Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sepatu Converse Buatan Mana? Ini Asal-Usul dan Sejarahnya

3 min read
Sepatu Converse Buatan Mana? Ini Asal-Usul dan Sejarahnya
ilustrasi sepatu Converse (pexels.com/ready made)

  • Converse pertama kali dirancang di Boston dan perusahaan didirikan Marquis Mills Converse pada 1908 di Malden, Massachusetts, sebelum berkembang menjadi anak perusahaan penuh NIKE, Inc.

  • Pada 1917, Converse meluncurkan All Star sebagai sepatu basket dengan fitur pelindung pergelangan kaki, sol motif berlian, serta material kanvas dan karet kokoh.

  • Chuck Taylor bergabung pada 1921, membantu menyempurnakan dan mempromosikan All Star; namanya disematkan pada ankle patch sejak 1932, diikuti pengembangan model low-top dan One Star.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sneakers dengan logo bintang ini telah menjadi salah satu alas kaki paling populer di dunia, termasuk di Indonesia. Kepopuleran tersebut tentu bukan tanpa alasan. Kualitas sepatu yang tinggi serta kenyamanan saat dipakai membuat Converse menjadi pilihan favorit banyak orang. Terlebih lagi, sebagai brand global, Converse sering kali menggandeng dan berkolaborasi dengan berbagai merek serta desainer ternama.

Meskipun begitu, banyak orang yang kerap bertanya-tanya mengenai asal-usul serta tempat pembuatan merek sepatu legendaris ini. Daripada kamu penasaran, yuk mari simak pembahasan asal-usul sepatu Converse berikut.

  1. 1. Sepatu Converse buatan mana?

    sepatu converse buatan mana
    ilustrasi converse shoe (unsplash.com/Camila Damásio)

    Sepatu Converse pertama kali dirancang di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, oleh Marquis Mills Converse. Perusahaan ini awalnya didirikan dengan nama Converse Rubber Shoe Company pada tahun 1908 di Malden, Massachusetts.

    Pada awal kemunculannya, perusahaan tidak langsung memproduksi sepatu fashion, melainkan menjual segala hal berbahan dasar karet untuk pria, wanita, dan anak-anak, mulai dari sepatu bot, sepatu tenis, sepatu hunting berbahan kulit, hingga ban mobil.

    Seiring berjalannya waktu dan setelah mampu memproduksi ribuan pasang sepatu setiap harinya, perusahaan yang dulunya fokus pada produk karet ini kini telah berkembang pesat dan menjadi anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Nike, Inc.

  2. 2. Sejarah awal lahirnya Converse All Star

    sepatu converse buatan mana
    ilustrasi sepatu Converse (pexels.com/AaDil)

    Kurang dari satu dekade sejak pertama kali berdiri, tepatnya pada tahun 1917, Converse memperkenalkan produk andalannya yaitu Converse All Star yang ditujukan khusus sebagai sepatu bola basket. Pada masa itu, desainnya tampil berbeda dari sepatu basket lain yang beredar di pasaran dan hadir dengan warna neutral brown disertai strip hitam. Demi memberikan keunggulan performa bagi para pemain di lapangan, beberapa detail fungsional disematkan, seperti:

    • Bagian heel patch yang pada awalnya diletakkan di bagian dalam sepatu untuk melindungi tulang pergelangan kaki dari cedera.
    • Sol luar dengan pola motif berlian khas yang membantu pemain berhenti dan mengubah arah dengan lebih cepat.
    • Penggunaan material upper kanvas dan karet berkualitas tinggi yang kokoh untuk menunjang aktivitas berat di lapangan.

    Sebelum era sepatu basket modern mendominasi, Converse All Star bahkan sempat menjadi sepatu resmi Olimpiade dari tahun 1936 hingga 1968. Uniknya, sepatu ini sempat digunakan juga oleh tentara Amerika Serikat saat berlatih untuk Perang Dunia Kedua.

  3. 3. Peran penting Chuck Taylor dan evolusi desain

    sepatu converse buatan mana
    ilustrasi sepatu Converse (pexels.com/Ana Vieira)

    Ketenaran Converse All Star tidak dapat dilepaskan dari sosok pebasket asal Amerika bernama Charles Hollis "Chuck" Taylor. Kisah ini bermula ketika ia mendatangi kantor Converse dengan kondisi kaki yang kesakitan, lalu meminta agar dibuatkan sepatu khusus basket yang memiliki stabilitas serta fleksibilitas tinggi. Setelah resmi bergabung sebagai salesman sekaligus pemain tim All Stars pada tahun 1921, Taylor aktif menyempurnakan desain sepatu serta mengadakan klinik bola basket di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di seluruh Amerika Serikat.

    Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam mempromosikan olahraga basket dan produk ini, nama Chuck Taylor resmi disematkan pada ankle patch sepatu All Star pada tahun 1932. Memasuki dekade-dekade berikutnya, Converse terus melakukan berbagai pembaruan desain seperti peluncuran versi low-top Oxford pada tahun 1957 hingga lini One Star di era 70-an tanpa pernah menghilangkan DNA klasik dari generasi pendahulunya.

    Itulah asal-usul dan sejarah dari sepatu Converse dengan logo bintang ikoniknya. Sepatu yang dulunya dibuat untuk lapangan basket kini telah menjelma menjadi ikon fashion global. Semoga bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia