Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
3 Pesan Saksi Tragedi Mei 98 Christianto Wibisono untuk Gen Z dan Milenial
Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) sekaligus saksi tragedi Mei 1998, Christianto Wibisono (IDN Times/Kevin Handoko)
  • Christianto Wibisono, saksi tragedi Mei 1998, mengingatkan Gen Z dan milenial untuk memahami makna sejarah kerusuhan rasial yang terjadi di tengah krisis moneter dan kejatuhan Soeharto.
  • Ia menekankan bahwa jatuh bangun adalah bagian wajar dari perjalanan hidup anak muda, asalkan tetap berpegang pada semangat idealisme membangun Indonesia.
  • Wibisono juga mendorong generasi muda agar terus berpikir positif terhadap masa depan ekonomi Indonesia dan percaya pada potensi pertumbuhan yang stabil tanpa gejolak sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu ada kerusuhan besar di Jakarta tahun 1998, banyak orang sedih dan takut. Ada bapak namanya Christianto Wibisono yang lihat kejadian itu. Sekarang dia bilang ke anak muda supaya jangan takut kalau jatuh, harus tetap semangat, dan pikir baik tentang masa depan Indonesia supaya bisa maju dan tumbuh terus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Peristiwa Mei 1998 mungkin sudah tidak asing lagi bagi generasi milenial awal, namun tidak bagi milenial akhir dan gen Z. Kendati, mereka masih bisa memaknai tragedi yang terjadi pada 28 tahun silam itu. 

Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) sekaligus saksi tragedi Mei 1998, Christianto Wibisono, memiliki pesan tersendiri bagi generasi milenial dan gen Z, untuk memaknai peristiwa sejarah Indonesia pada Orde Baru itu.

Tragedi Mei 1998 merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi pada 13-15 Mei 1998, khususnya di Jakarta, namun juga terjadi di beberapa kota lain.

Kerusuhan ini diawali dengan krisis moneter di Asia dan dipicu tragedi Trisakti, yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti saat demonstrasi 12 Mei 1998. Tragedi ini diakhiri dengan penurunan jabatan Presiden Soeharto.

1. Jatuh bangun hal biasa dalam hidup

Perempuan Mahardhika gelar Napak Tilas 24 Tahun Tragedi Pemerkosaan Mei 98 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Selasa (24/5/2022). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Wibisono mengatakan hal yang lumrah bagi anak muda merasakan jatuh bangun dalam membangun kehidupan.

"Memang anak muda kadang-kadang masih terbentur, tapi hal itu tidak apa-apa mengenai jatuh bangun tersebut," ujar analis ekonomi senior itu, dalam wawancara khusus bersama IDN Times.

2. Millennial harus tetap bersemangat

Perempuan Mahardhika menggelar acara Napak Tilas 24 Tahun Tragedi Pemerkosaan Mei 98 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Selasa (24/5/2922). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Anak muda, kata Wibisono, terutama generasi milenial dan Gen Z juga dituntut untuk tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan ini.

"Asal semangat idealisme untuk membangun Indonesia ke depannya," ucap pendiri mingguan Exspres, cikal bakal majalah Tempo itu. 

3. Millennial harus berpikir positif

Perempuan Mahardhika mengelar acara Napak Tilas 24 Tahun Tragedi Pemerkosaan Mei 98 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Selasa (24/5/2922). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Pria yang pernah menetap di Negeri Paman Sam sejak 11 Juni 1998 hingga September 2006 itu juga berpesan kepada generasi milenial dan Gen Z, agar terus berpikir positif dengan ramalan yang ada.

"Ramalan yang dimaksud di sini mengenai ramalan ekonomi yang memang menunjukkan hal yang positif. Kita harus percaya dengan hal itu, bahwa akan mengalami pertumbuhan. Kalau tidak ada demo-demo, mungkin pertumbuhannya bisa mencapai 7 persen," ujar Wibisono.

Editorial Team