Kondisi Andrie Yunus usai disiram air keras oleh OTK (IDN Times/Irfan Fathurohman)
Lebih lanjut, Ponto menilai penanganan kasus teror terhadap Andrie perlu ditingkatkan melalui pembentukan tim koneksitas. Menurut dia, langkah ini penting untuk memastikan proses hukum berjalan menyeluruh dan transparan.
Dia mengapresiasi kinerja kepolisian yang telah mengungkap kasus tersebut, tetapui menegaskan bahwa proses hukum tidak boleh berhenti sampai di situ. Pembentukan tim koneksitas menjadi solusi untuk menjembatani penanganan kasus yang melibatkan unsur militer dengan korban sipil. Dia mengakui, secara hukum acara konsep ini belum sepenuhnya diatur dalam konteks tersebut, tetapi bisa dimanfaatkan.
"Polisi saya salut sudah dapat, tapi tidak berhenti sampai situ. Harus dibentuk, walaupun ini saya tahu belum ada hukum acaranya tentang namanya untuk koneksitas," ujar dia dalam acara di saluran YouTube Indonesia Lawyers Club Reborn.
Menurut dia, tim koneksitas perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari Polisi Militer TNI hingga unsur sipil seperti kepolisian dan lembaga lainnya.
"Terdiri dari dari POM TNI, dan yang tadi disampaikan, mau TGPF, mau Polisi, mau dari DPR, dari mana, kumpulin semua, jadikan satu di tim koneksitas," kata Ponto.
Ponto menjelaskan, jika dalam tim koneksitas terjadi perbedaan pendapat, maka keputusan akhir akan ditentukan oleh tiga pejabat negara, yakni Menteri Pertahanan, Menteri Hukum dan HAM, serta Jaksa Agung.
"Kalau tidak terjadi perbedaan pendapat antara POM dan koneksitas ini, itu ada tiga orang yang nanti menentukan. Ada Menhan, Menkum, dan Jaksa Agung," ujar dia.
Dia menegaskan, keputusan akhir tetap berada di tangan Jaksa Agung sehingga tidak ada alasan bagi pihak manapun untuk menghindari proses hukum. Selain itu, dia mengusulkan agar sistem peradilan juga menggunakan skema koneksitas, dengan komposisi hakim campuran.
"Di dalam peradilan nanti, dua hakim sipil, satu hakim militer," kata dia.
Menurut dia, kehadiran hakim militer penting untuk memastikan akses terhadap struktur komando serta kewenangan internal militer, termasuk dalam hal pemecatan.
Ponto menegaskan, siapa pun pelaku dalam kasus ini harus dihukum tegas demi menjaga marwah institusi. Dia bahkan menyatakan dukungan terhadap langkah pencopotan pejabat jika terbukti terlibat.
"Saya menghendaki siapa pun pembuatnya itu harus betul-betul dihukum," ujar dia.
Dia juga menyinggung pentingnya keputusan presiden dalam penentuan posisi pejabat tinggi di lingkungan TNI.
Menurut Ponto, langkah tegas dan transparan sangat diperlukan untuk memulihkan kepercayaan publik serta menjaga integritas institusi militer.