Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) angkat bicara soal banyaknya pertanyaan mengapa banjir hebat di Pulau Sumatra belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Padahal, jumlah korban meninggal dunia di tiga provinsi itu per Jumat kemarin sudah menembus angka 174 jiwa.
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengatakan, soal penetapan status bencana nasional masih didiskusikan. Selain itu, meskipun Indonesia sering dilanda bencana tetapi tidak semua ditetapkan statusnya sebagai bencana nasional.
"Ini masih dalam (tahap) diskusi (soal penetapan status bencana nasional). Meskipun kita tak perlu mendiskusikan ini panjang lebar. Pemerintah kan hanya beberapa kali menetapkan status bencana nasional di Indonesia adalah COVID-19 dan tsunami pada 2004. Hanya dua itu saja yang ditetapkan sebagai bencana nasional," ujar Suharyanto seperti dikutip dari YouTube BNPB, Sabtu (29/11/2025).
Ia kemudian menyebut beberapa peristiwa di sejumlah daerah yang skalanya besar tetapi tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. Mulai dari gempa Cianjur, gempa di Nusa Tenggara Barat hingga gempa Palu. Di sisi lain, jumlah korban jiwa dari ketiga peristiwa itu juga tak kalah banyak dibandingkan banjir Sumatra. Tetapi, penanggulangannya tetap dipimpin oleh Pemprov masing-masing.
Suharyanto juga menyebut, potongan informasi yang berseliweran di media sosial turut diyakini mendorong penetapan status bencana nasional. "Memang kemarin kelihatannya (situasi di titik bencana) mencekam ya, karena berseliweran di media sosial gak bisa ketemu (keluarga). Tetapi, begitu sampai di sini sekarang, rekan media juga hadir di lokasi dan tidak hujan, coba di Sumatra Utara yang terlihat mencekam, sekarang yang kondisinya serius di Kabupaten Tapanuli Tengah," katanya memaparkan.
Sedangkan area lainnya di Sumut, dinilai relatif masih bisa diakses.
