Ketua BEM UGM Diteror, Istana: Kritik Sah-Sah Saja, Kedepankan Adab-Etika

- Kritik sah-sah saja menurut Mensesneg
- Mensesneg tekankan etika dan tanggung jawab dalam menyampaikan pendapat
- Istana akan mengecek kasus teror yang dialami Ketua BEM UGM
Jakarta, IDN Times – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, angkat bicara soal teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, usai mengkritik kasus dugaan anak yang mengakhiri hidup di Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tak bisa beli peralatan sekolah.
Prasetyo menegaskan, pihak Istana belum mengetahui siapa pelaku teror tersebut. Namun, ia menilai kritik mahasiswa merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi, selama disampaikan dengan cara yang bertanggung jawab.
1. Kritik sah-sah saja

Prasetyo mengungkapkan, dirinya juga merupakan lulusan UGM dan pernah aktif di BEM. Karena itu, ia memahami tradisi kritik dari kalangan mahasiswa.
“Kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan, kebetulan kami juga lulusan dari UGM gitu, dulu juga pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa ya, menyampaikan kritik atau masukan itu selalu saya kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja,” kata Prasetyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).
Ia menegaskan, kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi. Menurutnya, negara tidak pernah melarang masyarakat, termasuk mahasiswa untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun isu sosial.
2. Mensesneg tekankan etika dan tanggung jawab

Meski begitu, Prasetyo menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat. Ia mengimbau semua pihak untuk menjaga adab dan memilih diksi yang tepat. Kritik yang disampaikan dengan bahasa yang arif dan bijak justru akan lebih efektif sebagai bahan pembelajaran bersama.
“Tentu kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adat-adat ketimuran. Jadi, penyampaian pendapatnya nggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga perlu menjadi pelajaran bagi kita semua. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapa pun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM,” ujarnya.
3. Istana akan mengecek

Saat ditanya lebih lanjut soal atensi pemerintah terhadap teror yang dialami Ketua BEM UGM, Prasetyo menyebut akan mengecek kasus tersebut.
“Ya nanti kita-kita cek lah,” ucapnya singkat.
Sebelumnya, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mendapat teror usai melayangkan surat ke UNICEF berisi kritik pada Presiden Prabowo Subianto atas tragedi meninggalnya YBS, seorang anak di NTT. Tiyo mendapat ancaman penculikan, hingga sempat dikuntit orang tidak dikenal.
“Setelah kami mengirimkan surat tersebut, muncul respons publik yang luar biasa. Ternyata respons publik yang luar biasa dan cenderung positif karena merasa terwakili itu tidak hanya berdiri sendiri, tapi juga diiringi oleh semacam teror. Teror ini adalah bahasa kekuasaan yang gagal menjelaskan pikirannya,” ungkap Tiyo di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).
Tiyo mengaku mendapat teror dalam bentuk pesan dari nomor yang tidak dikenal yang berasal dari kontak Inggris Raya. Ia pun merasa heran belakangan banyak yang menyinggung soal antek asing, ternyata yang melakukan teror justru dari nomor asing.
"Jangan-jangan antek asing adalah mereka yang menyuruh orang-orang ini supaya neror kita. Dan siapa yang nyuruh orang-orang ini untuk neror kita?” ungkap Tiyo.
Tiyo mengungkapkan pesan teror yang diterima, mulai penculikan, ancaman untuk membuka aib, hingga sempat diuntit orang tak dikenal. “Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto, tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita enggak baik-baik saja,” kata Tiyo.
Selain itu, ibunda Tiyo juga mengalami teror serupa. Tiyo mengungkapkan, ibunya mendapatkan beberapa pesan misterius yang memojokkan dirinya dengan memanfaatkan sejumlah kerentanan, salah satunya pengiriman pesan di waktu tengah malam.
Si peneror, kata Tiyo, setidaknya sudah mengirimkan dua kali pesan ke sang ibu per Selasa (17/2/2026).
"Terorisnya ini tahu waktu yang paling rentan bagi ibu saya untuk cukup punya rasa takut yaitu tengah malam, ketika ibu pasti dalam suasana batin yang tidak stabil," kata Tiyo dalam acara Diskusi Media Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) yang dilaksanakan secara daring, Selasa.
Tiyo menyebut pesan yang dikirimkan kepada ibunya adalah fitnah tak berdasar. Isinya, dia dituding telah menerima duit melalui rekomendasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Padahal, kata Tiyo, BEM UGM tak ada sangkut pautnya dalam pengurusan KIP ini. Lagipula, jika ia memang melakukan pelanggaran fatal semestinya sudah diberhentikan dari jabatannya selaku ketua BEM.
"Pesannya yang pertama adalah bahwa anakmu Tiyo Ardianto sebagai ketua BEM, dia nilep uang. Kedua, adalah ada berita orangtua ketua BEM UGM kecewa karena anaknya nilep uang," beber Tiyo.
Dia bilang, sang ibu mengalami ketakutan karena adanya teror dari sosok misterius ini.


















