Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
115 Kasus Tercatat KPAI, Anak Akhiri Hidup Jadi Alarm Nasional
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

  • KPAI mencatat total 115 kasus bunuh diri anak di Indonesia sepanjang 2023–2025, dengan rentang usia korban dari SD hingga SMA, dan penyebab beragam seperti tekanan ekonomi serta perundungan.

  • Tahun 2023 menjadi periode tertinggi dengan 46 kasus, disusul 43 kasus pada 2024 dan 26 kasus pada 2025, menunjukkan tren yang masih mengkhawatirkan di berbagai daerah.

  • KPAI mendesak pemerintah segera melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat deteksi dini, layanan konseling, dan sistem perlindungan anak di sekolah maupun keluarga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Usai bocah SD berusia 10 tahun di Ngada, Nusa Tennggara Timur yang mengakhiri hidup akibat tekanan kemiskinan pada 29 Januari 2026, ada empat kasus serupa lainnya menyusul selama Februari 2026. Pada Kamis, 12 Februari 2026, terjadi di Demak, Jawa Tengah, Seorang anak berusia 13 tahun berinisial SA ditemukan meninggal dunia dengan cara mengakhiri hidup.

Sebelumnya lagi, ada kasus serupa di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, yang dialami anak berusia 14 tahun. Kasus lain terjadi di Badung, Bali, pelajar SMP berinisial MR, 15 tahun, meninggal pada awal Februari 2026.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sudah melakukan pencatatan kasus anak mengakhiri hidup, dari data yang didapat IDN Times, terdapat 115 kasus tercatat pada 2023-2025.

"Pemerintah harus segera rakor (rapat koordinasi) lintas kementerian lembaga. Ini bukan tanggungjawab satu kementerian saja. Selama tiga tahun menangani kasus bunuh diri anak, ini saya anggap sangat mengkhawatirkan," kata dia kepada IDN Times, dikutip Jumat (20/2/2026).

1. Sepanjang 2025 menunjukkan peristiwa tersebar di berbagai daerah, total ada 26 kasus

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena (tengah) ketika berkunjung ke rumah duka siswa SD YBR di Kabupaten Ngada. (www.instagram.com/@melkilakalena)

Kompilasi kasus anak dan remaja akhiri hidup sepanjang 2025 menunjukkan peristiwa tersebar di berbagai daerah Indonesia, dari tingkat SD hingga SMA, totalnya 26 kasus. Usia korban berkisar 11 sampai 18 tahun, dengan dugaan pemicu beragam seperti tekanan keluarga, perundungan, masalah sekolah, kesehatan mental, hingga faktor ekonomi.

Sejumlah laporan menyebut korban sebelumnya mengalami konflik dengan orang tua atau lingkungan sosial. Namun, banyak kasus tidak memiliki penjelasan tunggal, karena investigasi terbatas pada keterangan awal. Pola ini menegaskan pentingnya deteksi dini, akses konseling, serta penguatan sistem perlindungan anak di sekolah dan keluarga.

2. Sepanjang 2024 menunjukkan sedikitnya 43 peristiwa terjadi

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena (tengah) ketika berkunjung ke rumah duka siswa SD YBR di Kabupaten Ngada. (www.instagram.com/@melkilakalena)

Sementara, data kasus anak dan remaja akhiri hidup sepanjang 2024 menunjukkan sedikitnya 43 peristiwa terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dengan rentang usia korban 5 hingga 17 tahun dari tingkat SD hingga SMA.

Latar belakang yang muncul berulang, meliputi perundungan, pengasuhan, tekanan sekolah, konflik asmara, hingga indikasi gangguan kesehatan mental, meski banyak kasus tidak memiliki penjelasan pasti, karena terbatas pada keterangan awal. Sebaran lokasi yang luas menunjukkan persoalan tidak terkonsentrasi pada daerah tertentu.

3. Sepanjang 2023 menunjukkan sedikitnya 46 peristiwa

Ilustrasi meninggal dunia. (IDN Times/Mardya Shakti)

Kemudian kasus anak dan remaja akhiri hidup sepanjang 2023 menunjukkan sedikitnya 46 peristiwa terjadi di berbagai wilayah Indonesia, dengan rentang usia korban sekitar 10 hingga 17 tahun dari tingkat SD hingga SMA. Ini jadi angka tertinggi dibanding 2024 dan 2025.

Sebaran kasus muncul dari kota besar hingga daerah terpencil, menandakan persoalan tidak terikat lokasi tertentu. Informasi awal dalam sejumlah laporan mengaitkan dengan faktor perundungan, konflik keluarga, tekanan sekolah, hingga masalah sosial pribadi, meski banyak kasus tidak memiliki penjelasan tunggal.

Depresi bukanlah persoalan sepele. Bila kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:

RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565

RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025

RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841

RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601

RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444.

Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.Kamu juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri, lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon 021-06969293 atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

Editorial Team