Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Tongkronganmu Mulai Gak Sehat, Mending Jaga Jarak Deh!
ilustrasi berkumpul bersama teman (pexels.com/Henri Mathieu-Saint-Laurent)
  • Artikel membahas tanda-tanda tongkrongan yang mulai tidak sehat, seperti munculnya kelompok kecil dan keputusan selalu didominasi satu orang.
  • Ditekankan juga masalah patungan yang tidak adil serta kebiasaan membicarakan teman yang tidak hadir sebagai pemicu hilangnya rasa percaya.
  • Tanda terakhir adalah ketika seseorang merasa tidak bisa jadi diri sendiri di tongkrongan, menjadi sinyal untuk menjaga jarak demi kenyamanan pribadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tongkrongan sering jadi tempat paling nyaman buat melepas penat setelah kuliah atau pulang kerja. Duduk berjam-jam di warkop, ngobrol ngalor-ngidul, sampai saling ledek biasanya sudah jadi rutinitas yang bikin betah.

Meski begitu, gak semua circle bisa bertahan dengan suasana yang sama. Ada kebiasaan yang awalnya terlihat sepele, tetapi lama-lama justru bikin kumpul bareng jadi kurang nyaman. Kalau lima kebiasaan berikut mulai sering muncul, mungkin sudah saatnya mengevaluasi lagi circle yang kamu punya.

1. Mulai muncul circle kecil di dalam tongkrongan

ilustrasi cowok sedang berkumpul (pexels.com/Thirdman)

Dulu setiap ada rencana nongkrong, hampir semua orang selalu diajak. Belakangan, kamu malah lebih sering tahu mereka sudah kumpul dari unggahan media sosial atau foto yang dikirim setelah acara selesai. Kalau sudah begitu, kamu mulai sadar kalau ada yang berubah di tongkrongan itu.

Sesekali pergi dengan teman tertentu tentu bukan masalah. Ceritanya jadi berbeda kalau orang yang tertinggal hampir selalu itu-itu saja. Kebiasaan seperti ini bisa membuat rasa kebersamaan di dalam tongkrongan pelan-pelan memudar.

2. Semua keputusan selalu ditentukan orang yang sama

ilustrasi teman yang dominan (pexels.com/khezez | خزاز)

Grup chat sebenarnya ramai setiap kali membahas rencana nongkrong. Begitu ada yang mengusulkan tempat baru, obrolannya malah berakhir dengan pilihan yang diinginkan oleh orang yang sama lagi. Setiap keputusan akhirnya seperti sudah bisa ditebak sejak awal.

Kalau terus dibiarkan, teman lain jadi malas ikut memberi pendapat. Bukan karena gak punya usul, tetapi merasa suaranya gak akan mengubah hasilnya. Tongkrongan yang harusnya jadi tempat semua orang menikmati waktu bersama malah terasa mengikuti kemauan satu orang.

3. Urusan patungan selalu berakhir gak enak

ilustrasi berkumpul di kafe (pexels.com/Henri Mathieu-Saint-Laurent)

Pas tagihan datang, semua sepakat membayar dengan cara patungan rata. Masalahnya, ada yang memesan makan paling banyak, tambah minuman, bahkan masih sempat mengambil camilan, sedangkan yang lain cuma makan seadanya. Giliran bayar, jumlah yang dikeluarkan tetap sama.

Sekali dua kali mungkin masih bisa dimaklumi. Lain cerita kalau pola seperti ini terus berulang setiap kali nongkrong. Kalau sudah begitu, yang terjadi bukan lagi solidaritas, melainkan memanfaatkan rasa gak enakan teman sendiri.

4. Teman yang gak hadir selalu jadi bahan obrolan

ilustrasi ngumpul-ngumpul (pexels.com/Kevin Malik)

Begitu satu orang gak datang, arah pembicaraan mendadak berubah. Hal-hal yang sebenarnya gak penting malah ikut diungkit, lalu obrolannya makin panjang karena semua orang ikut menambahkan cerita. Candaan yang awalnya terdengar ringan akhirnya berubah jadi bahan gosip.

Hari ini yang dibahas mungkin teman yang sedang berhalangan hadir. Besok bisa saja giliran kamu saat gak ikut nongkrong. Kalau itu sudah menjadi kebiasaan, rasa saling percaya di dalam circle perlahan ikut berkurang.

5. Nongkrong malah bikin kamu gak jadi diri sendiri

ilustrasi tidak nyaman (pexels.com/Vitaly Gariev)

Belakangan, kamu lebih sering jadi pendengar daripada ikut masuk ke obrolan. Beberapa kali ingin bercanda atau menyampaikan pendapat, tetapi niat itu langsung diurungkan karena khawatir malah jadi bahan ledekan. Akhirnya, kamu cuma ikut tertawa dan menunggu waktu buat pulang.

Jika suasana seperti ini terus terjadi, nongkrong malah jadi gak asyik. Kamu datang karena gak enak menolak, bukan karena benar-benar menikmati kebersamaannya. Tongkrongan yang sehat seharusnya bikin setiap orang merasa diterima tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.

Perbedaan pendapat atau konflik kecil memang wajar terjadi di setiap tongkrongan. Namun, kalau kebiasaan yang merugikan terus berulang dan mulai dianggap biasa, mungkin sudah waktunya menjaga jarak demi kenyamananmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article