Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anggota DPR PDIP Kritik Pigai soal  Bantahan Teror ke Ketua BEM UGM
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia, Natalius Pigai. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Anggota DPR dari PDIP, Marinus Gea, mengkritik pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai yang menilai teror terhadap Ketua BEM UGM bukan berasal dari pemerintah dan hanya penggiringan opini.

  • Marinus menilai sikap Pigai bisa melemahkan kepercayaan publik terhadap penegakan HAM serta menormalisasi aksi teror terhadap mahasiswa kritis yang seharusnya dilindungi negara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Marinus Gea, menyoroti pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai tentang teror terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto.

Pigai mengatakan, teror tersebut bukan berasal dari pemerintah dan menganggap isu ini sebagai penggiringan opini semata.

Marinus menilai, respons tersebut bisa berdampak negatif pada persepsi publik terhadap penegakan HAM di Indonesia. Menurut Marinus, pernyataan Menteri HAM tersebut kurang tepat. Sikap ini dianggap seolah menormalisasi aksi teror dan berisiko menggerus kepercayaan masyarakat terhadap keseriusan negara dalam melindungi hak asasi manusia.

Dia menyayangkan sikap kurang sensitif terhadap ancaman nyata yang dialami mahasiswa. Hal ini justru memberikan kesan adanya pembiaran terhadap intimidasi.

“Pernyataan pejabat publik yang terkesan menormalisasi teror justru berpotensi melemahkan kepercayaan rakyat terhadap komitmen negara dalam menjunjung hak asasi manusia,” ujar Marinus dalam keterangannya, dikutip Jumat (20/2/2026).

1. Pemerintah diminta aktif mengungkap pelaku, bukan sekadar membantah

Menteri HAM, Natalius Pigai (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Marianus menekankan, peran pemerintah seharusnya lebih dari sekadar memberikan bantahan. Klarifikasi semata dinilai tidak cukup untuk meredam kegelisahan publik. Pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk membuktikan ketidaterlibatan mereka.

“Tugas utama pemerintah bukan sekadar menyangkal keterlibatan, melainkan aktif mengungkap pelaku, memutus rantai intimidasi digital, dan menjamin keselamatan korban,” kata dia.

“Jika pemerintah merasa tidak terlibat, buktikan dengan mengusut tuntas teror ini secara terbuka supaya masyarakat tahu sumber ancaman tersebut bukan dari pemerintah,” sambungnya.

2. Mahasiswa kritis bukan musuh negara

Ilustrasi mahasiswa sedang berdemonstrasi (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Marinus mengingatkan, posisi mahasiswa merupakan elemen penting dalam demokrasi. Suara kritis dari kampus, kata dia, tidak seharusnya diposisikan sebagai ancaman bagi negara. Perlindungan terhadap mereka menjadi indikator penegakan nilai kemanusiaan.

“Mahasiswa yang kritis bukan musuh negara. Justru negara yang abai melindungi warganya dari teror adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan. Pernyataan Menteri HAM harus menenangkan korban dan menjamin perlindungan, bukan justru menormalisasi teror terhadap suara kritis,” kata dia.

3. Teror yang ditujukan kepada Ketua BEM UGM

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Diberitakan, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mendapat teror usai melayangkan surat ke UNICEF berisi kritik kepada Presiden Prabowo Subianto atas tragedi meninggalnya YBS, seorang anak di NTT. Tiyo mendapat ancaman penculikan, hingga sempat dikuntit orang tidak dikenal.

“Setelah kami mengirimkan surat tersebut, muncul respons publik yang luar biasa. Ternyata respons publik yang luar biasa dan cenderung positif karena merasa terwakili itu tidak hanya berdiri sendiri, tapi juga diiringi oleh semacam teror. Teror ini adalah bahasa kekuasaan yang gagal menjelaskan pikirannya,” kata Tiyo di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).

Tiyo mengaku mendapat teror dalam bentuk pesan dari nomor yang tidak dikenal yang berasal dari kontak Inggris Raya. Dia pun merasa heran belakangan banyak yang menyinggung soal antek asing, ternyata yang melakukan teror justru dari nomor asing.

"Jangan-jangan antek asing adalah mereka yang menyuruh orang-orang ini supaya neror kita dan siapa yang nyuruh orang-orang ini untuk neror kita?” ungkap Tiyo.

Tiyo mengungkapkan, pesan teror yang diterima, mulai dari penculikan, ancaman untuk membuka aib, hingga sempat diuntit orang tak dikenal.

“Jadi saya sedang di sebuah kedai dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto, tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita gak baik-baik saja,” kata Tiyo.

Selain itu, ibunda Tiyo juga mengalami teror serupa. Tiyo mengungkapkan, ibunya mendapatkan beberapa pesan misterius yang memojokkan dirinya dengan memanfaatkan sejumlah kerentanan, salah satunya pengiriman pesan di waktu tengah malam.

Si peneror, kata Tiyo, setidaknya sudah mengirimkan dua kali pesan kepada sang ibu per Selasa (17/2/2026).

Editorial Team