Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Belajar Bahasa Krama Jawa untuk Pemula

5 Cara Belajar Bahasa Krama Jawa untuk Pemula
ilustrasi belajar bahasa krama Jawa (pexels.com/Kindel Media)
  • Bahasa krama Jawa memiliki tingkatan tutur seperti ngoko, madya, dan krama yang digunakan sesuai situasi serta menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.
  • Krama dan krama inggil berfungsi untuk mengekspresikan kesopanan berbeda tingkat; krama inggil dipakai untuk menghormati orang lain, bukan meninggikan diri sendiri.
  • Pembelajaran bahasa krama dimulai dari mengenal kosakata dasar hingga penerapan dalam kalimat sopan agar komunikasi terdengar halus dan mencerminkan nilai unggah-ungguh budaya Jawa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bahasa krama Jawa sering dianggap sulit karena kosa katanya yang berbeda dari percakapan sehari-hari. Padahal, kalau dipelajari pelan-pelan, bahasa ini bisa jadi cara sederhana untuk menunjukkan sopan santun.

Dalam budaya Jawa, cara berbicara bukan cuma soal menyampaikan pesan, tetapi juga menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara. Itu sebabnya, pemilihan kata menjadi penting, terutama saat berbicara dengan orang yang lebih tua, guru, tokoh masyarakat, atau orang yang baru dikenal.

Bagi pemula, memahami bahasa krama Jawa bisa dimulai dari mengenali tingkat tutur, fungsi, sampai contoh kosakata yang sering dipakai. Yuk, kenali dasarnya lewat beberapa poin berikut ini!

  1. 1. Bahasa Jawa punya tingkatan tutur yang berbeda

    Bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur yang digunakan sesuai situasi dan lawan bicara. Secara umum, ada tiga tingkatan yang sering dikenal, yaitu ngoko, madya, dan krama. Ketiganya punya fungsi berbeda, terutama dalam menunjukkan kedekatan atau rasa hormat.

    Ngoko adalah bentuk bahasa yang paling santai. Biasanya, tingkatan ini digunakan saat berbicara dengan teman sebaya, saudara dekat, atau orang yang sudah akrab. Contohnya, kalimat Kowe wis mangan? berarti “Kamu sudah makan?”

    Sementara itu, madya berada di tengah-tengah. Bahasa ini terdengar lebih sopan daripada ngoko, tetapi tidak sehalus krama. Contohnya, Sampeyan mpun nedha? yang berarti “Anda sudah makan?”

    Tingkatan paling halus adalah krama. Bahasa ini digunakan ketika berbicara dengan orang tua, guru, tokoh masyarakat, tamu, atau orang yang dihormati. Jadi, pemakaian bahasa Jawa tidak hanya soal arti kata, tetapi juga tentang memahami situasi sosial.

  2. 2. Bahasa krama dipakai untuk menunjukkan rasa hormat

    Dua orang sedang berbicara serius di ruang kerja dengan laptop terbuka di meja dan rekan lain tampak bekerja di latar belakang.
    ilustrasi berbicara dalam bahasa krama Jawa (pexels.com/fauxels)

    Bahasa krama Jawa dikenal sebagai bentuk bahasa yang lebih halus dan sopan. Bahasa ini biasanya digunakan dalam percakapan yang membutuhkan penghormatan, misalnya saat berbicara kepada orang yang lebih tua atau dalam acara resmi.

    Dalam percakapan sehari-hari, perbedaan tingkat tutur bisa terlihat dari pilihan katanya. Misalnya, kata “makan” dalam bahasa Jawa santai adalah mangan. Namun, dalam bentuk yang lebih sopan, kata ini bisa menjadi nedha atau dhahar.

    Penggunaan kata yang tepat membuat percakapan terdengar lebih santun. Karena itu, belajar bahasa krama tidak hanya membantu seseorang memahami kosakata Jawa, tetapi juga memahami nilai unggah-ungguh dalam budaya Jawa.

    Selain itu, bahasa krama juga sering digunakan dalam acara keluarga, sambutan, pertemuan adat, atau komunikasi dengan orang yang baru dikenal. Dengan memakai bahasa yang lebih halus, seseorang bisa menunjukkan sikap menghargai lawan bicara.

  3. 3. Krama dan krama inggil punya fungsi yang berbeda

    Selain krama, ada juga istilah krama inggil. Secara sederhana, krama inggil adalah bentuk bahasa yang tingkat kesopanannya lebih tinggi. Kata-kata dalam krama inggil biasanya digunakan untuk menghormati orang kedua atau orang ketiga.

    Misalnya, kata nedha berarti makan dalam bentuk krama, sedangkan dhahar adalah bentuk yang lebih halus. Begitu juga dengan tilem yang berarti tidur, sementara bentuk krama inggil-nya adalah sare.

