Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
20 Permainan Tradisional Sulawesi Selatan, Seru dan Unik!
ilustrasi anak berlari saat playdate (freepik.com/jcomp)

  • Sebanyak 20 permainan tradisional Sulawesi Selatan diwariskan lintas generasi, dari Ma'bom, Enggo-enggo, hingga Lambasena, sebagai aktivitas bermain sebelum gawai mendominasi.

  • Beragam permainan mengasah ketangkasan, keseimbangan, strategi, fokus, dan kekompakan melalui alat sederhana seperti tempurung kelapa, bambu, kelereng, rotan, sarung, serta kayu.

  • Sejumlah tradisi juga memuat unsur seni, adat, dan sejarah: Ma'longgak terkait ritual penangkal penyakit, Mappadendang menjadi ungkapan syukur panen, sedangkan Gandrang Bulo menyindir penjajahan Belanda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Buat kamu yang tumbuh besar di Sulawesi Selatan, deretan permainan tradisional ini tentu menyimpan memori masa kecil yang manis sebelum gawai merajalela seperti sekarang. Diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, permainan tradisional ini tidak hanya seru untuk dimainkan bersama teman, tetapi juga melatih ketangkasan, mengasah strategi, bahkan dulunya ada yang menjadi bagian penting dari upacara adat, lho!

Penasaran apa saja? Ini dia deretan permainan tradisional khas Sulawesi Selatan yang dijamin bikin kangen masa kecil.

1. Ma'bom atau Ma'benteng

lustrasi anak-anak berlari (unsplash.com/Hudson Graves)

Mirip dengan permainan bentengan di daerah lain, game beregu ini biasanya digandrungi anak laki-laki. Tiap tim yang beranggotakan minimal empat orang harus saling menjaga "benteng" (batu atau tiang) dan wilayah teritorialnya. Butuh strategi jitu dan lari kencang supaya tidak tersentuh lawan, atau kamu harus rela ditahan sampai teman satu tim datang menyelamatkan!

2. Enggo-enggo

ilustrasi anak berlari (pexels.com/jonas mohamadi)

Permainan tradisional khas Sulsel ini mirip dengan petak umpet. Bedanya, si penjaga wajib menutup mata sambil berhitung sampai 10 sebelum mencari teman-temannya yang bersembunyi.

Saat berhasil menemukan seseorang, penjaga harus meneriakkan kata "enggo". Orang pertama yang ketahuan bakal gantian jadi penjaga di ronde berikutnya.

3. Ma'santo

ilustrasi anak-anak Indonesia (unsplash.com/@yansphotobook)

Permainan beregu beranggotakan 2–6 orang ini dilakukan di lapangan terbuka dengan area petak persegi panjang ukuran 3x10 meter. Memanfaatkan batu pipih atau pecahan keramik sebagai sasaran, kelompok pelempar (Amba') harus berhati-hati agar tidak melewati garis hukuman, sementara tim lawan bersiap menyusun kembali batu yang dirobohkan.

4. Magalle

ilustrasi anak berlari (pixabay.com/ignartonosbg)

Magalle merupakan permainan balap lari ini menggunakan tempurung kelapa kering yang dibelah dua, dilubangi tengahnya, dan diikat tali tambang sepanjang 1,5 meter. Tempurung dipakai sebagai alas kaki dengan cara menjepit talinya di antara ibu jari dan telunjuk kaki, lalu beradu cepat sampai garis finish tanpa jatuh.

5. Makkaddaro

Ilustrasi anak-anak berlari membawa bendera indonesia (Pexel.com/Ache Surya)

Mirip dengan Magalle, permainan kelompok ini menggunakan tempurung kelapa (kaddaro) dengan lima level tantangan yang makin gregetan. Mulai dari menendang kaddaro ke dalam lingkaran, melempar lalu menendangnya, menjepitnya di antara jempol kaki sambil melompat, menaruhnya di atas kepala, hingga menjatuhkannya tepat dari siku ke arah sasaran!

6. Maccukke

ilustrasi anak Indonesia (pexels.com/ anggit priyandani)

Permainan kelompok ini memanfaatkan dua bilah kayu atau rotan sederhana. Pertama, indo cukke (pengungkit sepanjang 30 cm) dan anak cukke (kayu pemukul yang lebih pendek 1/3-nya). Di atas lubang tanah yang bersih, pemain mengungkit dan memukul anak cukke sejauh mungkin. Tim penjaga bisa mencetak poin jika berhasil menangkap dan melemparkan balik kayu tersebut hingga mengenai pemain lawan.

