Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
sikap pria yang sedang berdiam diri
ilustrasi sikap pria yang sedang berdiam diri (pexels.com/cottonbro studio))

Intinya sih...

  • Takut ucapannya justru memperkeruh keadaan.

  • Tidak terbiasa mengekspresikan emosi dengan kata.

  • Sedang memproses masalah secara internal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam hubungan, diam sering dianggap sebagai tanda tidak peduli atau menghindar. Padahal bagi banyak pria, diam justru menjadi respons otomatis saat masalah muncul. Bukan karena tidak ingin menyelesaikan, melainkan karena mereka sedang bergulat dengan cara memahami dan mengelola emosinya sendiri.

Pilihan untuk diam ini sering disalahartikan, lalu memicu konflik lanjutan. Untuk memahami lebih dalam, berikut lima alasan umum mengapa pria cenderung memilih diam saat ada masalah dalam hubungan. Simak penjelasannya berikut ini, yuk!

1. Takut ucapannya justru memperkeruh keadaan

ilustrasi seorang pria yang berkomunikasi dengan pasangannya (pexels.com/Mikhail Nilov)

Banyak pria memilih diam karena khawatir kata-katanya akan memperburuk situasi. Saat emosi memuncak, mereka merasa tidak mampu menyusun kalimat yang tepat tanpa terdengar kasar, defensif, atau menyakitkan.

Diam dianggap sebagai cara paling aman untuk mencegah konflik membesar. Mereka berharap dengan menenangkan diri terlebih dulu, pembicaraan nanti bisa dilakukan dengan kepala lebih dingin.

2. Tidak terbiasa mengekspresikan emosi dengan kata

ilustrasi seorang pria yang duduk di bangku taman (pexels.com/Keira Burton)

Sebagian pria tumbuh dengan minim ruang untuk membicarakan perasaan. Sejak kecil, emosi sering diarahkan untuk disimpan atau diselesaikan sendiri, bukan diungkapkan.

Akibatnya, saat masalah muncul dalam hubungan, mereka kesulitan menerjemahkan perasaan menjadi kata-kata. Diam menjadi bahasa sementara ketika kosakata emosional terasa terbatas.

3. Sedang memproses masalah secara internal

ilustrasi seorang pria yang sedang kelelahan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Berbeda dengan banyak perempuan yang cenderung memproses emosi dengan berbicara, pria sering memprosesnya di dalam kepala. Mereka butuh waktu untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan dan apa akar masalahnya.

Diam bukan berarti tidak peduli, melainkan tanda bahwa ia sedang berpikir. Namun tanpa komunikasi, proses internal ini kerap disalahpahami sebagai sikap dingin atau menjauh.

4. Takut disalahkan atau tidak didengar

ilustrasi seorang pria yang sedang berkomunikasi dengan pasangannya (pexels.com/Alena Darmel)

Pengalaman masa lalu dalam konflik membuat sebagian pria memilih diam karena merasa setiap penjelasan akan berujung pada kesalahan yang diarahkan padanya. Mereka merasa tidak benar-benar didengar, hanya ditunggu untuk dihakimi.

Diam menjadi bentuk perlindungan diri. Dengan tidak bicara, mereka setidaknya menghindari rasa frustrasi karena merasa pendapatnya tidak punya ruang.

5. Ingin menjaga hubungan tetap utuh

ilustrasi seorang pria yang ingin menjaga keharmonisan hubungan (pexels.com/cottonbro studio)

Ironisnya, diam sering dipilih karena pria ingin menjaga hubungan. Mereka takut pertengkaran akan melukai pasangan atau merusak ikatan yang sudah dibangun.

Namun niat baik ini bisa menjadi bumerang. Tanpa komunikasi, masalah tidak benar-benar selesai dan justru berubah menjadi jarak emosional yang perlahan membesar.

Diam adalah bahasa yang sering digunakan pria saat mereka tidak tahu harus berkata apa, bukan saat mereka tidak peduli. Memahami alasan di balik sikap ini membantu pasangan melihat konflik dengan sudut pandang yang lebih empatik.

Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tapi tentang bagaimana dua orang belajar saling memahami cara masing-masing menghadapi masalah. Dari situlah dialog yang lebih dewasa dan menenangkan bisa tumbuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team