Comscore Tracker

Kisah Muslimah, Bangkit Berjuang untuk Keluarga Setelah Anak Meninggal

Muslimah adalah satu dari banyaknya wanita-wanita tangguh

Jakarta, IDN Times - Kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta pada Minggu (28/7) pagi ramai dipadati masyarakat dengan berbagai macam aktivitas. Warga Jakarta dan sekitarnya memanfaatkan akhir pekan di car free day untuk berolah raga, atau pun sekadar jalan-jalan bersama keluarga.

Di antara lautan manusia yang memadati sekitar Bundaran HI, ada sosok wanita yang dengan ramah melayani para pembelinya. Muslimah, namanya. Ditemani seorang anak lelakinya, Muslimah menggelar dagangan kuenya dengan duduk di pinggir trotoar.

Senyum Muslimah tak putus-putus saat menawarkan dagangannya. Keramahan terpancar dari wajah wanita paruh baya itu.

"Ayo cantik, beli cantik," sapa Muslimah kepada orang-orang yang lewat dengan lambaian tangan dan senyuman di wajahnya.

Namun, siapa sangka, di balik senyuman Muslimah, ada perjuangan dan pengorbanan yang dilakukannya untuk menghidupi keluarga.

1. "Anak meninggal, saya bangkit jualan lagi"

Kisah Muslimah, Bangkit Berjuang untuk Keluarga Setelah Anak MeninggalIDN Times/Aldzah Fatimah Aditya

Muslimah adalah seorang ibu dari dua orang anak. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika si bungsu menderita penyakit pengecilan otak.

"Dirawat jalan di Cipto (RS Cipto Mangunkusumo), sakit pengecilan otak, pakai selang. Saya sudah terapi-terapi enam tahun," tutur Muslimah kepada IDN Times

Selama enam tahun tiga bulan Muslimah berjuang untuk kehidupan sang anak. Sayang, takdir berkata lain. Putranya mengembuskan napas terakhir setahun yang lalu.

Namun, ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh sang buah hati tak membuat Muslimah putus asa. Justru Muslimah kembali bangkit melanjutkan kehidupan bersama suami dan anak pertamanya.

"Pas dia meninggal tapi saya bangkit lagi, jualan lagi," ucapnya.

Baca Juga: Kisah Pedagang Tikar Raup Untung dari Aksi Massa di MK 

2. Suami mengidap penyakit paru-paru, Muslimah jadi tulang punggung keluarga

Kisah Muslimah, Bangkit Berjuang untuk Keluarga Setelah Anak MeninggalIDN Times/Aldzah Fatimah Aditya

Belum habis cerita mengenai sang anak yang meninggal dunia karena sakit, Muslimah melanjutkan dengan cerita lain. Suami Muslimah ternyata mengidap penyakit paru-paru.

Penyakit tersebut lantas membuat sang suami tidak dapat mencari nafkah untuk keluarganya. Sehingga, Muslimah pun menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga. 

Baca Juga: Kisah Haru Intan Khasanah, Pejuang Kanker Fans Lisa Blackpink

3. Anak sulung Muslimah bercita-cita jadi sopir bus TransJakarta

Kisah Muslimah, Bangkit Berjuang untuk Keluarga Setelah Anak MeninggalIDN Times/Aldzah Fatimah Aditya

Selama berjualan di car free day pagi ini, Muslimah tidak sendirian. Dia ditemani oleh anak sulungnya, yang sekarang menjadi anak satu-satunya.

Kepada IDN Times, Muslimah pun menuturkan cita-cita sang anak kelak.

"Ini anak saya mau jadi sopir busway," ujar Muslimah. Bocah lelaki itu pun membalas ucapan sang ibu dengan senyuman tipis. 

4. Dari berjualan kue, Muslimah terima upah Rp50 ribu

Kisah Muslimah, Bangkit Berjuang untuk Keluarga Setelah Anak MeninggalIDN Times/Aldzah Fatimah Aditya

Jajanan pasar yang dijajakan Muslimah beragam, mulai dari donat gula, martabak telur, kue bola wijen, hingga cucur. Harganya tak mahal, hanya Rp2.500 per buah.

Dalam sehari berjualan, Muslimah mendapatkan upah Rp50.000 dari pemilik modal. Pemilik modal dari dagangan tersebut juga masih bagian dari keluarga Muslimah. 

Selain momen car free day, Muslimah biasa berjualan di daerah Tanah Abang sehari-harinya.

"Dibisain dagangan habis sebelum azan zuhur, tapi kalau gak habis biasanya muter sampai sore," tuturnya.

Seperti pedagang lainnya, Muslimah juga pernah mengalami kerugian. "Kalau hujan biasanya rugi, ya kan hujan, mau gimana, pasti kan gak bisa jualan," ujar dia sambil melayani pembeli.

"Ya kalau rugi, ngomong ke saudara, paling kena bawel aja, cuma saya usahain habis dulu, saya ngiter dulu," ucapnya.

Dari kisah Muslimah, kita bisa belajar bahwa hidup adalah perjuangan, tak boleh lekas putus asa. Bagaimana menurut kamu?

Baca Juga: Tertular dari Suami, Kisah Perjuangan Seorang Ibu Melawan HIV/AIDS

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya