Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sisi Gelap Parasosial: Saat Fans Jadi Enabler Kekerasan Seksual
ilustrasi cyber bullying (pexels.com/Sora Shimazaki)
  • Hubungan parasosial yang sangat emosional dapat memicu loyalitas berlebihan, membuat penggemar sulit berpikir kritis ketika idola terseret isu kekerasan seksual.
  • Penggemar dapat membalikkan narasi dengan menyalahkan, merundung, melakukan doxxing, atau meneror korban, sehingga memicu viktimisasi sekunder demi melindungi citra idola.
  • Echo chamber, halo effect, dan ketimpangan kuasa figur publik memperkuat pembelaan terhadap idola serta berpotensi membungkam kesaksian korban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hubungan parasosial punya dampak positif selama seseorang bisa menetapkan batasan. Dengan hubungan tersebut, barangkali kamu sebagai penggemar jadi termotivasi menjalani aktivitas sehari-hari. Keberadaan idola membuat kamu semangat dan antusias. Namun, di balik dukungan emosional serta kekaguman yang muncul dalam hubungan parasosial, tersimpan pula sisi gelap yang membahayakan. Sebab, hubungan satu arah ini bisa mengubah seorang penggemar dari pengagum setia menjadi pembela mati-matian yang tanpa sadar mewajarkan perilaku menyimpang.

Salah satu kasus yang memprihatinkan dari fenomena ini ialah saat publik figur atau idola terjerat isu kekerasan seksual, tetapi penggemar masih tetap mendukung idola mereka habis-habisan. Dengan kata lain, alih-alih menuntut keadilan bagi pihak yang terluka, para penggemar justru menutup mata dan telinga, berbalik menyerang korban demi menjaga citra sang idola. Lantas, bagaimana fenomena semacam ini bisa terjadi?

1. Hubungan parasosial menimbulkan tingkat loyalitas yang tinggi

ilustrasi orang memegang ponsel (pexels.com/George Dolgikh)

Artikel penelitian berjudul “Fenomena Parasosial dan Ketertarikan Emosional Penggemar SEVENTEEN di Weverse” karya Lecia Fernanda Xiang dan Lusia Savitri Setyo Utami yang dipublikasikan di Jurnal Koneksi, menjelaskan bahwa hubungan parasosial yang diiringi dengan ketertarikan emosional bisa memunculkan tingkat loyalitas yang tinggi. Kondisi itu memungkinkan penggemar mengikuti serta memantau aktivitas sang idola.

Mereka juga punya loyalitas emosional. Mereka turut merasakan apa yang dirasakan oleh idolanya, seperti halnya ikut sedih ketika sang idola mengalami hal buruk. Nah, ikatan emosional yang intens ini bisa membuat seseorang gak mampu berpikir kritis. Saat sang idola terjerat kasus kekerasan seksual, mereka terkesan mengabaikan informasi tersebut atau bahkan menormalisasikannya.

2. Hubungan parasosial memungkinkan seseorang menempatkan korban kekerasan sebagai pihak bersalah

ilustrasi orang menatap ke depan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Saat dihadapkan pada kesaksian kekerasan seksual yang melibatkan idola mereka, penggemar dengan obsesi parasosial berlebihan kerap membalikkan narasi. Alih-alih mendukung korban mendapatkan keadilan, mereka justru menyerang dengan menuding korban hanya mencari perhatian, sengaja menjatuhkan karier sang idola, atau berbohong demi keuntungan pribadi.

Tindakan ini melangkah lebih jauh ketika penggemar melakukan perundungan massal di media sosial, menyebarkan data pribadi (doxxing), hingga mengirimkan teror. Dampaknya, korban mengalami secondary victimization atau viktimisasi sekunder, sebuah kondisi di mana korban trauma kembali akibat respons negatif, intimidasi, dan victim blaming dari lingkungan sekitar. Dalam konteks ini, para enabler membungkam suara korban demi memastikan citra dan karier sang idola tetap aman.

Fenomena ini menjadi bukti betapa bertambah beratnya beban yang harus ditanggung korban ketika sebuah loyalitas berubah menjadi benteng perlindungan bagi pelaku kejahatan. Hubungan parasosial yang semula menjadi sumber motivasi, berubah menjadi alat untuk melanggengkan kekerasan jika tidak dibatasi oleh empati dan akal sehat.

