Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tipe MBTI Cowok yang Paling Susah Move On dari Mantan
ilustrasi belum bisa move on dari mantan (unsplash.com/Adrian Swancar)
  • Artikel membahas lima tipe MBTI pria—INFJ, ISFJ, INFP, ENFJ, dan ESFJ—yang dikenal paling sulit move on karena sifat sentimental dan keterikatan emosional yang kuat terhadap pasangan.
  • Masing-masing tipe memiliki alasan berbeda dalam menghadapi perpisahan, mulai dari idealisme cinta mendalam hingga ketergantungan pada rutinitas dan pengakuan sosial yang membuat proses penyembuhan berjalan lambat.
  • Tulisan menekankan bahwa intensitas cinta berbanding lurus dengan lamanya pemulihan hati, serta pentingnya menghargai proses kedukaan emosional tanpa memaksakan diri untuk segera melupakan masa lalu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Proses melupakan mantan kekasih bagi setiap pria tentu berbeda-beda. Sebagian orang bisa dengan cepat melanjutkan hidup, tetapi sebagian lainnya justru kerap terjebak dalam kenangan masa lalu untuk waktu yang lama. Kecenderungan sulit melepaskan hubungan lama ini ternyata berkaitan erat dengan karakter dasar seseorang, yang salah satunya dapat dipetakan melalui tipe MBTI (Myers-Briggs Type Indicator).

Tipe kepribadian tertentu memiliki sifat yang sangat sentimental, memegang teguh komitmen, atau sering menganalisis kesalahan masa lalu secara berlebihan. Karakteristik tersebut membuat proses merelakan perpisahan menjadi jauh lebih berat. Berikut lima tipe MBTI cowok yang dikenal paling susah move on dari mantan. Apakah tipe kepribadianmu termasuk salah satunya?

1. INFJ

ilustrasi memendam perasaan (unsplash.com/Patrick Daley)

Pria dengan tipe kepribadian ini menempatkan seluruh jiwa dan harapan jangka panjang mereka ketika memutuskan untuk menjalin hubungan asmara dengan seseorang. Karakter mereka yang sangat selektif membuat mereka tidak mudah membuka hati, sehingga sosok kekasih yang berhasil masuk ke dalam hidup mereka dianggap sebagai belahan jiwa yang tiada duanya. Ketika ikatan tersebut terputus, mereka akan merasakan kehilangan yang sangat masif karena runtuhnya visi masa depan yang telah mereka susun secara matang.

Fase pascaputus sering kali dihabiskan oleh mereka untuk melakukan analisis mendalam mengenai kesalahan apa yang telah terjadi di masa lalu secara berulang-ulang. Sifat mereka yang cenderung memendam perasaan membuat proses penyembuhan luka batin berjalan sangat lambat di balik pembawaan mereka yang tampak tenang di luar. Memori tentang percakapan mendalam dan momen-momen intim bersama mantan akan terus berputar di kepala mereka, bahkan setelah bertahun-tahun hubungan tersebut berakhir.

2. ISFJ

ilustrasi kesulitan beradaptasi (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Karakter pria satu ini terkenal dengan kesetiaannya yang luar biasa kuat serta kecenderungannya untuk merawat pasangan melalui tindakan nyata sehari-hari. Mereka merekam setiap detail kenangan secara kronologis di dalam ingatan mereka, mulai dari aroma parfum mantan hingga tempat pertama kali mereka bertemu. Kedekatan yang berbasis pada rutinitas harian ini membuat ruang hidup mereka terasa sangat hampa dan asing begitu sosok pasangan mendadak hilang dari kehidupan mereka.

Mereka kesulitan beradaptasi dengan perubahan status hubungan karena kenyamanan yang telah terbiasa mereka rasakan bersama orang yang sama. Rasa tanggung jawab yang tinggi sering kali membuat mereka menyalahkan diri sendiri atas kegagalan hubungan yang terjadi, meskipun perpisahan tersebut dipicu oleh faktor eksternal. Mereka cenderung menyimpan barang-barang peninggalan mantan dengan rapi sebagai bentuk penolakan halus terhadap kenyataan bahwa hubungan tersebut telah usai.

