Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Perbedaan Drama dan Teater, Serupa tapi Tak Sama
ilustrasi suasana di kelas teater (pexels.com/cottonbro studio)

  • Drama adalah karya sastra berupa naskah dengan dialog, konflik, dan alur, sedangkan teater merupakan seni pertunjukan yang mewujudkan cerita di hadapan penonton.

  • Perbedaan utama terletak pada fokus dan wujud: drama dapat dianalisis sebagai teks mandiri, sementara teater mengandalkan akting, tata panggung, cahaya, kostum, serta kolaborasi tim.

  • Jenis drama mencakup tragedi, komedi, opera, melodrama, farce, tablo, dan sendratari; teater dibagi menjadi tradisional, rakyat, klasik, transisi, serta modern.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam dunia sastra dan seni pertunjukan, istilah drama dan teater sering kali dianggap hal yang sama namun sebenarnya berbeda. Keduanya punya definisi, karakteristik, serta bentuk penyajian yang cukup berbeda.

Agar tidak keliru, simak ulasan lengkap mengenai pengertian, perbedaan, serta ragam jenis teater berikut ini!

1. Definisi drama dan teater

Ilustrasi seorang aktor pada sebuah pertunjukan teater (pexels.com/Ernest Ghazaryan )

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai perbedaan drama dan teater, mari kita ulas definisi keduanya terlebih dahulu. Berikut adalah perbedaannya:

  • Drama: Karya sastra berupa kisah atau tiruan perilaku kehidupan manusia yang memuat dialog, konflik, serta alur cerita, di mana naskah tersebut dirancang untuk dipentaskan atau disajikan di atas panggung.

  • Teater: Bentuk seni pertunjukan secara menyeluruh yang mementaskan kisah atau naskah di hadapan penonton dengan memadukan unsur pemeranan, tata panggung, gerak, suara, tata cahaya, serta elemen pendukung lainnya.

2. Perbedaan drama dan teater

ilustrasi teater (unsplash.com/Andres Medina)

Meskipun drama dan teater saling berkaitan erat dalam pementasan seni peran, terdapat beberapa perbedaan mendasar antara keduanya:

  • Fokus Utama

    • Drama: Kekuatan utamanya bertumpu pada jalinan cerita, konflik yang mendalam, serta dialog yang dirancang oleh penulis.

    • Teater: Tidak hanya bergantung pada isi naskah, teater menitikberatkan bagaimana cerita tersebut dihidupkan dan disajikan secara visual di atas panggung. Naskah sederhana bisa tampak luar biasa jika dipentaskan dengan matang, begitupun sebaliknya.

  • Bentuk Karya

    • Drama: Dikategorikan sebagai karya sastra yang elemennya seperti tema, tokoh, latar, dan amanat sehingga dapat dipelajari serta dianalisis secara mandiri dari balik teks.

    • Teater: Masuk ke dalam ranah seni pertunjukan, di mana nilai seninya dinilai dari keseluruhan cara pementasan dan penampilan di hadapan publik.

  • Wujud Fisik

    • Drama: Berbentuk naskah atau teks tertulis yang memuat dialog dan petunjuk adegan, sehingga sifatnya masih berupa potensi cerita.

    • Teater: Merupakan wujud nyata dan aktual dari naskah tersebut yang dieksekusi melalui akting, ekspresi suara, gerak tubuh, tata lampu, hingga kostum di atas panggung.

  • Sifat Produksi

    • Drama: Dapat berdiri sendiri sebagai sebuah karya tulis utuh meskipun belum pernah dipentaskan sama sekali.

    • Teater: Memerlukan kolaborasi dan kerja sama tim yang solid dari banyak pihak—mulai dari aktor, sutradara, penata artistik, hingga kru panggung—karena lahir dari proses kreatif bersama.

  • Penampilan

    • Drama: Dapat dinikmati cukup dengan membaca teksnya saja untuk memahami karakter dan alur yang dibangun.

    • Teater: Memberikan pengalaman emosional yang lebih kuat apabila disaksikan secara langsung, karena penonton bisa merasakan atmosfer panggung dan interaksi nyata dari para pemain.

