Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Panglima TNI, Banjir Sumatra
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (pakai topi di tengah) sambut ketibaan 1.980 taruna Akademi TNI yang bantu bencana Sumatra. (Dokumentasi Puspen TNI)

Intinya sih...

  • Ada 1.980 taruna TNI-Polri menyelesaikan Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) Nusantara ke-46 di Aceh setelah satu bulan bertugas membantu pemulihan pasca bencana banjir dan longsor.

  • Panglima TNI, Agus Subiyanto, mengapresiasi dedikasi para taruna dan menekankan pentingnya integrasi antarlembaga serta sinergi antara TNI-Polri dan aparat pemerintah lainnya.

  • Jumlah korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra mencapai 1.205 jiwa, dengan 139 jiwa yang dilaporkan hilang, sementara 74.830 jiwa masih tinggal

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sebanyak 1.980 taruna TNI-Polri menuntaskan Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) Nusantara ke-46 di Aceh. Mereka tiba di Mako Kolinlamil, Jakarta Utara, Sabtu (14/2/2026), dan disambut Panglima TNI, Agus Subiyanto, bersama para kepala staf angkatan.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, menjelaskan latsitarda Nusantara 2026 bukan sekadar agenda latihan. Selama sebulan, para taruna terjun langsung membantu percepatan pemulihan pascabencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah terdampak.

"Taruna Akademi Militer terdiri dari 510 taruna, 238 taruna Akademi Angkatan Laut (AAL), 154 taruna Akademi Angkatan Udara (AAU), taruna Akademi Kepolisian sebanyak 238 orang, taruna politeknik siber dan sandi negara sebanyak 45 orang, kadet dari Universitas Pertahanan 292 orang dan unsur pendukung mencapai 458 orang," ujar Aulia dalam keterangan pada hari ini.

Dalam sambutannya, Agus menyampaikan apresiasi atas dedikasi para taruna selama bertugas di wilayah terdampak bencana. Ia menilai kehadiran mereka menunjukkan integrasi antarlembaga berjalan efektif di lapangan.

“Ini menunjukkan para taruna tidak hanya berlatih secara terintegrasi tetapi juga terjun langsung ke masyarakat untuk membantu percepatan penanggulangan bencana alam di wilayah penugasan,” ujar Agus.

1. Panglima TNI harap penugasan di Aceh bisa munculkan sinergi antara TNI dan Polri

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (pakai topi di tengah) sambut ketibaan 1.980 taruna Akademi TNI yang bantu bencana Sumatra. (Dokumentasi Puspen TNI)

Agus berharap pengalaman penugasan selama satu bulan di Aceh dapat memperkuat nilai kebersamaan antara TNI dan Polri. Menurutnya, sinergi tersebut harus dijaga sebagai modal pengabdian ke depan.

"Jadikan pengalaman ini sebagai landasan untuk terus memelihara dan melibatkan semangat integrasi serta sinergi antara TNI-Polri dan aparat pemerintah lainnya. Tetap jaga disiplin, loyalitas dan profesionalisme untuk menjaga pemimpin yang tangguh, humanis dan berorientasi kepada lepentingan bangsa serta negara," tutur dia.

Ia menegaskan pentingnya disiplin, loyalitas, dan profesionalisme dalam membentuk pemimpin yang tangguh dan humanis.

2. Pengiriman taruna TNI atas permintaan Mendagri Tito

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. (Dok. Satgas PRR)

Pengerahan ribuan taruna dilakukan atas permintaan Kepala Satgas Pemulihan Bencana, Tito Karnavian. Saat itu, sejumlah daerah, khususnya Aceh Tamiang, mengalami gangguan serius pada fasilitas pemerintahan dan layanan publik.

"Untuk pemerintahan kabupaten, semuanya lancar kecuali Aceh Tamiang. Aceh Tamiang kemarin betul-betul down, baik kantornya, dinasnya. Tapi setelah kemudian dikirimkan banyak sekali kekuatan di sana, mulai dari TNI/Polri yang pertama, IPDN 1.100 (personel) lebih, kemudian dari Kementerian Hukum, PoltekKum 500 (personel) ngirim, dan kemarin itu mengirimkan 1.142 (personel) dari Kementerian KKP," ujar Tito saat rapat koordinasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat pada 15 Januari 2026 lalu.

Ketika itu, Tito mengungkapkan ada kekuatan tambahan dari akademi TNI dan Polri. Mereka datang dalam rangka Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitarda).

Sebagian besar taruna difokuskan membantu pemulihan di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Pidie. Mereka bergerak langsung ke lapangan, termasuk mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk mempercepat normalisasi wilayah terdampak.

"Daerah-daerah lumpur semua itu. Akan bergerak mereka door to door," imbuhnya.

Tito menyebut tambahan personel dibutuhkan untuk mempercepat proses pemulihan. Selain TNI-Polri, personel dari IPDN, Kementerian Hukum, hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan turut diterjunkan.

3. Jumlah korban meninggal akibat banjir Sumatra sudah mencapai 1.205 jiwa

Kondisi pemukiman di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pasca banjir, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Sementara, berdasarkan dashboard milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per hari ini, jumlah korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra sudah menembus angka 1.205 jiwa. Angka itu berpotensi terus bertambah, karena masih ada 139 jiwa yang dilaporkan hilang. Sedangkan, 74.830 jiwa masih tinggal di tempat pengungsian.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, menyalurkan dana stimulan perbaikan rumah rusak tahap pertama bagi warga terdampak di 20 kabupaten. Bantuan diberikan dari Tapanuli, Sumatra Utara. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp369,5 miliar

"Bantuan ini diberikan kepada warga dengan kategori rumah rusak ringan (RR) senilai Rp15 juta dan rumah rusak sedang (RS) senilai Rp30 juta," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis pada Jumat, 13 Februari 2026.

Program itu melengkapi dukungan dari pemerintah yang sebelumnya telah disalurkan kepada warga terdampak bencana dengan kategori rusak berat, melalui penyediaan hunian sementara (huntara) dan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebagai biaya sewa tempat tinggal sementara hingga hunian tetap selesai dibangun. DTH per tiga bulan diberikan kepada masing-masing kepala keluarga mencapai Rp1,8 juta.

Editorial Team