Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Perbedaan Freelancer dan Remote Worker, dari Waktu hingga Kontrak
ilustrasi kerja remote (pexels.com/olia danilevich)
  • Freelancer bekerja independen untuk klien berbasis proyek, sedangkan remote worker dapat berstatus karyawan perusahaan yang menjalankan tugas dari jarak jauh.
  • Freelancer umumnya lebih leluasa mengatur waktu, tetapi pendapatannya bergantung proyek; remote worker bisa terikat jadwal perusahaan dengan gaji yang lebih teratur.
  • Kontrak freelancer berfokus pada proyek, tarif, dan tenggat, sementara remote worker memiliki aturan kerja berkelanjutan serta berpotensi menerima fasilitas perusahaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan dunia kerja membuat bekerja dari rumah atau tempat lain di luar kantor semakin lazim, tetapi status setiap pekerja ternyata gak selalu sama. Istilah freelancer dan remote worker kerap dianggap serupa karena keduanya sama-sama dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa harus datang ke kantor setiap hari. Padahal, perbedaan keduanya cukup mendasar, mulai dari hubungan dengan perusahaan sampai kebebasan mengatur pekerjaan.

Memahami perbedaan tersebut penting, terutama bagi orang yang sedang mencari pola kerja paling sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidupnya. Ada yang merasa lebih nyaman dengan fleksibilitas tinggi sebagai freelancer, sementara sebagian lainnya lebih menyukai kepastian sebagai remote worker. Supaya gak lagi tertukar saat menemukan kedua istilah tersebut dalam informasi lowongan kerja, yuk pahami perbedaannya!

1. Status hubungan kerja yang berbeda

ilustrasi video call (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions)

Seorang freelancer umumnya bekerja secara independen dan menawarkan jasa kepada klien berdasarkan proyek atau kesepakatan tertentu. Ia gak selalu terikat sebagai karyawan tetap pada satu perusahaan sehingga dapat menangani pekerjaan dari beberapa klien dalam periode yang sama. Hubungan profesional tersebut membuat posisi freelancer lebih dekat dengan penyedia jasa independen daripada anggota internal sebuah perusahaan.

Sementara itu, remote worker merujuk pada pekerja yang menjalankan tugas dari jarak jauh, tetapi statusnya dapat tetap menjadi bagian dari sebuah perusahaan. Ia biasanya mempunyai posisi, tanggung jawab, serta struktur pelaporan sebagaimana pekerja lain yang bekerja dari kantor. Jadi, istilah remote lebih menjelaskan lokasi atau sistem kerja, sedangkan freelance berkaitan dengan bentuk hubungan profesional yang dijalani.

2. Kebebasan mengatur waktu kerja gak selalu sama

ilustrasi pria kerja remote di kafe (pexels.com/Arina Krasnikova)

Fleksibilitas waktu menjadi salah satu daya tarik utama pekerjaan freelance karena pekerja umumnya memiliki keleluasaan lebih besar dalam menentukan kapan tugas diselesaikan. Selama hasil pekerjaan sesuai tenggat dan kesepakatan dengan klien, jam kerja dapat disesuaikan dengan rutinitas pribadi. Namun, kebebasan tersebut juga menuntut kemampuan mengatur waktu karena beberapa proyek dapat memiliki tenggat yang berdekatan.

Berbeda dengan itu, seorang remote worker belum tentu bebas menentukan jam kerja meskipun gak datang langsung ke kantor. Perusahaan dapat tetap menerapkan jadwal tertentu, jam kerja inti, atau pertemuan daring yang wajib diikuti oleh seluruh anggota tim. Artinya, bekerja dari rumah gak otomatis membuat seseorang bebas memulai dan mengakhiri pekerjaan sesuka hati.

3. Sistem pendapatan memiliki tingkat kepastian berbeda

ilustrasi pria kerja remote di kafe (pexels.com/Vladislav Šmigelski)

Pendapatan seorang freelancer biasanya berasal dari pembayaran setiap proyek, durasi pekerjaan, atau skema lain yang telah disepakati bersama klien. Jumlah penghasilan dalam satu bulan dapat berubah karena bergantung pada banyaknya proyek, tarif jasa, dan ketersediaan klien. Kondisi tersebut menawarkan peluang memperoleh pendapatan lebih besar, tetapi juga membawa risiko ketika jumlah proyek sedang menurun.

Seorang remote worker yang berstatus karyawan biasanya mempunyai pola pendapatan lebih teratur sesuai ketentuan perusahaan. Gaji dibayarkan berdasarkan periode tertentu tanpa bergantung langsung pada jumlah proyek yang diperoleh secara mandiri. Kepastian tersebut dapat terasa lebih nyaman bagi orang yang membutuhkan pemasukan stabil untuk mengatur kebutuhan finansial bulanan.

4. Kontrak menentukan hak dan tanggung jawab pekerja

ilustrasi pria kerja remote (pexels.com/Vlada Karpovich)

Kontrak freelancer biasanya berfokus pada ruang lingkup pekerjaan, tarif, tenggat, jumlah revisi, hingga mekanisme pembayaran yang telah disepakati dengan klien. Masa hubungan kerja juga dapat berakhir ketika proyek selesai apabila kedua pihak gak membuat kesepakatan lanjutan. Karena sifatnya berbasis jasa, setiap klien dapat memberikan ketentuan kontrak yang berbeda sesuai kebutuhan proyek.

Sementara itu, kontrak seorang remote worker yang berstatus karyawan umumnya mengatur hubungan kerja secara lebih luas dan berkelanjutan. Dokumen tersebut dapat mencakup jabatan, jam kerja, gaji, hak pekerja, kebijakan perusahaan, sampai ketentuan penghentian hubungan kerja. Perbedaan ini menunjukkan bahwa sama-sama bekerja dari laptop di rumah belum tentu membuat seseorang memiliki status kontrak yang identik.

5. Tunjangan dan fasilitas kerja dapat berbeda

ilustrasi pria kerja freelance (pexels.com/Tony Schnagl)

Seorang freelancer umumnya perlu menanggung sendiri berbagai kebutuhan yang mendukung pekerjaannya. Laptop, koneksi internet, perangkat lunak, ruang kerja, hingga perlindungan finansial perlu diperhitungkan ketika menentukan tarif jasa. Beberapa klien memang dapat menyediakan fasilitas tertentu, tetapi hal tersebut bergantung pada kesepakatan dan bukan sesuatu yang selalu tersedia.

Sebaliknya, remote worker yang menjadi karyawan dapat memperoleh fasilitas atau tunjangan sesuai kebijakan perusahaan dan ketentuan hubungan kerjanya. Perusahaan tertentu menyediakan perangkat kerja, tunjangan internet, cuti, asuransi, atau fasilitas lain meskipun pekerjanya menjalankan tugas dari rumah. Hal tersebut menjadi salah satu alasan sistem kerja remote dapat menarik bagi orang yang menginginkan fleksibilitas lokasi tanpa sepenuhnya meninggalkan kepastian sebagai karyawan.

Freelancer dan remote worker memang sama-sama dapat bekerja tanpa duduk di kantor setiap hari, tetapi keduanya memiliki konsep yang berbeda. Freelance lebih berkaitan dengan status hubungan kerja independen, sedangkan remote merujuk pada cara atau lokasi seseorang menjalankan pekerjaannya. Memahami perbedaan waktu kerja, pendapatan, kontrak, dan fasilitas dapat membantu menentukan pola kerja yang paling sesuai dengan kebutuhan serta prioritas hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article