"Ketika saya berbicara, saya berbicara dari tempat yang berlandaskan keadilan bagi komunitas adat, perempuan, dan alam itu sendiri," katanya, dalam video singkat untuk Goldman Environmental Prize. 

4. Alessandra Yupanqui

Alessandra Yupanqui (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Alessandra Yupanqui (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Alessandra Yupanqui merupakan seorang content creator, aktivis Andes, sekaligus pembicara TEDx yang dikenal aktif mengangkat isu budaya Indigenous dan keberlanjutan. Perempuan asal Peru ini juga merupakan co-founder dan editor-in-chief Sapiens.lat, sebuah media digital yang berfokus pada isu sustainability dengan perspektif masyarakat adat.

Lahir dan besar di Lima, Peru, Alessandra tumbuh di antara kehidupan urban dan akar budaya Andes keluarganya. Pengalaman itu membentuk perspektifnya dalam melihat budaya Indigenous bukan sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai budaya yang relevan untuk menjawab berbagai krisis saat ini. Lewat platform media sosial yang ia bangun, Yupanqui kini membagikan identitas serta pengetahuan budaya Quechua kepada ratusan ribu orang.

Gagasannya semakin menguat ketika ia sempat tinggal di komunitas Andes di Cusco saat wilayah tersebut mengalami kekeringan terparah dalam empat dekade. Pengalaman tersebut membuatnya semakin vokal menyoroti pentingnya meninggalkan cara pandang antroposentris dan mengakui ketergantungan manusia pada bumi. Berkat konsistensinya mengangkat isu budaya Indigenous dan keberlanjutan, Alessandra masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 untuk kategori social impact pada 2025.

"Menyadari bahwa kita bergantung pada bumi meruntuhkan kesombongan kita sebagai manusia."

5. Payal Arora

Payal Arora (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Payal Arora (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Payal Arora merupakan Profesor Inclusive AI Cultures di Utrecht University sekaligus co-founder Inclusive AI Lab. Ia dikenal sebagai digital anthropologist yang telah lebih dari dua dekade meneliti pengalaman pengguna teknologi di Global South untuk mendorong pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang lebih inklusif. Lahir di India, Arora sempat menghabiskan masa remajanya di San Francisco setelah sebelumnya tumbuh dengan berbagai eksperimen seni bernuansa politik di Kerala. Pengalaman hidup lintas budaya tersebut kemudian membentuk ketertarikannya pada relasi antara teknologi, masyarakat, dan budaya global.

Sebelum menekuni akademik, Arora pernah bekerja sebagai pelayan restoran hingga seniman street art, bahkan sempat menjadi art dealer di New York. Ketertarikannya pada riset kemudian membawanya menempuh pendidikan di Harvard University dan Columbia University.

Selain aktif di dunia akademik, Arora juga dikenal sebagai penulis produktif dengan lebih dari 100 artikel ilmiah serta sejumlah buku yang meraih penghargaan, termasuk The Next Billion Users dan From Pessimism to Promise: Lessons from the Global South on Designing Inclusive Tech. Atas kontribusinya dalam isu etika dan keberagaman dalam teknologi, ia masuk dalam daftar 100 Brilliant Women in AI Ethics 2025 serta menerima Women in AI Benelux Award 2025.

"Visi saya tentang Bumi dimulai dari pengakuan yang jujur, sebelum kita berbicara tentang masa depan yang ‘berpusat pada manusia’, kita harus terlebih dahulu menghadapi kenyataan bahwa begitu banyak manusia yang selama ini secara sistematis telah mengalami dehumanisasi."

6. Tariye Gbadgesin

Tariye Gbadgesin (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Tariye Gbadgesin (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Tariye Gbadegesin adalah salah satu pemimpin global yang mendorong solusi nyata dalam menghadapi krisis iklim. Ia saat ini menjabat sebagai CEO Climate Investment Funds (CIF), dana iklim senilai USD 13 miliar yang berinvestasi pada solusi berbasis alam, restorasi lahan, teknologi bersih, hingga transisi energi yang adil. Melalui perannya, Tariye mendorong berbagai inisiatif yang membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah membangun masa depan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

Ketertarikannya pada isu lingkungan berakar dari masa kecilnya di wilayah Delta Niger, Nigeria, tempat ia menyaksikan langsung bagaimana kerusakan lahan basah dan banjir dapat mengguncang kehidupan masyarakat. Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa ketahanan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga fondasi bagi stabilitas ekonomi dan sosial.