    Namun, ada aturan penting yang perlu diperhatikan. Dalam budaya Jawa, seseorang tidak memakai krama inggil untuk meninggikan dirinya sendiri. Jadi, kata-kata yang sangat halus biasanya digunakan untuk orang lain yang dihormati, bukan untuk membicarakan diri sendiri.

    Contohnya, saat mengatakan “saya makan”, seseorang lebih tepat memakai bentuk yang tidak meninggikan diri. Sebaliknya, jika membicarakan orang tua atau orang yang dihormati sedang makan, kata dhahar bisa digunakan agar terdengar lebih sopan.

  4. 4. Kosakata bahasa krama Jawa dan artinya

    Seorang perempuan muda tersenyum sambil menulis di buku catatan dan menggunakan laptop di luar ruangan dengan suasana hijau.
    ilustrasi belajar bahasa krama Jawa (Pexels.com/Zen Chung

    Setelah memahami tingkatannya, kamu bisa mulai belajar dari kosakata dasar. Daftar berikut berisi contoh kata dalam bentuk krama dan krama inggil yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    1. Adussiram = mandi
    2. Badansalira = badan
    3. Banonbanon = bata
    4. Bathukpalarapan = dahi
    5. Cengehcengeh = cabai
    6. Drijiracikan = jari
    7. Dugirawuh = datang
    8. Estriputri = perempuan
    9. Gendhisgendhis = gula
    10. Griyadalem = rumah
    11. Gulujangga = leher
    12. Irunggrana = hidung
    13. Jalerkakung = laki-laki
    14. Kesahtindak = pergi
    15. Kupingtalingan = telinga
    16. Lenggahpinarak = duduk
    17. Manahpenggalih = hati
    18. Maturngendhika = bicara
    19. Mbektangasta = membawa
    20. Mendhetmundhut = mengambil
    21. Mirengmidhangetaken = mendengar
    22. Mripatsoca = mata
    23. Nedhadhahar = makan
    24. Nginumngunjuk = minum
    25. Ningalimirsani = melihat
    26. Numpaknitih = naik
    27. Nyambutngampil = meminjam
    28. Ngengkenngutus = menyuruh
    29. Pantunpantun = padi
    30. Petengpadharan = perut
    31. Purunkersa = bersedia
    32. Radosanmargi = jalan
    33. Rambutrikma = rambut
    34. Rasukanageman = baju
    35. Sampeyanpanjenengan = kamu
    36. Saremsarem = garam
    37. Sirahmustaka = kepala
    38. Sitisiti = tanah
    39. Sukusampeyan = kaki
    40. Tanganasta = tangan
    41. Tangiwungu = bangun
    42. Tilemsare = tidur
    43. Toyatoya = air
    44. Tumbaspundhut = membeli
    45. Tumutdherek = ikut
    46. Tutuktutuk = mulut
    47. Wangsulkondur = pulang
    48. Wantunwantun = berani
    49. Yatraarta = uang
    50. Yogaputra = anak

    Daftar kosakata di atas bisa dipelajari sedikit demi sedikit. Kamu bisa mulai dari kata yang paling sering digunakan, seperti makan, minum, tidur, pulang, pergi, atau datang. Setelah itu, barulah lanjut ke kata lain yang berkaitan dengan anggota tubuh, benda, atau aktivitas harian.

  5. 5. Contoh penggunaan bahasa krama dalam kalimat

    Agar lebih mudah dipahami, kosakata bahasa krama perlu dicoba dalam kalimat sederhana. Dengan begitu, kamu bukan hanya hafal arti kata, tetapi juga tahu cara memakainya dalam percakapan.

    Contohnya, kalimat Panjenengan sampun dhahar? berarti “Anda sudah makan?” Kalimat ini terdengar sopan karena menggunakan kata panjenengan dan dhahar. Biasanya, bentuk seperti ini digunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

    Ada juga kalimat Bapak sampun sare yang berarti “Bapak sudah tidur.” Dalam kalimat ini, kata sare digunakan karena membicarakan orang yang dihormati. Sementara itu, kalimat Ibu nembe rawuh saking pasar berarti “Ibu baru datang dari pasar.”

    Untuk percakapan sehari-hari, kamu juga bisa memakai kalimat Kula badhe tumbas toya yang berarti “Saya akan membeli air.” Ada pula kalimat Panjenengan badhe tindak pundi? yang berarti “Anda akan pergi ke mana?”

    Dari contoh tersebut, terlihat bahwa bahasa krama Jawa bisa dipelajari secara bertahap. Kuncinya adalah mengenali lawan bicara, memahami situasi, lalu memilih kosakata yang sesuai agar percakapan terdengar sopan dan tepat.

    Belajar bahasa krama Jawa memang butuh kesabaran, terutama bagi pemula yang belum terbiasa dengan tingkatan tutur dalam bahasa Jawa. Namun, semakin sering dipelajari, bahasa ini bisa membantu kamu berbicara lebih santun sekaligus memahami salah satu kekayaan budaya Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles