Joyland Sessions 2025: Musik Satir Bright Eyes dan Reuni Kecil Pains

- Joyland Festival harus vakum pada Agustus lalu, tetapi Plainsong Live memastikan Joyland tetap hadir dengan format baru, yakni Joyland Sessions di GBK City Park, Senayan.
- Bright Eyes menjadi sorotan pada Joyland Sessions hari pertama dengan membawakan lagu-lagu hits dari album ikonik yang sudah berusia dua dekade "I’m Wide Awake, It’s Morning" dan album baru Kid’s Table.
- The Pains of Being Pure at Heart pamer di panggung Joyland Sessions dengan menyuguhkan repetoar hits mereka seperti A Teenager in Love, Say No to Love, hingga Stay Alive serta memberikan apresiasi khusus kepada musisi Indonesia.
Kabar pahit datang pada Agustus lalu: Joyland Festival harus vakum. Banyak penggemarnya patah hati. Festival yang memanjakan kaum urban dengan kurasi musik ciamik dan suasana nyaman itu seperti kehilangan napas.
Beruntung, pada Oktober harapan muncul. Plainsong Live memastikan Joyland tetap hadir dengan format baru, yakni Joyland Sessions.
Di GBK City Park, Senayan, Sabtu (29/11/2025), saat unit musik Jirapah membuka panggung, siang yang mendung terasa bergelora. para penonton yang sudah hadir pun merangsek ke depan.
Ken Jenie (gitar, vokal), Mar Galo (bass), Yudhis Tira (gitar), dan Nico Gozali (drum), mulai unjuk gigi tengah hari bolong, memainkan musik indie rock yang cukup progresif. Alunan musik terasa memacu andrenalin dan membawa keresahan yang terselip di balik nadanya.
Tak berselang lama, giliran duo suami-istri Yehezkiel Tambun dan Kaneko Pardede, yang tergabung bersama The Cottons yang tampil. Alunan lagu yang lebih sendu membuat para penonton tenggelam dalam musik sendu.
The Cottons membawakan repetoar andalan seperti Harapan Pt. 1, Lentera, dan lainnya. Tak hanya itu, Yehezkiel dan Kaneko juga menyuarakan belasungkawa atas terjadinya bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Ada saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak bencana. Bencana alam bukan?” kata Yehezkiel dari panggung.
Beberapa penonton menggeleng. Mereka tahu, banjir bandang itu lebih tepat disebut bencana ekologis akibat eksploitasi yang tak putus.
"Mari kita doakan saudara kita di Sumatera yang terdampak banjir. Semoga lekas membaik,” ujar Kaneko, yang acap menyuarakan keresahan sosial dan lingkungan lewat musik.
“Semoga lagu-lagu kami membawa harapan yang lebih baik,” lanjut dia.
Selain The Cottons, Bernadya juga tampil pada sore hari. Dengan gaya berambut lebih pendek, penyanyi ini membawakan sejumlah hits di Joyland Sessions. Beberapa di antaranya yakni Kini Mereka Tahu, Untungnya Hidup Harus Tetap Berjalan, hingga Apa Mungkin.
Hampir seluruh penonton komat-kamit mengikuti lirik lagu Bernadya, membuat suasana sore di Joyland Sessions terasa intim.
"Terima kasih Joyland, sampai jumpa lagi," ucap Bernadya menutup aksi panggung di Joyland Sessions.
Musik satir ala Bright Eyes
Sementara itu, band disco-pop BANK yang tampil setelah Bernadya, memanfaatkan momen di Joyland Sessions 2025 untuk memperkenalkan materi anyar. Band beranggotakan Kimo Rizky, Charita Utami, Zaki Danubrata, Aryo Adianto, dan John Paul Patton itu memainkan lagu bertitel “Yang.”
Selepas musisi-musisi lokal, Band indie rock Amerika Bright Eyes menjadi sorotan pada Joyland Sessions hari pertama. Meski skala festival diperkecil, kehadiran band legendaris ini menjadi magnet besar.
Bright Eyes, kelompok yang dibentuk Connor Oberst dari Omaha, AS, membawahkan lagu yang bertemakan soal hidup keseharian dengan sinisme yang khas. Mereka mengalunkan musik hits dari Album ikonik yang sudah berusia dua dekade “I’m Wide Awake, It’s Morning.”
Mereka juga membawakan beberapa lagu dari album baru Kid’s Table yang masih punya unsur getir. Bahkan, dalam hits “1st World Blues,” lirik lagunya begitu satire menyindir influencer dan hipster yang marak saat ini.
Meski demikian, musik mereka ternyata masih relevan dan nyaman di kuping, sehingga tetap dinikmati penikmat musik Joyland Sessions.
Penampilan Oberst mengingatkan pada Neil Young di masa muda: tubuh ceking, rambut semampai leher kusut acak. Suaranya bisa serapuh bisikan di “We Are Nowhere and It’s Now,” lalu berubah beringas saat ia menggenjreng gitar sambil berputar, melantangkan, “Im sick of it, im ready for the war.”
Momen paling menyentuh datang saat “Poison Oak”. Disorot lampu biru, Oberst berkata, “Ini tentang sepupuku Collins.”
Penonton mengikuti hingga baris terakhir, “sound of loneliness makes me happier.” Lagu itu menyisakan hening yang menyakitkan, pengingat bahwa hidup sering kali tak ramah.
Kejutan ala The Pains of Being Pure at Heart

