Kian Mengkhawatirkan, Kasus Anak Akhiri Hidup Harus Segera Dibahas

- Pemerintah perlu menyusun skema komprehensif untuk mendeteksi dan penanganan kasus anak mengakhiri hidup, bukan hanya pencegahan.
- Kasus anak mengakhiri hidup terulang di Nusa Tenggara Timur dan Flores Timur, menimbulkan duka mendalam bagi anak di Indonesia.
- Empat kasus anak akhiri hidup terjadi dalam waktu dua pekan, setelah kejadian memilukan yang dilakukan bocah SD di Ngada, NTT.
Jakarta, IDN Times - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, mendesak pemerintah segera menggelar rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga, menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap kasus anak mengakhiri hidup.
“Pemerintah harus segera rakor lintas kementerian lembaga. Ini bukan tanggung jawab satu kementerian saja. Selama tiga tahun menangani kasus bunuh diri anak, ini saya anggap sangat mengkhawatirkan,” kata Diyah kepada IDN Times, Kamis (19/2/2026).
1. Tidak hanya pencegahan, tapi sampai deteksi dan penanganan

Diyah menegaskan, penanganan kasus anak akhiri hidup tidak cukup hanya pada aspek pencegahan. Pemerintah perlu menyusun skema komprehensif yang mencakup deteksi dini hingga penanganan kasus.
“Skema dibuat tidak hanya pencegahan, tapi sampai deteksi dan penanganan. Mengingat, faktor bunuh diri beragam, memang harus bersama-bersama,” ujarnya.
Menurut Diyah, kompleksitas faktor pemicu anak akhiri hidup menuntut keterlibatan berbagai pihak, agar respons negara lebih sistematis dan terkoordinasi.
2. Kasus terbaru anak akhiri hidup

Kasus anak mengakhiri hidup kembali terulang, yang dialami seorang anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kini, seorang pelajar berinisial MABB, 17 tahun, asal Adonara, Flores Timur, NTT ditemukan tewas mengakhiri hidup.
Diyah mengatakan kasus ini adalah duka mendalam bagi anak di Indonesia.
"Sedih sekali, dalam waktu dua pekan ada empat orang anak mengakhiri hidup," kata dia.
3. Empat kasus dalam dua pekan

Memang benar, usai kejadian memilukan bocah SD berusia 10 tahun di Ngada yang mengakhiri hidup akibat tekanan kemiskinan pada 29 Januari 2026, ada empat kasus lainnya menyusul dalam waktu dekat selama Februari 2026.
Pada Kamis, 12 Februari 2026, kejadian serupa terjadi di Demak, Jawa Tengah. Seorang anak berusia 13 tahun berinisial SA ditemukan meninggal dunia dengan cara diduga gantung diri.
Sebelumnya juga terjadi kasus serupa, anak mengakhiri hidup di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, yang menimpa anak berusia 14 tahun. Kasus lain terjadi di Badung, Bali, pelajar SMP berinisial MR, 15 tahun, mengakhiri hidup pada awal Februari 2026.
Depresi bukanlah persoalan sepele. Bila kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:
RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444.
Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.Kamu juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri, lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.
Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon 021-06969293 atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

















