Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Kenaikan harga minyak dunia merupakan dampak ketegangan geopolitik Iran, Israel, dan AS. Namun, Bahlil menegaskan, persoalan utama Indonesia saat ini bukan pada ketersediaan stok, melainkan harga di level global.
"Problemnya kita sekarang bukan di stok. Stok gak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga. Nah, kita lagi akan meng-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprehensif," ujar Bahlil.
Sebagai strategi jangka panjang sekaligus langkah efisiensi, Bahlil mengungkapkan rencana pemerintah untuk mempercepat mandatori B50 (pencampuran 50 persen biodiesel dan minyak solar) dan penerapan E20 (pencampuran bensin dan 20 etanol).
Langkah itu dinilai lebih ekonomis dibanding terus bergantung pada minyak fosil murni saat harga dunia sedang tinggi. Menurutnya, melakukan blending atau pencampuran bahan bakar nabati lebih murah secara biaya.
"Kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui 100 dolar AS per barel, maka itu lebih murah," kata dia.