Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu, Lolly Suhenty (IDN Times / Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Lebih lanjut, Bawaslu menilai maraknya politisasi SARA tidak terlepas dari peranan tiga aktor kunci. Mereka adalah, peserta pemilu yang terdiri dari partai atau calon, tim kampanye, dan simpatisan.
Lolly menuturkan, peserta pemilu merupakan pihak yang paling berisiko melakukan politisasi SARA ini karena akan mempengaruhi suara mereka. Sebagai peserta pemilu ingin menang pemilu, mereka akan berupaya memobilisasi sumber daya untuk memastikan kemenangan.
Kemudian, tim kampanye atau elite kelompok pendukung juga berisiko terlibat dalam kekerasan berbasis SARA ini karena mereka berkepentingan memenangkan calon yang didukung dalam kontestasi elektoral. Keterlibatan mereka bisa secara langsung maupun tidak langsung.
Tim kampanye biasanya terorganisasi dan memiliki sumber daya logistik memobilisasi massa. Tim kampanye merupakan alat utama para peserta pemilu.
"Karena itu, biasanya sumber daya terkonsentrasi di tangan mereka dan mereka distribusikan pada kelompok-kelompok simpatisan," ucap Lolly.
Terakhir, para simpatisan dan pendukung fanatik juga berisiko jadi pihak yang memancing kekerasan berbasis SARA. Meski tak mendapat keuntungan material jika calon mereka menang, tetapi fanatisme bisa mendorong simpatisan terlibat kekerasan.
Baca berita terbaru terkait Pemilu 2024, Pilpres 2024, Pilkada 2024, Pileg 2024 di Gen Z Memilih IDN Times. Jangan lupa sampaikan pertanyaanmu di kanal Tanya Jawab, ada hadiah uang tunai tiap bulan untuk 10 pemenang.