Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Empat Anak Tewas Akhiri Hidup dalam Dua Pekan, Terbaru di Flores

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)
Intinya sih...
  • Empat kasus dalam dua pekan setelah Ngada
  • Kondisi ini tak bisa dibiarkan lagi
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kasus anak mengakhir hidup kembali terulang. Seorang pelajar berinisial MABB (17) asal Adonara, Flores Timur, NTT ditemukan tewas diduga gantung diri. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, sudah ada empat orang anak yang mengakhiri hidup dalam waktu dua pekan.

Sebelumnya, seorang anak SD di Ngada, NTT juga melakukan hal yang sama. Menanggapi hal ini, Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini mengatakan ini adalah duka mendalam bagi anak di Indonesia.

"Sedih sekali, dalam waktu dua pekan ada empat orang anak mengakhii hidup," kata dia kepada IDN Times, Kamis (19/2/2026).

1. Empat kasus dalam dua pekan setelah Ngada

Kasus dugaan kekerasan anak yang terjadi di panti asuhan, Kelurahan Kunciran Indah, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang (dok. Pemerintah Kota Tangerang)
Kasus dugaan kekerasan anak yang terjadi di panti asuhan, Kelurahan Kunciran Indah, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang (dok. Pemerintah Kota Tangerang)

Usai bocah SD berusia 10 tahun di Ngada yang mengakhiri hidup akibat tekanan kemiskinan pada 29 Januari, ada empat kasus lainnya menyusul pada Februari 2026.

Pada Kamis (12/2/2026), kejadian serupa terjadi di Demak, Jawa Tengah. Seorang anak berusia 13 tahun berinisial SA ditemukan meninggal dunia dengan cara diduga gantung diri.

Sebelumnya lagi, ada kasus serupa di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, atas anak yang masih berusia 14 tahun. Kasus lain terjadi di Badung, Bali. pelajar SMP berinisial MR (15) meninggal pada awal Februari 2026.

2. Kondisi ini tak bisa dibiarkan lagi

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Diyah mengatakan, hal ini tidak boleh disepelekan. Anak mengakhiri hidup, kata dia, ada kaitannya dengan persoalan yang lebih dalam dan mendasar, yaitu berkenaan dengan jiwa dan mental anak itu sendiri.

"Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, ada persoalan mendasar dalam jiwa dan mental anak," kata dia.

3. Cari bantuan saat merasa putus asa

ilustrasi depresi (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi depresi (IDN Times/Aditya Pratama)

KPAI mengimbau, jika anak atau orang di sekitar merasa sedih, putus asa, atau memiliki pikiran menyakiti diri sendiri, jangan dihadapi sendirian.

Selain itu, cobalah berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya seperti orangtua, wali, guru, konselor sekolah, atau teman dekat. Layanan bantuan profesional gratis dan rahasia juga dapat dihubungi. Di Indonesia, hubungi Layanan Sejiwa dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di 119 (tekan 8) selama 24 jam. Dalam keadaan darurat segera hubungi 112 atau 110.

Sekolah dan keluarga diharapkan aktif memperhatikan perubahan perilaku anak, membuka ruang cerita tanpa menghakimi, serta mencari bantuan psikolog atau puskesmas terdekat segera.

Depresi bukanlah persoalan sepele. Bila kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:

RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565

RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025

RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841

RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601

RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444.

Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.Kamu juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri, lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon 021-06969293 atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in News

See More

11 Juta PBI yang Dinonaktifkan Akan Dicek Lagi, Target Selesai April

19 Feb 2026, 16:11 WIBNews