Selain mendorong transisi energi dan pembangunan infrastruktur yang tangguh, Tariye juga menekankan pentingnya peran masyarakat lokal dalam solusi iklim. CIF bahkan mengalokasikan sekitar USD 110 juta untuk mendukung solusi yang dipimpin oleh masyarakat adat dan komunitas lokal, termasuk proyek restorasi 1,7 juta hektare hutan di kawasan Zambezi.

"Kami menempatkan sumber daya langsung di tangan masyarakat adat dan komunitas lokal, karena kami percaya mereka yang paling memahami cara terbaik untuk beradaptasi."

7. Asisat Oshoala

Asisat Oshoala (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Asisat Oshoala (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Asisat Oshoala merupakan pesepak bola profesional asal Lagos, Nigeria, yang kini dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola perempuan Afrika. Kini, perempuan kelahiran 9 Oktober 1994 ini telah meraih berbagai gelar liga dan enam kali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika versi Confederation of African Football (CAF). Ia juga pernah memperkuat sejumlah klub besar sebelum akhirnya bermain untuk Al-Hilal di Saudi Women’s Premier League serta membela tim nasional Nigeria.

Perjalanan kariernya yang penuh tantangan membuat Asisat ingin membuka jalan bagi generasi berikutnya. Melalui Asisat Oshoala Academy yang ia dirikan, ia memberikan pelatihan sepak bola bagi para gadis muda, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan kepemimpinan dan keahlian praktis seperti CPR, menjahit, serta literasi digital. Program ini juga membantu mengatasi kesenjangan akses internet di sebagian wilayah Afrika Sub-Sahara dengan mengajarkan cara memanfaatkan teknologi secara tepat.

Lewat pendekatan yang menggabungkan olahraga, pendidikan, dan kegiatan sosial, Asisat berupaya memberdayakan perempuan muda agar berani bermimpi dan meraih potensi mereka. Ia juga aktif mendukung kampanye kesadaran lingkungan dan adaptasi iklim di Nigeria.

"Kami terlahir sebagai pemimpin dan pemenang. Apa pun yang kami lakukan setelah itu hanyalah tambahan," ujar Asisat dalam wawancaranya dengan CAF TV.

8. Kristel Quierrez

Kristel Quierrez (thinklandscape.globallandscapesforum.org)
Kristel Quierrez (thinklandscape.globallandscapesforum.org)

Kristel C. Quierrez merupakan pemimpin muda Indigenous dari komunitas Dumagat-Remontado di Maksa, General Nakar, Quezon, Filipina. Ia dikenal aktif dalam berbagai kampanye untuk mempertahankan wilayah adat serta memperjuangkan hak masyarakatnya. Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris ini menjadi salah satu dari sedikit orang di komunitasnya yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, dan ia bertekad menggunakan ilmunya untuk memberi kembali kepada masyarakat adat tempat ia berasal.

Kepeduliannya terhadap lingkungan dan warisan budaya mendorong Kristel untuk turut mendirikan organisasi pemuda adat pertama di wilayahnya, Katutubong Kabataang Umuugat sa Kabundukan ng Sierra Madre (UGBON). Organisasi ini berakar di beberapa wilayah adat di kawasan Sierra Madre bagian selatan, dengan misi memberdayakan generasi muda adat untuk melindungi ekosistem serta menjaga pengetahuan dan tradisi leluhur.

Sebagai guru, ibu, sekaligus pemimpin muda Indigenous yang juga dikenal dengan nama adat Boniknik, Kristel terus mendorong generasi muda untuk menjaga budaya dan alam mereka. Melalui kegiatan seperti penanaman pohon asli, pengelolaan pembibitan tanaman, serta penguatan pengetahuan adat. Ia terus berupaya memastikan bahwa identitas dan kearifan komunitasnya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

"Penting juga bagi kita untuk ikut terlibat dan berdiri bersama dalam upaya pelestarian lingkungan di tingkat global. Saya mendukung berbagai tujuan yang mendorong pembangunan berkelanjutan serta tindakan untuk menghadapi perubahan iklim, tentu dengan tetap membawa perspektif dan pengalaman komunitas adat."

Itu dia delapan profil singkat dari 8 Women with a New Vision for Earth 2026 GLF. Masing-masing berkiprah di dunia yang berbeda, namun dengan satu tujuan, yakni membentuk masa depan bumi menjadi lebih baik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us