Comscore Tracker

Kisah Pemuda Asal Sukabumi Jadikan Tugas Akhir Sebagai Sumber Nafkah

Kolaborasi untuk kelangsungan bisnis, terutama saat pandemik

Jakarta, IDN Times - Dua tahun lalu, sebagai seorang mahasiswa teknologi industri pertanian yang sedang merampungkan tugas akhirnya, Rijaldi bertekad untuk mengolah buah mangga menggunakan teknologi dehidrator sebagai objek studinya. Tak ada yang menyangka bahwa olahan mangga yang ia jadikan tugas akhir itu kini dapat menjadi sumber pendapatan bagi dirinya sendiri dan juga beberapa anggota timnya yang lain.

Sayangnya, pada Maret 2020 lalu, Virus Corona mulai menjamah kehidupan di Tanah Air. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis camilan manis milik Rijaldi yang saat itu sedang berupaya keras untuk melakukan re-branding.

1. Tugas akhir kuliah jadi sumber pendapatan

Kisah Pemuda Asal Sukabumi Jadikan Tugas Akhir Sebagai Sumber NafkahDok. Frutivez

Sebelum menginjak semester akhir, lebih tepatnya selama masa PKL (Praktek Kerja Lapangan) berlangsung, Rijaldi sudah mulai memikirkan objek studi yang akan ia angkat untuk tugas akhirnya. Melimpahnya buah mangga di daerah Jawa Barat mendorong Rijaldi untuk menjadikan buah tersebut sebagai bahan risetnya. 

"Saking melimpahnya, dengan Rp1.000 saja, orang bisa mendapatkan 1 kilogram mangga. Di lain sisi, banyak pula buah mangga dengan kualitas bagus yang tak tembus quality control supermarket. Off grade hanya karena satu bintik kecil. Berangkat dari pikiran ini, saya akhirnya memutuskan untuk mengolah mangga agar menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Pas juga dengan ketentuan tugas akhir saya saat itu: olahan hasil pertanian pasca panen," jelasnya.

2. Mengolah mangga dengan teknologi pasteurisasi dan dehidrasi

Kisah Pemuda Asal Sukabumi Jadikan Tugas Akhir Sebagai Sumber NafkahDok. Frutivez

Melewati proses trial and error, Rijaldi akhirnya menemukan model olahan yang pas untuk camilannya. “Saya olah jadi strip atau lembaran tipis menggunakan alat bernama dehidrator. Proses ini dinamai pasteurisasi—bahan dipres dengan suhu tinggi untuk memperlambat pertumbuhan mikroorganisme, sehingga camilan ini bisa awet meski tanpa bahan pengawet,” jelasnya. 

Camilan tanpa tambahan pemanis ini menggunakan mangga berjenis gedong gincu dari Majalengka—jenis mangga paling top di kelasnya dengan harga mencapai Rp60.000 per kilogramnya. "Tidak ada bahan tambahan apapun, tapi mengapa rasanya relatif sama? Nah, kami harus sangat selektif dalam pemilihan buahnya, ya,” imbuhnya.

3. Proses re-branding yang terhambat pandemik

Kisah Pemuda Asal Sukabumi Jadikan Tugas Akhir Sebagai Sumber NafkahDok. Frutivez

Pada awalnya, produk buah olahan Rijaldi ini dinamai Mango Day. Atas beberapa pertimbangan agar dapat memperluas bisnisnya, dirinya memutuskan melakukan re-branding. Benar saja, setelah diluncurkannya brand baru tersebut, Rijaldi kemudian menciptakan varian baru, yaitu fruit strip rasa pisang yang 100% terbuat dari buah pisang pilihan.

"Setelah kami pikir-pikir, brand tersebut malah membuat varian produk kami terbatas hanya pada buah mangga saja. Oleh karenanya, pada awal 2020, kami memutuskan untuk re-brand produk kami dengan brand baru yang lebih general: Frutivez." 

Dua bulan setelah re-branding mulai dilakukan, Virus Corona mulai memberi dampak kurang baik bagi para pelaku bisnis di Indonesia, tak terkecuali Rijaldi. Penyesuaian dalam strategi bisnis pun harus dilakukan.

