Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga BBM Tertinggi di China

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga BBM Tertinggi di China
Bendera China (unsplash.com/runningchild)
Intinya Sih
  • Pemerintah China resmi menaikkan harga bensin dan solar secara nasional sebagai respons atas lonjakan harga minyak dunia, menjadikannya kenaikan tertinggi sejak 2022.
  • Kenaikan harga minyak global dipicu perang antara AS-Israel dan Iran yang menutup Selat Hormuz, menghambat pasokan energi dan mendorong harga minyak mendekati 120 dolar AS per barel.
  • China menghentikan ekspor bensin dan solar untuk menjaga pasokan domestik, memerintahkan perusahaan energi negara fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri serta memperketat pengawasan pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - China secara resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat tajam pada Senin (9/3/2026). Kenaikan BBM ini sebagai respons langsung terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat pecahnya konflik bersenjata di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Kenaikan harga bensin dan solar di China tercatat sebagai yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan diperkirakan akan langsung berdampak pada biaya hidup masyarakat luas. Lonjakan harga yang drastis ini memaksa pemilik kendaraan di seluruh China untuk mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar setiap kali mengisi tangki bensin hingga penuh.

Situasi tersebut memicu antrean panjang di berbagai tempat pengisian bahan bakar sebelum aturan harga baru resmi diberlakukan secara nasional. Otoritas ekonomi China menyatakan, penyesuaian harga ini harus dilakukan demi menjaga stabilitas stok energi dalam negeri di tengah ketidakpastian kondisi pasar internasional yang sedang bergejolak.

1. China naikkan harga bensin dan solar secara drastis

Pemerintah China resmi mengumumkan kenaikan harga eceran bensin dan solar yang berlaku secara nasional. Harga bensin mengalami kenaikan sebesar 695 yuan (Rp1,7 juta) per metrik ton, sementara harga solar naik sebesar 670 yuan (Rp1,64 juta) per metrik ton.

Secara teknis, kenaikan ini membuat harga bensin jenis 92 naik sebesar 0,55 yuan (Rp1,34 ribu) per liter, bensin jenis 95 naik 0,58 yuan per liter (Rp1,4 ribu), dan solar jenis 0# naik 0,57 yuan (Rp1,39 ribu) per liter. Kebijakan ini tercatat sebagai kenaikan harga energi yang paling tajam sejak Maret 2022.

Lonjakan harga yang sangat besar ini berdampak langsung pada biaya transportasi masyarakat. Pemilik kendaraan pribadi dengan kapasitas tangki rata-rata 50 liter kini harus mengeluarkan biaya tambahan hingga 28 yuan (Rp68,64 ribu) setiap kali mengisi bensin sampai penuh.

Kondisi ini menjadi beban ekonomi yang cukup berat bagi rumah tangga, terutama di tengah situasi aktivitas belanja dan manufaktur di dalam negeri yang sedang melambat. Pemerintah China harus mengambil langkah ini untuk menyesuaikan biaya energi domestik dengan harga minyak mentah dunia yang terus meroket.

2. Perang AS-Israel lawan Iran picu lonjakan harga minyak dunia

Lonjakan harga energi yang terjadi saat ini berawal dari perang besar yang pecah pada 28 Februari 2026. AS dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat militer di Teheran.

Serangan yang menggunakan pesawat pengebom dan rudal ini menghancurkan fasilitas nuklir penting di wilayah Natanz dan Isfahan. Menanggapi hal tersebut, Iran melakukan serangan balasan dengan menembakkan ratusan rudal ke berbagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Presiden AS, Donald Trump, memberikan pembelaan atas serangan militer tersebut di hadapan anggota Kongres. Ia menyatakan, tindakan tegas ini diambil untuk menghapus ancaman yang sudah ada sejak lama.

Perang ini membawa dampak ekonomi yang sangat buruk karena Iran segera menutup Selat Hormuz. Jalur laut ini adalah jalur pengiriman minyak paling penting di dunia, sehingga penutupannya menyebabkan lalu lintas kapal tanker menurun drastis hingga 95 persen.

Hal ini mengancam pasokan bahan bakar bagi negara pengimpor besar seperti China, India, dan Jepang. Akibatnya, harga minyak dunia melambung tinggi mendekati 120 dolar AS (Rp2 juta) per barel dan menyebabkan puluhan ribu jadwal penerbangan internasional di Dubai serta Doha dibatalkan.

3. China hentikan ekspor bensin dan solar untuk amankan pasokan dalam negeri

China mengambil langkah darurat dengan memerintahkan perusahaan minyak milik negara, seperti PetroChina, Sinopec, dan CNOOC, untuk menghentikan seluruh ekspor bensin dan solar. Kebijakan ini diambil agar semua hasil produksi minyak dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan warga di dalam negeri.

Pemerintah juga membatalkan pengiriman minyak ke luar negeri yang sebelumnya sudah disepakati. Langkah ini dilakukan karena konflik di Timur Tengah telah memutus hampir setengah dari pasokan minyak mentah yang biasanya dibeli oleh China.

"Keamanan energi sangat krusial bagi ekonomi global. China akan mengambil langkah apa pun demi menjamin pasokan energi yang stabil dan lancar bagi rakyat," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dilansir Global Times.

Selain melarang pengiriman bahan bakar ke luar negeri, lembaga perencana ekonomi China juga memperketat pengawasan di pasar untuk mencegah pihak-pihak yang mencoba menaikkan harga secara sembarangan. Pemerintah mewajibkan kilang minyak untuk terus beroperasi secara maksimal dan memastikan pengiriman bahan bakar ke pom bensin berjalan lancar. Langkah tegas ini diambil untuk menenangkan masyarakat yang mulai terlihat mengantre panjang di berbagai tempat pengisian bahan bakar karena khawatir stok akan habis.

Lembaga pembangunan nasional China memberikan instruksi tertulis kepada seluruh pelaku industri energi agar mematuhi aturan harga yang berlaku. Mereka menginstruksikan departemen di berbagai daerah untuk memperketat pengawasan pasar dan menindak tegas pelanggar kebijakan harga nasional demi menjamin ketertiban bagi masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More