Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ensiklik Sosial Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI bagi Kemanusiaan

Ensiklik Sosial Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI bagi Kemanusiaan
Paus Leo XIV luncurkan ensiklik sosial pertamanya bertajuk ‘Magnifica Humanica’. (AFP/ALBERTO PIZZOLI)
Intinya Sih
  • Paus Leo XIV meluncurkan ensiklik Magnifica Humanitas yang menyoroti bahaya AI jika digunakan untuk dominasi, eksklusi, dan perang, serta menyerukan agar teknologi ini melayani kemanusiaan.
  • Ia menilai AI perlu ‘dilucuti’ dari logika kekuasaan karena berpotensi mengancam perdamaian dunia, menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dan pengawasan publik atas perkembangan teknologi.
  • Paus menekankan manusia tak bisa digantikan mesin, menyerukan kolaborasi global agar transformasi digital menjunjung martabat manusia dan menciptakan masyarakat yang lebih adil serta penuh persaudaraan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Paus Leo XIV menyerukan agar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ditempatkan sepenuhnya untuk melayani kemanusiaan. Dalam peluncuran ensiklik sosial pertamanya bertajuk Magnifica Humanitas, Paus memperingatkan bahaya teknologi yang digunakan untuk dominasi, eksklusi, hingga perang.

Pidato itu disampaikan Paus Leo XIV di hadapan peserta yang berkumpul di Aula Sinode Vatikan pada Senin (25/5/2026). Ia menyebut revolusi teknologi yang sedang terjadi saat ini sebagai titik balik zaman yang dampaknya setara dengan Revolusi Industri pada abad ke-19.

Menurut Paus, perkembangan AI kini telah menyentuh banyak aspek kehidupan manusia dan memengaruhi keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sosial.

“Kecerdasan buatan sudah menyentuh banyak bidang kehidupan kita dan memengaruhi keputusan yang membentuk kehidupan bersama manusia,” kata Paus Leo XIV, dikutip dari Vatican News, Selasa (26/5/2026).

Ia juga menyoroti bagaimana AI mulai mengubah cara perang dilakukan. “Teknologi ini juga secara dramatis mengubah bagaimana perang dijalankan,” ujarnya.

Melalui ensiklik tersebut, Paus menegaskan Gereja Katolik merasa perlu terlibat dalam pembahasan global terkait perkembangan teknologi modern, terutama yang berkaitan dengan masa depan manusia.

1. Paus bandingkan AI dengan revolusi industri

Ilustrasi kertas bertuliskan Artificial Intelligence di mesin tik.
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. (unsplash.com/Markus Winkler)

Dalam pidatonya, Paus Leo XIV secara langsung membandingkan situasi saat ini dengan kondisi yang dihadapi Paus Leo XIII ketika menerbitkan ensiklik Rerum Novarum pada 1891. Saat itu, Gereja Katolik merespons dampak Revolusi Industri terhadap kehidupan manusia dan pekerja. Kini, menurut Paus Leo XIV, Gereja kembali dihadapkan pada hal-hal baru yang perlu dibaca dalam terang Injil dan martabat manusia.

Ia menjelaskan bahwa Magnifica Humanitas lahir dari proses mendengarkan banyak pihak, mulai dari ilmuwan, insinyur, pendidik, pemimpin politik, hingga keluarga yang khawatir terhadap masa depan generasi muda.

Dalam proses tersebut, Paus mengaku mendengar “suara-suara yang sangat mengkhawatirkan” mengenai sistem senjata otonom dan algoritma yang bisa menolak akses layanan kesehatan, pekerjaan, maupun keamanan berdasarkan data yang bias dan tidak adil.

Dari proses refleksi itu, Paus mengatakan muncul keyakinan bahwa kecerdasan buatan perlu dilucuti.

Ia menyadari kalimat tersebut terdengar keras, tetapi menurutnya situasi saat ini membutuhkan peringatan yang mampu membangunkan kesadaran dan menunjukkan jalan ke depan bagi umat manusia.

2. AI dinilai bisa mengancam perdamaian dunia

ilustrasi Artificial Intelligence
ilustrasi Artificial Intelligence (unsplash.com/Steve Johnson)

Paus Leo XIV mengatakan setiap perkembangan teknologi besar harus disertai tanggung jawab moral dan pengawasan publik. Ia mengingatkan Gereja sejak lama mendukung pelucutan senjata nuklir dan menilai AI kini membutuhkan pendekatan serupa.

“Dalam arti yang sama, kecerdasan buatan sekarang perlu ‘dilucuti’, dibebaskan dari logika yang menjadikannya alat dominasi, eksklusi, atau kematian,” kata Paus.

Mengutip seruan Santo Paulus untuk tetap berjaga-jaga, Paus memperingatkan perdamaian dunia dapat terancam jika teknologi membuat manusia kehilangan daya kritis dan kewaspadaan moral. Namun ia menegaskan tantangan manusia bukan hanya membatasi teknologi berbahaya, melainkan juga membangun masa depan yang lebih adil secara bersama-sama.

Paus kemudian mengenang pengalamannya sebagai misionaris di Peru saat banjir besar melanda pada 2017. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa membangun kembali masyarakat tidak hanya soal memperbaiki bangunan fisik.

“Itu berarti memperbaiki ikatan, memulihkan kepercayaan, dan membangkitkan kembali harapan terhadap masa depan,” ujarnya.

“Tidak ada seorang pun yang membangun kembali sendirian,” imbuh Paus.

3. Paus tegaskan manusia tak bisa digantikan mesin

Paus Leo XIV saat audiensi dengan media (12 Mei 2025) (Edgar Beltrán, The Pillar, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Paus Leo XIV saat audiensi dengan media (12 Mei 2025) (Edgar Beltrán, The Pillar, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Dalam bagian lain pidatonya, Paus Leo XIV menekankan manusia tidak boleh direduksi hanya menjadi angka, data, atau produktivitas semata dalam era digital. Ia mengutip ajaran Paus Paulus VI mengenai pembangunan manusia yang sejati, yakni pembangunan yang menyentuh setiap manusia dan seluruh manusia.

Paus menegaskan tidak boleh ada pihak yang tertinggal dalam transformasi digital yang sedang berlangsung. “Manusia memiliki kebebasan, kedalaman batin, dan panggilan untuk mencintai dan beribadah yang tidak bisa digantikan atau dihalangi oleh mesin,” katanya.

Ia juga menyerukan kerja sama antarnegara, lembaga, pengembang teknologi, dan masyarakat untuk memastikan AI benar-benar bermanfaat bagi seluruh umat manusia, bukan hanya segelintir pihak yang memiliki keuntungan.

Di akhir pidatonya, Paus menegaskan Gereja ingin ikut berkontribusi dalam pembahasan global soal AI, bukan sebagai ahli teknologi, tetapi sebagai penjaga pandangan tentang manusia yang berakar pada martabat, hati nurani, dan keterbukaan kepada Tuhan.

Paus kemudian mengajak seluruh masyarakat, baik yang beriman maupun tidak, untuk bersama-sama membangun masyarakat yang lebih manusiawi dan penuh persaudaraan. Ia menutup pidatonya dengan doa agar peradaban kasih yang pernah dicita-citakan Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II dapat terus tumbuh dalam sejarah manusia.

Share Article
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More