3. Jenis-jenis drama

ilustrasi teater (unsplash.com/Kyle Head)

Drama memiliki banyak jenis yang dikelompokkan berdasarkan cara penyajian dialog serta bentuk pengemasannya. Berikut adalah beberapa jenis drama yang paling umum.

1. Tragedi

Drama jenis ini berfokus pada kisah-kisah penuh kepedihan. Alurnya umumnya mengikuti kejatuhan sang tokoh utama yang berujung pada kegagalan tragis, penderitaan mendalam, hingga kematian di akhir cerita.

2. Komedi

Sesuai namanya, kategori ini menyajikan suasana yang ceria dan sarat dengan unsur humor untuk mengundang gelak tawa penonton. Walaupun sangat menghibur dan digemari berbagai kalangan, komedi dalam drama tetap terikat pada alur dan kaidah pementasan yang terstruktur, bukan sekadar lelucon spontan ala panggung lawak.

3. Opera

Opera merupakan bentuk pementasan drama yang seluruh dialognya dibawakan melalui alunan musik dan nyanyian. Setiap pemain biasanya memiliki karakter vokal atau lagu yang berbeda, di mana elemen musik dan lagu menjadi penopang utama untuk membangun suasana cerita, sementara para tokoh berperan sebagai medium penyampainya.

4. Melodrama

Merupakan perkembangan dari opera, melodrama menyajikan dialog para tokoh yang diucapkan diiringi oleh alunan melodi atau musik tertentu. Dalam praktiknya, para pemain tidak hanya berdialog, tetapi juga kerap bernyanyi dan menari mengikuti irama musik yang mengiringi adegan.

5. Tablo

Dalam pementasan tablo, para pemain sama sekali tidak menggunakan dialog. Seluruh jalinan cerita disampaikan sepenuhnya melalui gerak tubuh, ekspresi, dan tarian bermakna yang dibawakan sepanjang pertunjukan.

6. Sendratari

Sendratari (Seni Drama dan Tari) memadukan unsur seni peran dan seni tari tanpa menggunakan dialog lisan. Gerakan tubuh yang ekspresif diandalkan untuk menggantikan peran kata-kata. Di Indonesia, bentuk seni ini sangat populer untuk menceritakan kisah-kisah epik tradisional seperti penyelamatan Dewi Sinta dalam epos Ramayana.

7. Farce (Dagelan)

Farce adalah jenis drama komedi ringan yang sering kali dikemas dengan humor slapstick atau adegan fisik yang berlebihan dan konyol. Karena sifatnya yang sangat santai, genre ini kerap dijuluki sebagai komedi picisan.

4. Jenis-jenis teater

ilustrasi teater (unsplash.com/Larisa Birta)

Dalam perkembangannya, teater dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan bentuk dan sejarah penyajiannya:

  • Teater Tradisional: Pertunjukan yang tumbuh dan berkembang dari budaya lokal suatu daerah dengan mengandalkan unsur adat, bahasa daerah, serta musik tradisional khas setempat.

  • Teater Rakyat: Bentuk teater yang lahir dari kebiasaan masyarakat setempat, bersifat spontan, akrab dengan penonton, dan sering kali dipentaskan di ruang terbuka tanpa panggung megah.

  • Teater Klasik: Pertunjukan yang sudah memiliki aturan atau pakem yang ketat, biasanya lahir di lingkungan istana atau kaum bangsawan dengan standar estetika yang tinggi.

  • Teater Transisi: Jenis teater yang menjadi jembatan antara teater tradisional dan teater modern, di mana mulai masuk unsur-unsur cerita tertulis namun tetap mempertahankan sentuhan gaya tradisional.

  • Teater Modern: Teater yang lebih bebas dalam hal bentuk, tema, penulisan naskah, serta teknik pementasan yang mengadopsi gaya kontemporer dan universal.

Itulah perbedaan drama dan teater yang perlu kamu ketahui. Meski keduanya tampak mirip, ada garis pemisah yang cukup mendasar. Semoga informasi ini bisa semakin menambah wawasanmu!

Curated For You

Editorial Team

Related Article