Catatan Intim Hari Pertama Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026!

- Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026 ubah Blok M jadi distrik festival tanpa sekat, menghadirkan pengalaman musik urban yang intim dan dinamis dari sore hingga tengah malam.
- Hari pertama diramaikan penampilan lintas genre dari The Upstairs, Efek Rumah Kaca, Seringai, hingga Naykilla yang memadukan energi underground dengan nuansa hipdut modern.
- Malam ditutup elegan oleh Tahiti 80 dengan lantai dansa nostalgia dan debut lagu baru 'Wild Romance', menandai puncak emosional festival di bawah langit Blok M.
Ada sesuatu yang magis ketika ruang publik urban diserahkan sepenuhnya kepada musik. Pada Sabtu (18/7/2026), Blok M tidak sekadar menjadi tempat singgah bagi anak muda Jakarta.
Kawasan legendaris di Jakarta Selatan ini bersalin rupa menjadi sirkuit budaya yang berdenyut kencang. Lewat format baru district festival tanpa sekat yang diusung Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026, area Peruri dan M Bloc sukses disulap menjadi ruang peleburan energi.
Aktivitas festival urban ini menyajikan pertunjukan yang intim sekaligus dinamis sejak sore hingga tengah malam. Bagi mereka yang terbiasa dengan festival musik masif berpanggung jauh, konsep distrik baru ini adalah sebuah jawaban atas kenyamanan.
Arus penonton mengalir sangat lancar di antara beton-beton Blok M. Mereka bisa berpindah dari satu kejutan genre ke kejutan lainnya tanpa kepanikan logistik yang melelahkan.
Pentolan unit new wave legendaris Jakarta The Upstairs, Jimi Multhazam, mengaku konsep segar yang diusung Soundrenaline kali ini dirasa jadi hal menarik. Hal itu mengingatkan pada festival musik yang sempat digelar di daerah Cikini pada medio Milenium awal.
"Konsep Sana Sini Jakarta oke banget. Lebih enaknya ini di M Bloc, tempat manggung lokasinya asik-asik. Jadi penonton yang menentukan pindah dari venue ke venue lainnya [tergantung siapa yang mau dilihat]," ujar Jimmy.
Ia pun semrigah, The Upstairs menjajal venue baru seperti INA Hall. Menurutnya, hal itu memberikan pengalaman performa yang sangat berbeda dari festival biasanya. Ruangan tersebut dinilai sukses mengembalikan memori intim konser-konser komunitas di masa lalu.
“Rasanya seperti gigs underground, tapi ruangannya lebih besar. Aura festivalnya tetap ada, tetapi rasa underground-nya juga masih terasa. Itu yang saya suka,” kata Jimi.
Atmosfer yang padat di dalam ruangan memang membuat jarak antara band dan penonton menjadi nyaris tanpa sekat. Kondisi ini memicu energi liar yang saling bersahutan sepanjang set daftar lagu mereka digulirkan.
The Upstairs sendiri sukses membawa cetak biru musik dance elektrik dengan distorsi khas, hingga menyedot ribuan pencinta musik urban yang hadir di hari pertama Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026.
1. Dari senja yang berdistorsi hingga geol hipdut yang eksentrik