3. INFP

ilustrasi emosional (unsplash.com/Yogendra Singh)

Pria dengan kepribadian ini menganggap hubungan asmara sebagai sesuatu yang suci, penuh makna mendalam, dan bersifat sangat idealis. Jiwa mereka yang penuh romantis membuat mereka sering kali menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan sebagai sosok yang sempurna tanpa cela. Begitu ikatan cinta tersebut kandas, mereka cenderung mengisolasikan diri di dalam dunia fantasi batin mereka sendiri sambil terus meratapi hilangnya cinta sejati.

Mereka memiliki kecenderungan untuk melakukan glorifikasi terhadap sosok mantan kekasih dengan hanya mengingat sisi-sisi kebaikan dan momen indah saja selama berpacaran. Hal tersebut membuat mereka menganggap bahwa tidak akan ada lagi orang lain yang mampu menggantikan posisi atau menyamai kualitas diri si mantan di masa depan. Perasaan rindu yang meluap-luap ini sering kali dituangkan ke dalam bentuk karya seni atau tulisan melankolis sebagai sarana katarsis emosional yang tidak kunjung usai.

4. ENFJ

ilustrasi kecewa (unsplash.com/Dev Asangbam)

Sebagai pribadi yang menempatkan kesuksesan hubungan orang lain di atas ego pribadi, pria tipe ini menganggap perpisahan sebagai bentuk kegagalan personal yang fatal. Mereka merasa telah mengerahkan seluruh energi, waktu, dan pengorbanan terbaik demi membahagiakan pasangan namun berujung pada kekecewaan. Sifat mengayomi yang kuat membuat mereka tetap memiliki keinginan tersembunyi untuk memantau perkembangan hidup mantan kekasih secara berkala dari kejauhan.

Meskipun di depan lingkaran pertemanan mereka tampak sudah kembali ceria dan beraktivitas normal, batin mereka sebenarnya masih tertinggal di masa lalu. Mereka kesulitan menghapus kontak atau memutus hubungan pertemanan dengan mantan karena masih menaruh harapan fiktif tentang adanya kesempatan kedua untuk memperbaiki keadaan. Fokus hidup mereka yang terlalu berorientasi pada pemulihan kebahagiaan orang lain membuat luka hati mereka sendiri terabaikan dan sulit mengering.

5. ESFJ

ilustrasi pria sedang cemas (freepik.com/freepik)

Pria tipe ini sangat menikmati status hubungan sosial yang mapan dan bangga saat bisa memperkenalkan pasangan mereka ke dalam lingkaran keluarga besar. Kehilangan pasangan hidup bagi mereka berarti harus merestrukturisasi kembali seluruh tatanan interaksi sosial yang telah melekat erat dalam keseharian mereka. Mereka kerap merasa cemas dan kesepian saat mendapati diri mereka harus menghadiri acara komunal sendirian tanpa adanya pendamping di sisi mereka.

Ketergantungan yang tinggi pada pengakuan sosial membuat mereka sering kali membanding-bandingkan setiap orang baru yang mendekat dengan standar yang pernah ditetapkan oleh sang mantan. Mereka membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa benar-benar membuka lembaran baru karena proses melepaskan kebiasaan lama terasa sangat menyiksa fisik dan mental. Cerita-cerita lama tentang kejayaan hubungan masa lalu akan terus menjadi topik yang sering mereka ulas saat sedang berkumpul bersama sahabat terdekat.

Kesulitan untuk beranjak dari kenangan masa lalu membuktikan bahwa setiap tipe kepribadian memiliki mekanisme pertahanan ego yang berbeda dalam mengelola rasa kehilangan. Kelima karakter di atas menunjukkan bahwa intensitas cinta yang besar sering kali berbanding lurus dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan kesehatan mental setelah patah hati. Menghargai setiap proses kedukaan emosional secara bijak tanpa perlu memaksakan diri merupakan langkah terbaik untuk menyambut peluang kebahagiaan baru di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article