Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Alasan Ayah Workaholic Bisa Meninggalkan Luka Fatherless pada Anak
ilustrasi workaholic (pexels.com/ Vitaly Gariev)
  • Ayah yang terlalu fokus bekerja dapat membuat anak merasa tidak penting dan kehilangan kedekatan emosional, meski kebutuhan materi tercukupi.
  • Kehadiran ayah yang jarang tersedia bisa mengurangi rasa aman anak serta menghambat pembentukan ikatan emosional sejak kecil.
  • Kurangnya perhatian emosional dari ayah berpotensi membuat anak mencari validasi di luar rumah dan kesulitan membangun hubungan sehat saat dewasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang menganggap fatherless hanya terjadi ketika seorang ayah meninggalkan keluarga atau tidak hadir secara fisik dalam kehidupan anak. Padahal dalam psikologi keluarga, perasaan kehilangan figur ayah juga bisa muncul ketika seorang ayah selalu ada di rumah, tetapi terlalu sibuk bekerja hingga sulit membangun kedekatan emosional dengan anak.

Tentu bekerja keras demi keluarga adalah hal yang mulia. Namun ketika pekerjaan menyita hampir seluruh waktu, perhatian, dan energi, hubungan antara ayah dan anak bisa perlahan merenggang. Akibatnya, anak tumbuh dengan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi meski kebutuhan materi tercukupi. Berikut lima alasan mengapa ayah yang terlalu workaholic berisiko meninggalkan luka fatherless pada anak.

1. Anak merasa tidak cukup penting untuk mendapatkan waktu ayah

ilustrasi merasa tidak cukup penting (pexels.com/ Ketut Subiyanto)

Bagi anak, waktu adalah bentuk cinta yang paling mudah dipahami. Mereka mungkin belum mengerti tentang target pekerjaan, rapat penting, atau tanggung jawab finansial. Yang mereka lihat hanyalah ayah yang selalu sibuk dan jarang tersedia untuk mereka.

Ketika situasi ini terjadi terus-menerus, anak bisa mulai menyimpulkan bahwa dirinya kurang penting dibanding pekerjaan ayah. Perasaan tersebut mungkin tidak diungkapkan secara langsung, tetapi dapat memengaruhi rasa percaya diri dan cara mereka memandang hubungan di masa depan.

2. Kehilangan sosok tempat mencari rasa aman

ilustrasi kehilangan tempat rasa aman (pexels.com/ ARISON KAGANJUZI)

Ayah sering menjadi figur yang membantu anak merasa terlindungi dan aman secara emosional. Saat menghadapi masalah, ketakutan, atau kegagalan, kehadiran ayah yang responsif dapat memberikan ketenangan yang sangat berarti.

Namun jika ayah terlalu sering tidak tersedia karena pekerjaan, anak mungkin belajar menghadapi semua hal sendirian. Akibatnya, mereka kesulitan membangun rasa aman emosional dan cenderung memendam perasaan tanpa tahu harus berbagi kepada siapa.

3. Minimnya ikatan emosional yang terbentuk sejak kecil

ilustrasi minim ikatan emosional (pexels.com/ Timur Weber)

Hubungan yang kuat antara orangtua dan anak tidak muncul secara otomatis. Ikatan emosional dibangun melalui percakapan sehari-hari, bermain bersama, mendengarkan cerita anak, dan berbagai interaksi kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ketika sebagian besar waktu habis untuk bekerja, kesempatan membangun momen-momen tersebut menjadi sangat terbatas. Akibatnya, hubungan yang terbentuk terasa formal atau canggung meski tinggal dalam satu rumah yang sama selama bertahun-tahun.

4. Anak mencari validasi dari tempat lain

ilustrasi validasi (Freepik.com/ master1305)

Setiap anak memiliki kebutuhan untuk merasa dihargai, diperhatikan, dan diterima. Jika kebutuhan itu tidak terpenuhi dari figur ayah, mereka sering mencarinya dari lingkungan lain, seperti teman sebaya, pasangan, media sosial, atau kelompok tertentu.

Tidak semua pencarian validasi berakhir buruk, tetapi kondisi ini dapat membuat anak lebih rentan bergantung pada penilaian orang lain. Mereka mungkin tumbuh dengan kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan karena belum pernah merasakan perhatian yang cukup dari figur ayah.

5. Sulit membangun hubungan yang sehat saat dewasa

ilustrasi toxic relationship (freepik.com/ Drazen Zigic)

Banyak penelitian menunjukkan, bahwa kualitas hubungan anak dengan orangtua berpengaruh terhadap pola hubungan mereka ketika dewasa. Anak yang merasa diabaikan secara emosional sering membawa luka tersebut ke dalam pertemanan, hubungan romantis, maupun kehidupan profesional.

Sebagian menjadi sangat haus perhatian, sementara yang lain justru sulit membuka diri dan mempercayai orang lain. Meski setiap individu berbeda, kurangnya kedekatan emosional dengan ayah dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola relasi mereka di masa depan.

Penting untuk dipahami, bahwa bekerja keras demi keluarga bukanlah kesalahan. Banyak ayah rela mengorbankan waktu dan tenaga karena ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Niat tersebut tentu patut dihargai.

Masalah muncul ketika seluruh energi hanya difokuskan pada kebutuhan materi, sementara kebutuhan emosional anak terabaikan. Anak membutuhkan nafkah untuk hidup, tetapi mereka juga membutuhkan perhatian, komunikasi, dan hubungan yang hangat dengan ayahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article