"Pada awalnya, sebenarnya Frutivez memang sudah banyak dijual di platform online. Nah, dengan adanya pandemik ini, muncullah keinginan untuk kembali menggiatkan penjualan online secara lebih mendalam. Seiring dengan itu, saya juga berpartisipasi dengan gerakan Bangga Buatan Indonesia yang diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). Oleh karenanya, perbandingan penjualan offline dan online pun berubah cukup drastis—dari 60:40 menjadi 15:85," terangnya

4. Harus pintar membaca situasi agar bisnis bertahan di masa sulit

Kisah Pemuda Asal Sukabumi Jadikan Tugas Akhir Sebagai Sumber NafkahDok. Frutivez

Terbuat 100% dari buah asli, produk Frutivez kemudian diasosiasikan dengan snack sehat yang sering dicari pada momentum seperti ini. "Pandemik, 'kan, menuntut kita untuk makan makanan yang bervitamin dan bergizi tinggi agar imun tubuh kita terjaga. Alhamdulillah, Frutivez menjadi salah satu produk yang paling dicari di masa-masa pandemik," terangnya. 

Kendati terkesan tanpa rintangan yang berarti, Rijaldi mengaku bahwa COVID-19 sebenarnya membawa banyak dampak yang mengejutkan bagi bisnisnya. "Corona ini membuat proses produksi kami terhambat. Mulai dari pengadaan bahan baku, percetakan kemasan, hingga distribusi, dan pemasaran juga terdampak. Bagaimana pun, harus pandai-pandai membaca situasi, ya," katanya.

Ia kemudian melanjutkan, "Pertama kali tahu bahwa COVID-19 sudah masuk ke beberapa negara tetangga, kemudian diikuti dengan kasus pertama di Depok pada Maret lalu, kami sadar bahwa kejadian ini tak akan berlangsung sebentar. Oleh karenanya, kami sudah lakukan produksi besar-besaran untuk stok, jadi meski pandemik, jumlah stok tetap terjaga. Apalagi Frutivez tahan sampai satu tahun."

5. Semangat melanjutkan bisnis setelah pandemik berakhir

Kisah Pemuda Asal Sukabumi Jadikan Tugas Akhir Sebagai Sumber NafkahDok. Frutivez

Banyak rencana yang terpaksa ditunda karena adanya pandemik, salah satunya adalah rencana untuk memasukkan produk Frutivez ke sejumlah apotek ternama. "Dengan dimulainya Normal Baru ini, harapannya kami dapat mulai melanjutkan visi-misi yang sempat tertunda pada 2020 awal. Menjalankan proses branding merupakan salah satu hal yang paling utama, sih," terangnya. 

Sebagai seorang pengusaha yang baru berusia 25 tahun, tekad bulat Rijaldi untuk memulai dan menjalankan bisnis patut dijadikan teladan bagi para millennial di Indonesia. "Namun, tekad bulat tak akan berarti bila tak diikuti tindakan. Bisnis itu, sekecil apapun, harus dimulai dulu. Syukur-syukur kalau ada teman dekat yang mau diajak bekerja sama. Walaupun jatuh, wajar. Namanya juga usaha—jadikan pembelajaran saja," ia menegaskan. 

6. Pentingnya proses trial and error dan kolaborasi bagi bisnis

Kisah Pemuda Asal Sukabumi Jadikan Tugas Akhir Sebagai Sumber NafkahDok. Frutivez

Rijaldi kemudian menceritakan pengalaman peliknya saat awal-awal menginisiasi Frutivez. Beberapa waktu lalu, ketika bisnisnya masih terbilang baru, Rijaldi mengaku harus memperbaiki banyak hal, baik dari segi teknis maupun non-teknis, agar bisnis yang ia tekuni dapat terus berjalan. 

"Metode penyimpanan kami sempat salah, sehingga kualitas stok produk kami malah menurun saat itu. Target sales yang seharusnya 500 pcs per bulan, hanya tercapai 100 pcs, bahkan sempat tak ada pemasukan. Desain kemasan pun masih sangat basic dan masih banyak hal lain yang tak akan cukup bila diceritakan di sini. Namun, di situlah trial and error terjadi,” jelasnya. 

Bagi Rijaldi, bukan bisnis namanya bila belum menemukan rintangan. Justru dengan trial and error itulah, para pemula bisnis dapat memperoleh kesempatan untuk berbenah, baik secara personal maupun profesional.

“Kalau solusi sudah ditemukan, ya, terapkan secara konsisten. Nah, nanti, ketika bisnis itu sudah mulai stabil, jangan pernah enggan untuk bekerja sama, bahkan dengan bisnis yang nampak tak nyambung sekalipun. Nyatanya, Oreo dan Supreme bisa kerja sama, kok. Sekarang ini, lebih baik kolaboratif daripada kompetitif,” tutupnya memberi kesimpulan. 

Topic:

  • Amelia Rosary

Berita Terkini Lainnya