7. Madende

Ilustrasi anak-anak Indonesia (unsplash.com/setengah limasore)

Dikenal luas di daerah lain sebagai permainan engklek, madende umumnya dimainkan 4 hingga 5 anak perempuan. Pemain harus melompat lincah menggunakan satu atau dua kaki di atas petak-petak tanah yang digambar. Semakin banyak petak yang berhasil dikuasai, dialah yang keluar sebagai juara.

8. Ma'longgak

ilustrasi anak bermain egrang (pexels.com/Dio Alif Utomo)

Permainan ini menggunakan egrang bambu panjang yang dinamai dari longgak (makhluk halus berbadan tinggi). Selain untuk melatih keseimbangan dengan berdiri di atas pijakan bambu setinggi 30 cm atau lebih, dulunya permainan tradisional masyarakat Bugis ini juga lekat dengan nilai mistis-religius sebagai ritual penangkal penyakit.

9. Baguli atau Ma'goli

Beberapa buah gundu (pixabay.com/Couleur)

Orang lokal menyebut permainan kelereng (gundu) ini dengan baguli atau mago'li. Terdapat empat jenis arena seru yang bisa dipilih, mulai dari Baguli Kil-kil (lubang kecil), Baguli Ulu-ulu (garis panjang dengan lubang), Baguli Puntu (bidang persegi bergaris tengah), hingga Baguli Rutta (area lingkaran). Pemain menjentikkan kelerengnya untuk membidik dan mengeluarkan kelereng lawan dari arena demi memilikinya.

10. Ma'raga

ilustrasi anak-anak bermain bola di lapangan (pixabay.com/sasint)

Ma'raga merupakan permainan adu ketangkasan khas Bugis yang memadukan unsur olahraga dan seni. Memakai bola anyaman rotan yang lebih tebal dari takraw, 5–15 orang pria dari usia remaja hingga dewasa. Bola harus dijaga agar tidak menyentuh tanah hanya dengan menggunakan kaki, bahu, atau anggota badan lainnya tanpa boleh dipegang tangan.

11. Mangasing (Asing-asing)

ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Chorn Travit)

Permainan tradisi khas Sulawesi Selatan ini dimainkan secara berkelompok yang mengandalkan ketangkasan dan strategi. Terdiri dari tim penjaga dan penyerang di mana setiap penjaga harus mempertahankan area petak masing-masing.

12. Maggasing

ilustrasi gasing (pixabay.com/hasnadi)

Permainan tradisional Maggasing asal Bugis ini biasanya dimainkan oleh dua hingga enam laki-laki, baik dari kalangan anak-anak, remaja, maupun dewasa. Permainan ini dilengkapi dengan seutas tali dari serat kulit kayu yang pintalannya dibuat semakin mengecil dari bagian atas ke bawah.

Pada ujung atas tali tersebut terdapat lingkaran berbentuk cincin yang ukurannya selalu disesuaikan dengan lingkar jari tengah masing-masing pemainnya. Dalam praktiknya, permainan Maggasing mengutamakan bentuk, keindahan, serta durasi putaran gasing. Untuk jadi pemenang, kamu harus dapat mengeluarkan seluruh gasing lawan dari dalam area lingkaran permainan.

13. Mappadendang

ilustrasi anak-anak tertawa bersama (unsplash.com/Robert Collins)

Mappadendang merupakan sebuah kesenian permainan irama menggunakan alu dan lesung yang umumnya dimainkan oleh enam orang perempuan dan empat orang laki-laki. Praktik menumbuk lesung ini dipimpin oleh dua orang berpengalaman yang menempati bagian ulu atau kepala lesung untuk mengatur tempo dan ritme menggunakan alu berukuran pendek.

Sambil memainkan alat tersebut, mereka juga bernyanyi sebagai bentuk ungkapan syukur atas limpahan hasil panen. Irama serta nada yang dinamis dan bersemangat ini turut menghidupkan suasana permainan.

14. Gandrang Bulo

ilustrasi anak-anak menari di sekolah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Gandrang Bulo merupakan sebuah seni tarian tradisional yang di dalamnya sarat akan unsur permainan yang seru, seperti buwang-buwang passapu, takanja-kanjarang, hingga biko-biko.

Dalam praktiknya, para penari tampil secara jenaka sambil saling melempar passapu (ikat kepala berbentuk segitiga khas Bugis). Sementara pihak lawan berusaha merebutnya, dengan konsekuensi harus berperan sebagai kuda jika gagal mendapatkannya. Di balik unsur hiburannya, tarian ini dulunya diciptakan sebagai bentuk sindiran terhadap masa penjajahan Belanda.

15. Makkandecci

ilustrasi anak bermain di luar (pexels.com/Luna Lovegood)

Makkandecci merupakan sebuah permainan tradisional yang sederhana namun efektif untuk melatih fokus para pemainnya. Dalam praktiknya, permainan ini melibatkan dua orang peserta yang masing-masing menyiapkan lima buah biji sirsak atau bisa juga diganti dengan batu-batu kecil jika biji sirsak tidak tersedia.

Cara memainkannya diawali dengan melempar kelima biji tersebut secara perlahan ke atas lantai. Selanjutnya, pemain mengambil dan menjepit salah satu biji di antara jari telunjuk tangan kiri dan kanan—mirip seperti teknik dalam permainan Baguli—lalu mengarahkannya ke tangan satunya untuk dimasukkan ke dalam genggaman.

16. Gebo

ilustrasi anak-anak bermain bola di lapangan (pixabay.com/sasint)

Gebo merupakan salah satu permainan tradisional suku Bugis yang tergolong cukup ekstrem dan berisiko menimbulkan rasa sakit. Pasalnya, inti dari permainan ini adalah melemparkan bola kasti secara langsung ke arah badan pemain yang menjadi target.

Dalam praktiknya, permainan ini tidak memiliki aturan yang mengikat. Siapa saja yang berhasil menguasai atau mendapatkan bola kasti bebas membidik dan melempar target mana pun yang mereka inginkan. Umumnya, aktivitas seru ini dilangsungkan di lapangan terbuka atau area luas yang memadai.

17. Motoro Patung

ilustrasi anak bermain bersama (pepxels.com/Thirdman)

Motoro Patung merupakan salah satu permainan tradisional Sulawesi Selatan warisan nenek moyang yang masih dijaga kelestariannya hingga kini. Mainan ini memiliki rangka utama yang terbuat dari bambu serta dilengkapi dengan empat buah roda atau ban yang seluruhnya dibuat dari kayu.

Cara memainkannya dilakukan secara manual dengan membawa wahana tersebut ke area yang tinggi atau kawasan perbukitan, lalu meluncurkannya turun ke arah bawah.

18. Bise'-bise'ang

ilustrasi anak bahagia (unsplash.com/MI PHAM)

Bise'-bise'ang adalah salah satu permainan tradisional Bugis yang menuntut tingkat kekompakan tim yang tinggi untuk bergerak dari titik awal menuju garis akhir. Uniknya, sarung digunakan sebagai pengganti kendaraan yang merepresentasikan perahu nelayan saat mengarungi lautan.

Pada mulanya, satu helai sarung hanya dimainkan oleh satu orang saja, namun seiring berjalannya waktu, permainan ini dimainkan oleh dua orang secara berhadap-hadapan yang harus menyelaraskan gerakan kaki mereka agar sarung dapat berjalan.

19. Bu'uh Rawe

Ilustrasi bermain bersama teman-teman (Pexels.com/RODNAE Productions)

Bu'uh Rawe merupakan salah satu permainan tradisional yang konsepnya menyerupai sepak bola, namun dengan keunikan tersendiri di mana bola tidak ditendang menggunakan kaki, melainkan dipukul menggunakan tongkat yang mirip seperti dayung. Permainan ini menggunakan gawang berukuran mini dengan panjang satu meter dan tinggi setengah meter.

Aturan mainnya mirip seperti sepak bola pada umumnya di mana kedua tim saling bersaing memasukkan bola ke gawang lawan, tetapi dengan tantangan tambahan yang unik yaitu setiap pemain berpasangan dengan punggung yang saling menempel saat bermain.

20. Lambasena (Lompat Karet)

ilustrasi anak bermain lompat tali (pexels.com/RDNE Stock project)

Lambasena merupakan permainan melompati susunan karet gelang yang disambung. Dimainkan minimal tiga orang, di mana dua orang bertugas memegang ujung karet sementara pemain lain melompatinya dengan ketinggian yang terus bertambah dari mata kaki hingga kepala.

Itulah deretan permainan tradisional khas Sulawesi Selatan yang penuh akan makna, strategi, dan nilai kebersamaan. Kalau kamu sendiri, permainan nomor berapa yang paling bikin rindu dan ingin dimainkan kembali?

Curated For You

Editorial Team

Related Article