Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BNPB, Banjir Sumatra, Suharyanto
Kepala Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto (tengah) ketika memberikan keterangan pers. (Tangkapan layar YouTube BNPB)

Intinya sih...

  • BNPB sebut banjir di tiga provinsi masih berstatus bencana daerah tingkat provinsi. Presiden Prabowo Subianto mengerahkan bantuan dan alutsista dalam jumlah besar.

  • BNPB sebut Tapanuli Tengah jadi daerah terparah di Sumut yang kena dampak banjir. Jumlah warga yang meninggal dan belum ditemukan paling banyak, akses ke sana pun terputus.

  • Jumlah korban meninggal dunia 225 jiwa akibat banjir Sumatra. Terjadi kenaikan drastis dari korban meninggal dunia di Kabupaten Agam, Sumbar, yang masih bisa bertambah karena banyak korban yang belum ditemukan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) angkat bicara soal banyaknya pertanyaan mengapa banjir hebat di Pulau Sumatra belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Padahal, jumlah korban meninggal dunia di tiga provinsi itu per Jumat kemarin sudah menembus angka 174 jiwa.

Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengatakan, soal penetapan status bencana nasional masih didiskusikan. Selain itu, meskipun Indonesia sering dilanda bencana tetapi tidak semua ditetapkan statusnya sebagai bencana nasional.

"Ini masih dalam (tahap) diskusi (soal penetapan status bencana nasional). Meskipun kita tak perlu mendiskusikan ini panjang lebar. Pemerintah kan hanya beberapa kali menetapkan status bencana nasional di Indonesia adalah COVID-19 dan tsunami pada 2004. Hanya dua itu saja yang ditetapkan sebagai bencana nasional," ujar Suharyanto seperti dikutip dari YouTube BNPB, Sabtu (29/11/2025).

Ia kemudian menyebut beberapa peristiwa di sejumlah daerah yang skalanya besar tetapi tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. Mulai dari gempa Cianjur, gempa di Nusa Tenggara Barat hingga gempa Palu. Di sisi lain, jumlah korban jiwa dari ketiga peristiwa itu juga tak kalah banyak dibandingkan banjir Sumatra. Tetapi, penanggulangannya tetap dipimpin oleh Pemprov masing-masing.

Suharyanto juga menyebut, potongan informasi yang berseliweran di media sosial turut diyakini mendorong penetapan status bencana nasional. "Memang kemarin kelihatannya (situasi di titik bencana) mencekam ya, karena berseliweran di media sosial gak bisa ketemu (keluarga). Tetapi, begitu sampai di sini sekarang, rekan media juga hadir di lokasi dan tidak hujan, coba di Sumatra Utara yang terlihat mencekam, sekarang yang kondisinya serius di Kabupaten Tapanuli Tengah," katanya memaparkan.

Sedangkan area lainnya di Sumut, dinilai relatif masih bisa diakses.

1. BNPB sebut banjir di tiga provinsi masih berstatus bencana daerah tingkat provinsi

Dampak kerusakan yang diakibatkan usai terjadi banjir di Sumatra Barat. (Dokumentasi BNPB)

Lebih lanjut, Suharyanto enggan menyampaikan pendapat lebih lanjut mengenai apakah perlu ditetapkan status bencana nasional dalam peristiwa banjir dan longsor di Pulau Sumatra. Saat ini peristiwa tersebut masih menjadi tanggung jawab masing-masing pemprov.

"Sekarang, statusnya masih bencana daerah tingkat provinsi. Karena tingkat provinsi maka pemerintah pusat melalui BNPB, TNI, Polri dan kementerian terkait tetap mendukung sekuat tenaga dan semaksimal mungkin," kata Jenderal bintang tiga di TNI Angkatan Darat (AD) itu.

Sebagai bukti, Presiden Prabowo Subianto juga mengerahkan agar dikirimkan bantuan dalam jumlah besar. Total ada empat pesawat angkut yang diperintahkan oleh Prabowo untuk mengangkut bantuan ke tiga provinsi di Sumatra.

"Kemudian, TNI dan Polri juga mengerahkan alutsista dalam jumlah besar. Kami pun juga mengerahkan kekuatan ke Sumatra. Apakah itu nantinya mau ditarik lagi, saya kembalikan kepada rekan-rekan media," tutur dia.

2. BNPB sebut Tapanuli Tengah jadi daerah terparah di Sumut yang kena dampak banjir

TNI Angkatan Darat (AD) bantu penanganan banjir, tanah longsor, dan putusnya jembatan yang melanda wilayah Tapanuli Tengah, Sibolga, hingga Mandailing Natal, Sumatera Utara (dok. Dinas Penerangan TNI AD)

Suharyanto menjelaskan, Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi daerah yang terparah kena dampak bencana banjir dan longsor di Sumut. Beberapa indikasinya yakni jumlah warga yang meninggal dan belum ditemukan paling banyak. Berdasarkan data BNPB, jumlah warga Tapanuli Tengah yang meninggal pada Jumat kemarin sudah mencapai 47 jiwa.

"Akses untuk bisa ke sana pun terputus. Itulah yang sekarang kami fokuskan," kata Suharyanto.

Ia mengatakan, saat ini satgas gabungan TNI dan Polri tengah membuka akses untuk bisa menuju ke Tapanuli Tengah. Suharyanto menyebut, kondisi jembatan terputus karena tertutup material longsor.

"Mungkin dalam kondisi hujan (warga) gak bisa bergerak, tapi kalau sudah kering, menggunakan alat berat, pelan-pelan bisa ditembus. Buktinya dengan naik sepeda motor dan jalan kaki bisa ke titik yang diharapkan," tutur dia.

3. Jumlah korban meninggal dunia 225 jiwa akibat banjir Sumatra

Kondisi di Kabupaten Agam, Sumatra Barat usai dihantam banjir dan longsor. (Dokumentasi BNPB)

Sementara, berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Sabtu (29/11/2025), korban akibat banjir Sumatra sudah mencapai 225 jiwa. Terbaru, terjadi kenaikan drastis dari korban meninggal dunia di Kabupaten Agam, Sumbar.

Semula angka korban meninggal dunia di Sumbar mencapai 23 jiwa. Namun, per Jumat malam kemarin, angkanya bertambah menjadi 74 jiwa. Angka korban meninggal dunia itu masih bisa bertambah lantaran masih banyak korban yang belum ditemukan.

"Pemerintah Kabupaten Agam merilis 78 orang lainnya masih belum ditemukan," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB di dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/11/2025).

Sedangkan dalam laporan BNPB pada Jumat kemarin, angka korban meninggal dunia di Aceh mencapai 35 jiwa. Adapun korban meninggal dunia di Sumatra Utara sudah mencapai 116 jiwa.

Editorial Team