Bryan Adams dan Rock and Roll yang Tak Pernah Menua

- Bryan Adams kembali ke Jakarta dengan konser tur dunia “Roll With The Punches” di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol.
- Konser dihadiri ribuan penonton lintas generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu Bryan Adams, dari era kaset pita hingga playlist digital.
- Adams membawakan hits-hitsnya dalam suasana intim dan energik, menunjukkan sisi segar, humor, dan relevannya dalam rock and roll.
Bryan Adams akhirnya kembali menyapa Jakarta setelah penantian panjang. Lewat konser tur dunia “Roll With The Punches” di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Selasa (3/2/2026), musisi legendaris asal Kanada itu menghadirkan malam penuh nostalgia dan sentimental yang terasa utuh dari awal hingga akhir.
Ribuan penonton memadati stadion sejak petang, menghadirkan lautan manusia lintas generasi. Ada mereka yang tumbuh bersama lagu-lagu Bryan Adams sejak era kaset pita, hingga generasi lebih muda yang mengenalnya melalui playlist digital.
Semua berkumpul untuk satu alasan yang sama, menyaksikan langsung ikon rock dunia yang musiknya selalu lestari.
Konser dibuka jagoan lokal, Rony Parulian sebagai musisi pembuka. Dengan karakter vokal husky yang kuat, Rony membawakan sejumlah lagu andalannya, termasuk “Tak Ada yang Sepertimu”.
Penampilannya menjadi pembuka yang pas, menghangatkan suasana sekaligus memberi jembatan musikal menuju karakter vokal Bryan Adams yang ikonik.
Ari Lasso kemudian mengambil alih panggung. Deretan lagu hits seperti “Cinta Terakhir” dan “Hampa” dinyanyikan bersama ribuan penonton. BCIS berubah menjadi ruang bernostalgia kolektif, membuat atmosfer semakin ingar-bingar sebelum sang bintang utama muncul.

Kejutan datang ketika lampu perlahan berrpendar. Bryan Adams kemudian muncul di sebuah panggung kecil di tengah area penonton Kategori 1, menenteng gitar akustik.
“Halo, Jakarta!” katanya menyapa dengan paras menyungging senyum tipis. Penonton menjawab dengan pekikan menggema.
Dalam suasana intim itu, Adams menyambar dengan hits “Can’t Stop This Thing We Started.” Tanpa jeda “Straight From the Heart” digeber juga dalam versi akustik. Panggung kecil sederhana itu menciptakan momen personal, crowd tak hanya bernyanyi, tapi meluapkan kenangan manis.
Usai set akustik, Adams berjalan menuju panggung utama. Perpindahan ini menjadi penanda perubahan energi. Begitu menginjak panggung besar, ia langsung menghantam dengan “Kick Ass,” membuka parade rock and roll yang keras, padat, dan tanpa kompromi.
Crowd tak henti ikut komat-kamit mengikuti lirik lagu. Tidak ada satu lagu pun yang tidak dinyanyikan. Penonton yang mayoritas paruh baya tak segan berteriak dengan wajah merah padam, seakan mengeluarkan semua kerinduan yang terpendam.
Nomor andalan lainnya kemudian dibawakan, mulai dari “Run to You” dan “Somebody.” Kilatan ponsel bak kunang-kunang bersahutan, menciptakan bayangan tak beraturan di sekitar stage.
Elemen visual turut memperkuat pertunjukan. Balon raksasa berbentuk sarung tinju melayang di atas moshpit saat single “Roll With The Punches" diputar, seakan menyatu dengan suara gitar yang cukup klasik.
Rock and Roll yang Jadi Pertanyaan Sikap Bryan Adams
Album ke-17 ini menunjukkan sisi Bryan Adams yang masih segar, penuh humor, dan tetap relevan. Tak ada lagi jarak antara panggung dan penonton, hanya ada satu gelombang energi yang saling menelan.
Di sela-sela lagu, Adams berbagi cerita tentang kerinduannya pada Jakarta, walau dibuat sedikit jengkel dengan kemacetannya.
“Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami tampil di sini. Dan kami senang sekali akhirnya bisa kembali,” ujarnya, disambut sorak hangat dari penonton.
Dengan katalog lagu yang sangat luas, ia mengakui tak mudah merangkum semuanya dalam satu malam.
“Kami memiliki banyak lagu untuk malam ini. Saya tak yakin semua bisa kita mainkan sepanjang malam. "Roll With the Punches" itu album ke-17. Kami tak tahu, tapi yang satu ini berjudul 18 Till I Die,” katanya dengan nada bercanda, diikuti tawa dan tepuk tangan riuh.
Momen terasa emosional saat Bryan membawa keintiman melalui hits andalan “Please Forgive Me.” Suasana menjadi hening, penuh rasa, dan sangat personal. Banyak yang terisak, beberapa berpelukan sambil bernanyi.

Bryan Adams menunjukkan pemahaman mendalam tentang dinamika konser. Ia tahu kapan harus menghentak dan kapan memberi ruang bagi penonton untuk tenggelam dalam nostalgia.
Hits “Heaven” diaransemen lebih upbeat, menjaga energi tetap mengalir tanpa menghilangkan sentuhan romantisnya, sontak penonton bernyanyi bersama dengan kompak.
Walau sudah dimakan usia, secara vokal Bryan Adams tampil konsisten sepanjang malam. Suara serak basah yang menjadi ciri khasnya tetap terjaga.
Lebih dari sekadar konser, “Roll With The Punches Tour” merupakan` pernyataan sikap. Rock and roll, bagi Bryan Adams, bukan soal usia atau tren, melainkan tentang daya tahan, kegembiraan, dan hubungan emosional yang tak lekang oleh waktu.
Malam itu, Jakarta tidak hanya menyambut kembalinya sang legenda, tetapi juga merayakan musik yang telah menemani perjalanan hidup banyak orang. Bryan Adams pulang dengan meninggalkan satu pesan kuat: selama masih ada emosi dan kejujuran, rock and roll akan selalu hidup.


















