TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Ulang Tahun ke 107, Berikut 5 Hal Menarik Tentang Kota Malang  

Selamat ulang tahun Kota Malang  

Logo resmi ulang tahun Kota Malang yang ke 107. Instagram/sam.sutiaji

Malang, IDN Times - Kota Malang pada 1 April 2021 ini genap berusia 107 tahun. Secara resmi Kota Malang berdiri pada 1 April 1914. Tetapi cikal bakal dari Kota Malang sendiri sudah ada sejak masa Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke 8 masehi.

Saat itu, pusat Kerajaan Kanjuruhan memang berada di kawasan yang saat ini menjadi Kota Malang. Luas wilayah Keraajaan Kanjuruhan adalah 145,28 kilometer persegi. Saat ini wilayah Kota Malang hanya tinggal 110,06 kilometer persegi.  Sejak dulu kota ini menjadi merupakan penyangga utama Surabaya sebagai ibu kota provinsi.

Berikut adalah 5 fakta Kota Malang.

Baca Juga: Kepala Dinas di Malang Nyabu, Dicopot dan Tak Diberi Bantuan Hukum

1. Kota Malang memilik penduduk total 843.810 jiwa

Forkopimda Malang saat apel persiapan penerapan Inpres no 6. IDN Times/ Alfi Ramadana

Situs Kemendikbud menyebut Kota Malang memiliki nama lengkap Malang Kucecwara yang berarti Tuhan akan membantu menaklukkan yang bathil. Lalu kemudian nama Malang Kucecwara lebih dikenal sebagai Malang setelah pasukan Raja Mataram, yang dipimpin Tumenggung Alap-alap mengalami kekalahan saat bertempur dengan pasukan di bawah pimpinan Bupati Malang, Ronggosukmo sekitar 1600 tahun lalu.

Pasukan Tumenggung Alap-alap yang berencana menyerang Surabaya tersebut terhalang oleh pasukan Bupati Ronggosukmo yang membuat pasukan Mataram tersebut mengalami kekalahan. Sejak saat itu nama Malang Kucecwara lebih dikenal sebagai Malang yang berarti menghalang-halangi. 

Secara topografi, wilayah Kota Malang dikelilingi pegunungan. Sisi utara adalah Gunung Arjuno, selatan Gunung Kawi dan timur Gunung Semeru. Untuk batasan wilayah, Kota Malang sendiri berada di bagian tengah wilayah Kabupaten Malang. Sebagian utama wilayah Kota Malang berisi perdagangan dan sebagian wilayah industri. Pusat niaga di Kota Malang sendiri berada di Pasar Induk Gadang dan Pasar Besar Kota Malang. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan September 2020, total penduduk Kota Malang sebanyak 843.810 jiwa. Dalam jangka waktu 10 tahun atau sejak tahun 2010, jumlah penduduk Kota Malang mengalami penambahan penduduk sekitar 23.567 jiwa. 

2. Kota Pendidikan di Jawa Timur

Universitas Brawijaya memperoleh dana besar dari pengajuan 71 penelitian. Dok/Humas UB

Selain Yogyakarta, Malang juga dikenal sebagai kota pendidikan. Tercatat ada 16 universitas, 5 kampus politeknik, 27 sekolah tinggi, 8 akademi swasta, dan 4 institut swasta. Universotas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim, Politeknik Negeri Malang, Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah Malang merupakan beberapa kampus-kampus ternama yang ada di Kota Malang. Setiap tahunnya puluhan ribu mahasiswa baru masuk ke Kota Malang untuk menuntut ilmu di kampus-kampus tersebut.

3. Kota sepak bola

Perkenalan skuat Arema FC untuk musim 2020 di Stadion Kanjuruhan. IDN Times/Alfi Ramadana

Tak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, Kota Malang juga dikenal sebagai kota sepak bola. Klub pertama yang menjadi menjadikan Kota Malang dikenal sebagai kota bola adalah Persema Malang. Tim berjuluk Bledeg Biru itu berdiri tahun 1953 dan merupakan klub tertua di Kota Malang dan hingga kini masih tetap aktif.

Berikutnya tentu saja ada nama Arema yang berdiri pada tahun 1987. Perlahan tapi pasti Arema kemudian berkembang menjadi tim besar yang merepresentasikan Kota Malang dan Malang Raya secara keseluruhan. Basis suporter besar yakni Aremani menjadikan Malang Raya menjadi salah satu barometer sepak bola nasional.

Sejumlah nama besar berlabel tim nasional Indonesia pernah merasakan berkostum Arema. Sebut saja nama Firman Utina, Ponaryo Astaman, Hendro Kartiko, Aji Santoso, Arif Suyono, Achmad Bustomi hingga yang terkini seperti Bagas Adi Nugroho, Feby Eka Putra dan Hanif Sjahbandi. 

4. Memiliki bahasa khas Jawa Malangan

Para guru PAUD Annafi' Kota Malang belajar mengolah coklat topeng. IDN Times/ Alfi Ramadana

Satu lagi hal yang paling ikonik dari Kota Malang adalah bahasa walikan (terbalik). Bahasa walikan sendiri adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang digunakan di Malang. Cara mengucapkannya adalah dengan membalikkan posisi posisi huruf pada kosakata bahasa Jawa atau juga bahasa Indonesia pada umumnya.

Bebagai literatur menyebut bahwa sejarah bahasa pertama kali muncul pada tahun 1949. Saat itu, para pejuang yang tergabung dalam kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) menggunakan dialek walikan untuk mengelabui mata-mata pemerintah kolonial. Kala itu, pemerintah kolonial banyak menyusupkan mata-mata ke dalam kelompok pejuang yang mereka merupakan warga pribumi. Penyusupan tersebut dilakukan guna memburu sisa pejuang laskar Mayor Hamid Rusdi. 

Lantaran mengetahui hal itu, seorang pejuang bernama Suyudi Raharno menginisiasi penggunaan bahasa baru untuk sesama pejuang guna mengelabui mata-mata dari kolonial. Sekaligus juga menjaga keamanan dan kerahasiaan informasi. Maka kemudian para pejuang menggunakan bahasa yang kosakatanya dibaca terbalik.

Baca Juga: Salah Gerebek Kolonel TNI AD, Kasatresnarkoba Malang Dimutasi

Verified Writer

Alfi Ramadana

Menulis adalah cara untuk mengekspresikan pemikiran

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya