ilustrasi ayah gendong anak (pexels.com/MART PRODUCTION)
Anggapan bahwa pria harus selalu kuat dapat membuat sebagian ayah memilih memendam masalah setelah kelahiran anak. Padahal, meminta bantuan ketika mengalami tekanan emosional bukan berarti gagal menjalankan peran sebagai ayah. Dukungan dari pasangan, keluarga, teman, maupun tenaga profesional dapat membantu seseorang menghadapi perubahan besar tersebut.
Jika muncul perasaan sedih atau cemas yang menetap, menarik diri dari orang terdekat, kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain, bantuan profesional perlu dicari segera. Depresi pascapersalinan dapat ditangani melalui pendekatan seperti psikoterapi dan, bila diperlukan, pengobatan sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Menjadi ayah merupakan perubahan besar yang tidak hanya berdampak pada rutinitas, tetapi juga kondisi emosional seseorang. Pria memang dapat mengalami postpartum blues dan depresi pascapersalinan, meskipun penelitian mengenai kondisi tersebut pada ayah masih terus berkembang. Karena itu, perubahan emosi setelah kelahiran anak sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai tanda kelemahan.
Menjaga kesehatan mental ayah juga penting bagi kehidupan keluarga secara keseluruhan. Mengenali perubahan sejak awal, berbicara dengan orang yang dipercaya, dan mencari bantuan ketika diperlukan dapat menjadi langkah yang lebih sehat daripada memendam semuanya sendiri. Dengan dukungan yang tepat, masa transisi menjadi seorang ayah dapat dijalani dengan lebih baik.