Atmosfer luar ruangan di Taman Kota Peruri Stage dibuka saat matahari mulai condong ke barat. Efek Rumah Kaca (ERK) langsung mengambil kendali udara dan menguji daya tampung area dengan aransemen indie rock mereka yang presisi.
Dipimpin Cholil Mahmud, ERK tidak sekadar menyajikan performa musik yang tebal. Mereka juga sukses menata lanskap visual pergantian hari lewat instalasi LED vertikal megah yang mengapit sisi panggung.
Tensi beton Blok M kian memanas begitu petang menjemput ke area festival. Seringai mengambil alih panggung dan langsung melepaskan raungan gitar distorsif khas kuartet metal Jakarta ini.
Dalam aksi panggung yang bertenaga tersebut, Seringai membawakan deretan hits andalannya, termasuk "Dilarang Di Bandung", "Individu Merdeka", hingga nomor teranyar "Membungkam 98".
Tanpa komando, adrenalin penonton langsung meledak di depan panggung utama. Mereka serentak merapat untuk menciptakan pusaran circle pit dan riak moshing yang masif.
Namun, Soundrenaline hari pertama adalah soal kontras genre yang matang. Di saat area luar ruangan membara oleh distorsi, INA Hall Peruri Stage menyajikan intensitas energi yang berbeda.
Di atas panggung indoor ini, solois hipdut Naykilla mencuri perhatian secara instan. Tampil eksentrik dalam balutan busana bermotif leopard, ia meracik vokal mulusnya dengan ketukan urban modern.
"Kalian udah siap menggeol? Ayo geal-geol malam ini kita," sapa Naykilla dari atas panggung.
Kerumunan langsung bergoyang massal begitu nomor-nomor groovy andalannya digulirkan. Tembang hits seperti "Skip Dulu Ahh", "So Asu", "My Mind Gueh", hingga "Garam & Madu" sukses memanaskan ruangan.
"Lagu ini yang bisa bawa aku ke sini, bisa jadiin aku sampai kaya gini," ucap Naykilla emosional sebelum menutup sesinya.
2. Ledakan indie-rock dari Last Dinosaurs

Malam beranjak matang, dan magnet massa kembali tersedot ke Taman Kota Peruri Stage. Unit indie-rock asal Australia, Last Dinosaurs, naik pentas tepat di jam prima penampilan festival.
Mereka datang membawa cetak biru musik indie pop yang sangat pekat. Ramuan musiknya kental dengan elemen dance-punk, synthpop, hingga sentuhan nu-disco.
“Hallo Indonesia, aku cinta kamu,” ucap vokalis sekaligus gitaris Last Dinosaurs, Sean Caskey.
Hanya butuh satu petikan riff gitar ikonis dari hit "Bass God" untuk membuat seisi lapangan ikut bernyanyi. Didukung tata cahaya yang mewah dan sinematik, para penggemar langsung larut dalam melodi lagu dari album "Yumeno Garden" ini.
Tanpa memberikan jeda untuk bernapas, Last Dinosaurs terus memompa sisa stamina penonton. Lapangan diguncang lewat rentetan lagu andalan seperti "Evie", "Sunday Night", "Kebabs", "Apollo", dan ditutup perkasa oleh "Eleven".
3. Klimaks elegansi dan lantai dansa nostalgia Tahiti 80

Ketika malam mendekati ambang batasnya menjelang tengah malam, panggung utama luar ruangan kembali berganti rupa. Tahiti 80, veteran indie-pop asal Prancis, hadir sebagai hidangan penutup yang sempurna.
Mereka datang bukan untuk membakar arena, melainkan meredam sisa-sisa ketegangan rock menjadi getaran dansa yang rileks. Pesta dansa yang santai namun tetap elegan langsung tersaji di bawah langit Blok M.
Xavier Boyer dan kolega membuka set lantai dansa lewat ketukan ritmis dari hits seperti "Big Day". Langkah itu segera disusul dengan goyangan santai penonton mengikuti alur groove dari "Soul Deep".
Bagi publik Jakarta, ini jadi perjumpaan ketiga yang sangat sentimental bersama sang idola. Pertunjukan ini melengkapi catatan sejarah kedatangan Tahiti 80 ke Indonesia pada tahun 2010 dan 2023 lalu.
Setelah mengalunkan "Better Days Will Come", mereka memberikan kado istimewa bagi para penggemar setianya. Mereka memainkan lagu baru "Wild Romance" secara live perdana di dunia langsung di hadapan publik Jakarta.
Atmosfer nostalgia kian pekat dan magis berkat kualitas tata suara festival yang sangat jernih. Hit subtil seperti "Open Book", "Lost in the Sound", "Crush!" mengalir tanpa cela.
Puncak perayaan malam itu akhirnya pecah berkeping-keping saat intro dari lagu legendaris mereka berkumandang. Seluruh area festival serentak melompat dan melebur dalam koor massal emosional lewat lagu "Heartbeat".
Rangkaian musik sunshine pop dan indie disco yang dirajut rapi sukses mengunci hari pertama dengan kepuasan penuh. Soundrenaline Sana Sini Jakarta 2026 malam kemarin adalah tentang sejarah, transisi, dan musik yang pulang ke tempat asalnya di jalanan.




