Setelah Bright Eyes, giliran unit musik indie pop asal New York, The Pains of Being Pure at Heart pamer di panggung Joyland Sessions. Band yang baru reuni ini punya tempat khusus di hati penggemar tanah air.
Banyak fan yang sejak lama menantikan Kip Berman dan kawan-kawan untuk datang ke sini, setelah sempat manggung pada 2012 silam.
Sejak awal, kehadiran The Pains of Being Pure at Heart terasa seperti sapuan ombak besar yang menghantam lembut namun intens. Repetoar yang mereka bawa mulai dari dari A Teenager in Love, Say No to Love, hingga Stay Alive, seakan menggaungkan kembali era ketika mereka menghidupkan shoegaze di kancah indie internasional.
Album debut mereka yang melesat pada 2009, dengan hit Young Adult Friction, memang menjadi penanda lahirnya generasi baru pengusung shoegaze penuh melodi. Energi itulah yang muncul kembali di Joyland Sessions: padat, jujur, dan menyentuh.
Kip Berman (vokalis dan gitaris), beberapa kali terlihat menahan haru di atas panggung. Selama bertahun-tahun, ia mengaku sering menerima pesan dari penggemar Indonesia yang meminta mereka tampil di Jakarta.
Malam itu, permintaan panjang itu akhirnya terwujud. Kip tidak hanya menyapa penonton, tetapi juga memberikan apresiasi khusus kepada musisi Indonesia yang menurutnya layak mendapat sorotan.
“Di sini banyak band bagus seperti White Shoes & The Couples Company, Tosing Seed, The Bunbury, Drizzly, Pastel Badge. Indie pop sangat happening di sini. Kami sangat senang bersama kalian,” ujar frontman The Pains of Being Pure at Heart itu.
Ucapan itu disambut sorak hangat penonton, sebuah penghargaan yang jarang keluar dari bibir musisi asing yang manggung di Indonesia.
Kesan ramah The Pains of Being Pure at Heart tidak berhenti di panggung. Beberapa personelnya terlihat sengaja berkeliling area Joyland Sessions, menyapa para penggemar secara langsung. Mereka berfoto bersama, mengobrol santai, hingga menandatangani rilisan fisik atau poster yang dibawa para fan.

Gestur sederhana itu menjadikan hubungan mereka dengan penggemar terasa lebih dekat, nyaris seperti reuni keluarga besar.
Satu momen tak terduga terjadi di area White Peacock. Tanpa pengumuman, tanpa pengamanan khusus, Kip Berman muncul membawa gitar akustik. Di hadapan para penggemar yang kebetulan berada di sana, ia membawakan lagu Bob Dylan secara spontan, tanpa jarak, seolah sedang bermain di ruang tamu teman sendiri.
Tak ada panggung, tak ada lampu sorot. Hanya Kip, gitar, dan puluhan orang yang beruntung menyaksikan salah satu momen paling intim sepanjang Joyland Sessions. Momen yang, bagi banyak penonton, mungkin tak akan pernah terulang.
Penampilan The Pains of Being Pure at Heart di Joyland Sessions bukan sekadar nostalgia. Ia menjadi pengingat bahwa musik shoegaze dengan gemuruh gitar dan melodi lembut yang menghantui, masih punya ruang besar di hati para pendengarnya.
Dan untuk satu akhir pekan di Jakarta, ruang itu hidup kembali. Dentuman musik The Pains of Being Pure at Heart, sorak penonton, hingga kejutan kecil di White Peacock menjadikan Joyland Sessions sebuah perayaan yang hangat: tentang musik, tentang kerinduan, dan tentang pertemuan yang akhirnya terjadi.
The Pains of Being Pure at Heart pun sukses menyihir penggemarnya. Band indie shoegaze itu menunjukkan dentuman gitar dan melodi pahit-manis yang dulu mengantar mereka ke puncak popularitas, masih sama kuatnya seperti saat album debut yang dirilis pada 2009.
Penutup manis dari aksi L’Impératrice

Joyland Sessions 2025 hari pertama ditutup band nu-disco asal Prancis, L’Impératrice. Dengan musik disko yang groovy, mereka langsung mengajak penonton berdansa sejak lagu pertama dimainkan. Atmosfer festival terasa hangat, meski langit Jakarta kembali menumpahkan hujan.
Malam tadi, L’Impératrice tampil dengan vokalis baru, Louve, yang menggantikan Flore Benguigui. Ia tampil bersama formasi lengkap: Charles de Boisseguin (keyboard), Tom Daveau (drum), David Gaugué (bass), Hagni Gwon (keyboard), dan Achille Trocellier (gitar).
Penampilan di Jakarta menjadi bagian dari tur Asia pertama mereka bersama Louve. Tur ini membawa materi dari album Pulsar (2024) sekaligus mempromosikan single baru “Chrysalis”.
Louve membuka konser dengan seruan hangat, “Malam, Jakarta! Apakah kalian siap malam ini? Apakah malam ini akan mantap? Mari kita mantap-kan, guys!” Seruan itu langsung membangkitkan energi penonton.
Hujan deras tak menyurutkan ribuan penggemar, mereka tetap berjoget walau diguyur air dari langit. Selain lagu-lagu dari Pulsar, L’Impératrice membawakan Submarine dan Voodoo dari Tako Tsubo (2021).
Mereka juga memanjakan penonton dengan solo bas David Gaugué, sementara Louve terus berdansa mengikuti irama.
Skala Joyland Sessions memang lebih kecil dari Joyland Festival. Namun, hari pertama festival musik yang diisi Bright Eyes, The Pains of Being Pure at Heart, L’Impératrice dan musisi-musisi Indonesia lintas-generasi, tetap sangat memuaskan penonton.
Line-up itu seolah jadi “pahlawan” akhir pekan bagi para pekerja urban yang ingin rehat sejenak dari tuntutan hidup. Di bawah pohon rindang, kita menikmati musik indie sambil menapak bumi yang justru sedang gelisah.



