3. Efek echo chamber di media sosial

ilustrasi orang sedang mengetik (pexels.com/cottonbro studio)

Melansir laman Binus University, echo chamber adalah suatu fenomena ketika orang-orang hanya mau menerima informasi yang sejalan dengan pendapat maupun perspektifnya sendiri. Orang-orang yang terjebak echo chamber biasanya sulit untuk diajak diskusi mengenai suatu hal yang rumit atau hal yang bertentangan denagn pandangannya.

Dalam konteks hubungan parasosial dan kasus kekerasan seksual, efek echo chamber membuat para penggemar terjebak dalam lingkungan yang dibuat oleh kelompok mereka sendiri. Dalam kelompok itu, mereka menolak kesaksian korban, bukti-bukti valid, atau informasi lainnya yang dinilai merugikan sang idola. Sebab, mereka punya pendirian kuat bahwa idola mereka gak salah.

4. Adanya halo effect yang memunculkan keyakinan akan kesempurnaan

ilustrasi orang bermain ponsel (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Selain karena adanya efek echo chamber, fenomena ini juga bisa dipengaruhi oleh adanya halo effect. Halo effect adalah kecenderungan seseorang menilai sesuatu secara keseluruhan berdasarkan kesan awal yang positif. Melansir laman Binus University, dalam media sosial, orang yang punya penampilan menarik atau pengikut yang banyak kerap dianggap lebih pintar, terpercaya, dan kompeten. Akibatnya, audiens cenderung menerima informasi dari influencer tanpa memverifikasinya lebih lanjut karena sudah percaya dengan influencer itu.

Hal ini juga berlaku dalam relasi antara penggemar dan idola. Saat publik figur punya citra positif, para penggemar otomatis meyakini karakter maupun moralitas sang idola. Nah, ketika laporan kekerasan seksual itu muncul, penggemar pun menganggap bahwa kejahatan semacam itu gak mungkin dilakukan oleh orang sebaik idola mereka, atau di kasus tertentu mereka menganggap bahwa kejahatan yang dilakukan sang idola merupakan kesalahan kecil yang bisa dimaafkan, atau bahkan yang lebih parah lagi mereka mewajarkan kejahatan itu.

5. Ketimpangan relasi kuasa yang makin memosisikan korban dalam bahaya

ilustrasi korban bullying (pexels.com/www.kaboompics.com)

Di luar faktor psikologi penggemar, fenomena ini tidak lepas dari ketimpangan relasi kuasa (power imbalance). Seorang figur publik memiliki modal sosial, jaringan finansial, panggung media, dan basis massa jutaan orang. Di sisi lain, korban yang bersuara sering kali berada dalam posisi yang sangat rentan dan berjuang seorang diri. Ketika narasi pembelaan yang dirancang oleh manajemen idola berpadu dengan militansi enabler, suara korban dengan mudah ditenggelamkan dan dibungkam.

Pertarungan ini bukanlah persoalan "idola melawan tuduhan", melainkan figur berkuasa bersama jutaan pengikutnya melawan seorang korban. Di sinilah peran penting kita sebagai publik untuk tidak menjadi bagian dari rantai kekerasan tersebut.

Saatnya kita berhenti menoleransi pelaku kekerasan seksual, seterkenal apa pun sosoknya. Mari bangun ruang aman dengan selalu berpihak dan mempercayai kesaksian korban (believe the victim), menolak ikut dalam gerakan doxxing atau perundungan, serta aktif melaporkan akun-akun yang menyebarkan teror. Loyalitas kepada idola tak boleh pernah menggantikan rasa kemanusiaan dan empati kita pada korban.

Kekerasan seksual adalah tindakan kriminal dan pelanggaran hak asasi manusia yang berdampak berat pada mental korban. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami kekerasan seksual, kamu tidak sendirian dan bantuan tersedia.

Komnas Perempuan: 021-3903963 / Instagram @komnasperempuan

SAPA 129 (KemenPPPA): Hot Line 129 / WhatsApp 08111-129-129

LBH APIK Indonesia: Kontak pengaduan daerah setempat (lbhapik.or.id)

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article