ilustrasi hewan kurban (vecteezy.com/Andi Ariesda)
Setelah memahami bahwa kambing dan domba setara secara syariat, langkah berikutnya adalah memilih berdasarkan kualitas dan di sinilah letak perbedaan yang sesungguhnya bermakna. Para ulama sepakat bahwa semakin tinggi kualitas hewan kurban, maka semakin besar pula nilai pahala yang diperoleh pelakunya. Kriteria hewan kurban yang baik mencakup empat hal utama yakni tubuh gemuk dan berisi, daging yang banyak, kondisi fisik sehat tanpa cacat, serta harga yang mencerminkan kualitasnya. Hewan yang cacat secara nyata, seperti buta sebelah, pincang parah, sangat kurus hingga tulangnya terlihat, atau sakit hukumnya tidak sah dijadikan kurban.
Ketentuan ini bersumber dari hadis riwayat al-Barra' bin 'Azib yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Imam at-Tirmidzi. Satu ketentuan penting lainnya: satu ekor kambing atau domba hanya sah untuk kurban satu orang, tidak boleh patungan seperti halnya sapi yang boleh ditanggung tujuh orang sekaligus. Secara praktis, domba ras unggul seperti domba Garut, Texel, atau Merino yang diternakkan secara intensif kerap memiliki bobot lebih besar dan daging lebih banyak dibandingkan kambing lokal pada kisaran harga yang sama. Namun, kambing Boer atau Peranakan Etawah (PE) yang dibesarkan dengan pakan berkualitas pun mampu melampaui bobot domba biasa. Jadi, fokuslah pada kualitas individu hewannya, bukan sekadar jenisnya, karena itulah yang benar-benar mencerminkan kesungguhan ibadah kurban yang kamu tunaikan.
Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan lebih baik kurban kambing atau domba bergantung pada ketersediaan, kemampuan finansial, dan kualitas hewan yang kamu temukan di lapangan. Pastikan hewan yang kamu pilih memenuhi syarat, bebas cacat, dan memiliki kualitas terbaik yang bisa kamu jangkau agar ibadah kurban benar-benar bernilai maksimal di sisi Allah.