Jakarta, IDN Times - Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Arief Anshori Yusuf, mengatakan, selama ini ada masalah exclusion error (orang yang seharusnya dapat, tapi tidak dapat) dari data bantuan sosial (bansos). Salah satunya data Program Keluarga Harapan (PKH) yang exclusion error-nya mencapai 70 persen.
Contoh nyata terjadinya exclusion error adalah kasus seorang anak di NTT yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli peralatan sekolah. Dari hasil penelusuran, kata dia, exclusion error dari kasus tersebut itu adalah adanya isu administrasi dan keluarga itu sendiri.
“Artinya apa? Artinya, 70 persen orang yang berhak, yang miskin, tidak mendapatkan bansos,” kata Arief di acara media briefing Komdigi dengan media nasional, di Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026)..
Contoh lainnya adalah kasus mahasiswi di Bandung yang bergaya hidup mewah, tapi mendapat bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Arief mengatakan, kasus ini masuk dalam inclusion error data bansos, yaitu orang yang tidak seharusnya dapat bantuan tetapi mendapatkannya.
“Jadi, ini salah sasaran karena data desilnya tidak update. Di KIP ada 40 persen kasus seperti ini,” kata dia.
