Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Cara Suami Menengahi Konflik Istri dan Orang Tua, Harus Tegas!

3 min read
4 Cara Suami Menengahi Konflik Istri dan Orang Tua, Harus Tegas!
ilustrasi suami di tengah konflik keluarga (magnific.com/magnific)
  • Suami perlu mendengarkan istri dan orang tua secara terpisah agar memahami masalah secara utuh sebelum menentukan sikap secara objektif.
  • Saat percakapan berubah menjadi hinaan, sindiran, atau membahas kesalahan lama, suami harus menghentikannya dan menegaskan batas komunikasi yang sehat.
  • Suami perlu menetapkan batas urusan rumah tangga, konsisten terhadap campur tangan, serta menegur pihak yang mengulangi kesalahan dengan menjelaskan dampaknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Konflik antara istri dan orang tua sering bikin suami serba salah. Bela salah satu pihak bisa bikin yang lain ngerasa gak didukung, padahal keduanya sama-sama penting buat suami. Diam saja tentu bukan solusi, tapi asal dalam mengambil sikap juga bisa bikin masalah tambah runyam.

Suami tetap perlu menjadi penengah dan berani tegas ketika masalah mulai melewati batas. Lantas, ketegasan seperti apa yang perlu dilakukan ketika istri dan orang tua sedang berselisih?

  1. 1. Dengarkan cerita dari kedua sisi

    Mendengarkan
    ilustrasi mendengarkan (pexels.com/Nicole Michalou)

    Jangan langsung menentukan siapa yang salah hanya berdasarkan cerita dari satu pihak. Suami perlu mendengarkan istri dan orang tua secara terpisah agar punya gambaran yang lebih lengkap tentang masalahnya.

    Setelah mendengar keduanya, suami bisa melihat masalah dengan lebih objektif dan menentukan sikap berdasarkan situasinya. Jangan sampai keputusan yang diambil hanya karena merasa gak enak kepada istri atau orang tua.

  2. 2. Tegas menghentikan ucapan yang sudah kelewatan

    Suami bersikap tegas
    ilustrasi suami bersikap tegas (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Perbedaan pendapat masih bisa dibicarakan, tetapi masalah akan semakin sulit diselesaikan ketika mulai muncul hinaan, sindiran, atau membawa-bawa kesalahan masa lalu. Di sini, suami perlu berani menghentikan percakapan yang sudah gak sehat.

    Suami bisa menegaskan bahwa masalah boleh dibicarakan, tapi tetap ada batas dalam cara menyampaikan keberatan. Jika dibiarkan, ucapan yang kelewatan bisa dianggap wajar dan terus terulang di kemudian hari.

  3. 3. Tegaskan batas urusan rumah tangga

    Memberi tahu orangtua
    ilustrasi memberi tahu orangtua (pexels.com/khezez|خزاز)

    Setelah menikah, ada keputusan yang memang hanya menjadi urusan suami dan istri, seperti soal keuangan rumah tangga, pola asuh anak, atau rencana jangka panjang keluarganya. Orang tua tetap bisa kasih saran, tapi bukan berarti semua keputusan harus mengikuti keinginan mereka.

    Cara paling gampang buat netapin batas ini adalah ngomong langsung ke orang tua begitu mereka mulai ikut campur, misalnya dengan bilang "Kami hargai sarannya, tapi soal ini biar kami yang putuskan berdua." Suami juga perlu konsisten nerapin batas itu di setiap situasi serupa, bukan cuma sekali terus dilanggar kalau lagi gak enak nolak orang tua.

  4. 4. Ambil sikap kalau salah satunya terus mengulang kesalahan yang sama

    Memberi pemahaman
    ilustrasi memberi pemahaman (pexels.com/Ron Lach)

    Ada kalanya masalah jadi besar bukan hanya karena kesalahpahaman, tapi karena salah satu pihak yang memang keras kepala dan susah berubah meski sudah sering diingatkan. Suami harus berani ambil sikap tegas, termasuk jika yang perlu ditegur itu adalah orang tuanya sendiri.

    Cobalah sampaikan dengan jelas dampak dari sikap yang terus berulang itu, misalnya suasana jadi gak nyaman atau hubungan makin renggang kalau dibiarkan terus. Dengan begitu, orang yang bersangkutan tau kalau ada konsekuensi nyata dari sikapnya.

    Jadi penengah bukan berarti suami harus selalu netral tanpa pernah ambil sikap. Ketegasan justru yang bikin istri dan orang tua sama-sama tau batasnya, sekaligus jadi bukti kalau suami serius menjaga keduanya. Rumah tangga yang harmonis bukan soal gak pernah ada konflik, tapi soal gimana konflik itu diselesaikan tanpa ada pihak yang merasa diabaikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team