TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Tuai Kecaman, Pertemuan LGBT se-ASEAN Batal Digelar di Jakarta 

Pertemuan untuk membahas komunitas yang didiskriminasi

Komunitas Arus Pelangi mengikuti hari International Women’s Day, di depan halaman Monas, Minggu (8/3) (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Jakarta, IDN Times - Penyelenggara ASEAN Queer Advocacy Week membatalkan acara pertemuan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN di Jakarta setelah menerima kecaman dari berbagai pihak.

Panitia ASEAN Queer Advocacy Week mengungkapkan, pihaknya memutuskan untuk merelokasi acara di luar Indonesia.

"Penyelenggara telah memonitor situasi dengan sangat teliti termasuk gelombang anti-LGBT di media sosial. Keputusan yang dibuat memastikan keselamatan dan keamanan dari partisipan dan panitia," ujar panitia ASEAN Queer Advocacy Week dalam siaran tertulis, Kamis (12/7/2023).

Baca Juga: Polda Metro Selidiki Kabar Pertemuan LGBT se-ASEAN di Jakarta

Baca Juga: MUI: Pemerintah Tidak Boleh Beri Izin Pertemuan LGBT se-ASEAN

1. Pertemuan untuk buka dialog kelompok yang didiskriminasi

Komunitas Arus Pelangi mengikuti hari International Women’s Day, di depan halaman Monas, Minggu (8/3) (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Panitia menegaskan, pertemuan tersebut untuk menciptakan dialog dengan kelompok-kelompok yang terpinggirkan, termasuk mereka yang didiskriminasi berdasarkan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks mereka (SOGIESC).

"Visi bersama kami tentang kawasan ASEAN yang inklusif didasarkan pada keberadaan ruang aman bagi masyarakat sipil dan pemegang hak untuk belajar tentang lembaga tersebut dalam membahas masalah yang penting bagi mereka. Lalu secara kolektif menggunakan hak kami secara bebas mengekspresikan pandangan tentang bagaimana ASEAN memajukan atau tidak, hak asasi masyarakat kita," paparnya.

Baca Juga: MUI Tolak Pertemuan LGBT se-ASEAN di Jakarta: Bismillah, Lawan!

2. Pemerintah harus tangani masalah yang dialami kelompok LGBTQIA+

Komunitas Arus Pelangi mengikuti hari International Women’s Day, di depan halaman Monas, Minggu (8/3) (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Menurutnya, ancaman terhadap eksistensi kehidupan dan martabat merupakan bagian dari kenyataan sehari-hari yang dihadapi oleh kelompok LGBTQIA+. 

"Kebencian di dunia maya, serangan langsung terhadap para pembela hak asasi manusia, serta pembalasan terhadap pelaksanaan hak-hak sipil dan politik merupakan masalah yang kami hadapi dan harus ditangani oleh pemerintah," tegasnya.

Baca Juga: MUI Desak Polisi Tak Beri Izin Acara LGBT se-ASEAN di Jakarta

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya