Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pasangan yang sedang berjalan bersama
ilustrasi pasangan yang sedang berjalan bersama (pexels.com/Budgeron Bach)

Intinya sih...

  • Kehadiran emosional lebih dari sekadar aktivitas, tanyakan perasaan pasangan dan luangkan waktu untuk menghubunginya.

  • Validasi emosi pasangan dengan respon yang sehat, jangan buru-buru menghakimi dan belajar mendengarkan dengan empati.

  • Kejelasan arah dan tujuan hubungan sebagai bentuk tanggung jawab dasar, hargai batasan personal pasangan, dan dewasa dalam meminta maaf.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam hubungan romansa, terdapat tindakan minimal yang diharapkan untuk keharmonisan hubungan. Hal ini disebut bare minimum. Sebab, seringkali lelaki berpikir bahwa membuat perempuan bahagia itu harus dengan makan malam mewah, hadiah mahal, kejutan manis, atau posting foto couple goals di Instagram. 

Padahal hubungan yang sehat itu tidak selalu harus ditopang oleh momen-momen besar. Namun, justru diperkuat oleh hal-hal kecil yang konsisten. Sayangnya, hal kecil inilah yang sering dilupakan. Berikut adalah enam jenis bare minimum untuk jadi gentleman yang bikin hubungan romansa minim drama.

1. Kehadiran untuk menanyakan perasaan, bukan hanya menanyakan "sudah makan?"

ilustrasi pasangan yang sedang duduk di depan campervan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Daripada terlalu sering menanyakan “udah makan belum?” di setiap jadwal makan lebih baik di ujung hari ajak pasangan makan bersama. Lalu, coba tanyakan perasaan pasangan tentang hari ini seperti "how's your day?" Kalaupun tidak bisa mengajak makan bersama, luangkan waktu di malam hari untuk menghubunginya. 

Sebagai pasangan, tugasmu bukan cuma jadi pengingat jadwal makan. Apalagi di hubungan dewasa yang pasti sudah tahu kapan harus makan. Kamu juga perlu jadi orang yang peduli dengan perasaannya, bukan cuma aktivitasnya. Hal ini bukan effort tambahan, tetapi bentuk kehadiran emosional dan itu bare minimum.

2. Kepekaan untuk validasi emosi dan tidak buru-buru menghakimi

ilustrasi pasangan yang sedang berbincang (pexels.com/Anna Pou)

Jika perempuan menangis karena suatu hal, jangan sampai responmu seperti ini: "apa sih kamu tuh gitu aja nangis”. Lalu, jika mereka mulai bercerita tentang perasaannya, jangan sampai kamu menjawab: “ya udah sih, biasa aja gausah lebay!"

Kalau kamu masih begitu, mulai sekarang hentikan! Respon yang menurutmu biasa aja bisa berdampak luar biasa ke psikologis pasanganmu. Yuk belajar memberikan respon yang sehat seperti: “pasti sedih banget ya, aku paham sih. Terus gimana mau cerita lebih banyak lagi ga? Aku dengerin.”

Jangan buru-buru menghakimi emosi pasangan karena kamu tidak benar-benar tahu seberat apa bebannya. Toh, akan ada saatnya kamu dimintai saran dan pendapat jika emosinya sudah mereda. Terlebih lagi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang langgeng adalah hubungan di mana dua orang saling memvalidasi, bukan meluruskan perasaan. 

3. Memiliki kejelasan arah dan tujuan hubungan, bukan sekadar menjadikannya sebagai pengisi kekosongan

ilustrasi pasangan yang menikah (pexels.com/Евгений Шухман)

Hubungan yang dewasa dan sehat dibangun dengan kejelasan dari awal. Baik itu tujuan di masa depan, kejelasan status, hal-hal positif yang dilakukan dan dirancang, serta banyak hal lainnya. Sebab, salah satu hal yang paling melelahkan bagi perempuan dalam hubungan adalah: harus terus nebak. Menebak apakah kamu benar-benar serius atau tidak.

Lelaki yang sehat secara emosional itu berani bilang niatnya di awal, konsisten dengan ucapannya, memberi kejelasan tanpa harus ditanya, dan membuktikan cintanya. Bukan sekadar setiap hari memberika kata-kata manis, tetapi waktu ditanya "arahnya kemana?" justru menjawab "kita jalanin dulu aja". Ingat ya bro, kejelasan itu tanggung jawab dasar sebagai lelaki yang gentle.

4. Mahir dalam menghargai batasan personal perempuan

ilustrasi pasangan yang sedang mengobrol (pexels.com/Katerina Holmes)

Kalau kamu masih terlalu posesif dan protektif dengan melarang-larang perempuan, lebih baik kurangi tindakan ini. Apalagi jika kamu masih suka melarang pasanganmu punya me time, melarang pergi dengan rekan kerja lelaki padahal penting, dan semacamnya. Rasa sayang itu tidak memberi rantai yang mengikat, tetapi kebebasan yang melindungi. 

Mungkin jika kamu melakukan hal itu, kamu berhak mendapat predikat lelaki childish dan egois. Jangan berharap lebih pasanganmu akan tahan dan sabar. Sebab, respek terhadap batasan personal ini jadi bentuk bare minimum yang harus kamu lakukan. 

5. Dewasa secara emosional untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan

ilustrasi pasangan yang harmonis (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Konflik bisa menjadi penguat hubungan dan penghancur hubungan. Semua tergantung cara kedua pihak dalam menghadapinya. Sebagai lelaki, kamu perlu menginisiasi dan mengurangi gengsi untuk komunikasi saat ada konflik. 

Jika kamu melakukan kesalahan, jangan ragu untuk melakukan komunikasi terbuka dan meminta maaf di awal. Perempuan hanya butuh kesadaranmu untuk mengakui kesalahan dan tindakanmu untuk tidak mengulanginya lagi.

Kamu akan menjadi lelaki keren jika bisa berbicara: “Aku tahu aku salah. Aku bakal perbaiki. Maaf karena udah nyakitin kamu" . Sederhana, tetapi jarang yang melakukan bare minimum ini.

6. Gemar memberikan apresiasi tanpa rasa gengsi dan insecure

ilustrasi pasangan yang sedang ngedate (pexels.com/Jep Gambardella)

Kunci hubungan sehat dan seimbang adalah menurunkan gengsi dan jauhi rasa insecure. Jika pasanganmu meraih sesuatu yang hebat, berbanggalah dan berikan apresiasi. Bukannya merasa insecure dan tidak layak mendampinginya karena kamu tidak sehebat dia. Energimu yang seperti itu akan memengaruhi dinamika hubungan.

Ketika dia berhasil melewati hari yang berat atau saat dia cerita soal pencapaiannya, jadilah manusia spesial yang memberikannya selamat dan ucapan bangga. Sederhana, tetapi tidak semua lelaki bisa karena gengsinya. Padahal kamu akan terlihat dewasa jika menjadi lelaki yang bisa jadi penggemar nomor satu pasangannga. Bukan saingan diam-diam, bukan tukang kritik tanpa support, tetapi justru mood booster yang bikin dia shining brighter.

Sejauh ini, apakah enam bare minimum tadi sudah kamu lakukan ke pasangan? Kalau belum, jangan heran kalau pasanganmu merasa lelah karena tidak merasakan cinta yang tulus, utuh, dan sederhana. Sekarang, sudah waktunya melakukan bare minimum tadi bukan buat dipuji, tapi karena kamu mengerti bahwa itu kunci hubungan yang minim drama, sehat, dan tahan lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team