Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Belahan Jiwa di Bawah Langit Madinah: Romantisme Rasulullah dan Aisyah
Ilustrasi kota Madinah pada masa lampau. (Nano Banana 2/Rochmanudin)
  • Aisyah menjadi satu-satunya gadis yang dinikahi Rasulullah, hubungan mereka dipenuhi kasih, kecerdasan, dan kelembutan sejak masa awal hijrah hingga akhir hayat Nabi.
  • Peristiwa Haditsul Ifk menjadi ujian besar bagi Aisyah, namun wahyu turun membuktikan kesuciannya dan memperkuat ikatan cinta mereka di bawah kebenaran Ilahi.
  • Dalam Haji Wada’, Rasulullah menunjukkan empati mendalam kepada Aisyah yang sedang haid dengan menenangkannya dan memfasilitasi umrah khusus agar ia tetap bahagia beribadah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Di antara istri-istri Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wasallam, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq menempati ruang yang sangat unik dalam hati Rasulullah.

Sebagaimana dikutip dari Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Edisi Lengkap), Aisyah adalah satu-satunya gadis yang dinikahi Nabi, sebuah ikatan yang bukan sekadar formalitas, melainkan jalinan kasih yang penuh dialog, kecerdasan, dan kelembutan.

Rasulullah menikahi Aisyah di Makkah pada saat Aisyah berusia tujuh tahun, dan menggaulinya di Madinah tatkala usianya sudah baligh. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wasallam tidak menikahi seorang gadis manapun selain Aisyah. Abu Bakar menikahkan Nabi dan Aisyah dengan mahar 400 dirham.

Aisyah juga dikenal sebagai salah satu periwayat hadis terbesar setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi wasallam.

1. Cinta yang menguatkan di kala sakit

Ilustrasi Kota Madinah era kenabian (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Saat awal hijrah ke Madinah, wabah demam sempat menyerang banyak sahabat, termasuk ayah Aisyah, Abu Bakar. Dengan penuh kasih, Aisyah muda menjenguk mereka dan melaporkan kondisi mereka kepada Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam.

Allah menjaga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wasallam, sehingga beliau tidak terserang wabah penyakit demam. Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal satu rumah. Mereka semua terjangkit wabah demam tinggi. Peristiwa ini terjadi pada saat hijab belum diwajibkan.

Melihat kekhawatiran Aisyah, Nabi berdoa agar Allah Subhanallahu Wata'ala menumbuhkan rasa cinta di hati mereka terhadap Madinah, sebagaimana mereka mencintai Makkah, sebuah doa yang lahir dari interaksi hangat dengan sang istri.

2. Ujian berat dan kabar gembira dari langit

Ilustrasi Kota Makkah pada masa lampau. (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Momen paling emosional dalam hubungan Rasulullah dan Aisyah adalah peristiwa Haditsul Ifk (hoaks). Saat Aisyah difitnah, ia sangat merindukan kelembutan Nabi yang biasanya menyapa, "Bagaimana keadaanmu?"

Di tengah tangisannya yang seolah tak kunjung usai, wahyu turun menyucikan nama Aisyah. Rasulullah dengan wajah berseri-seri laksana rembulan mendatangi Aisyah. Seraya mengusap keringat dari keningnya, Nabi bersabda: "Bergembiralah wahai Aisyah, Allah telah menurunkan ayat tentang kesucian dirimu".

Aisyah langsung berkata "alhamdulillah", dan Nabi keluar menemui orang-orang, lalu berkhutbah di hadapan mereka serta membacakan ayat Al Qur'an yang diturunkan Allah kepada beliau tentang masalah ini.

Setelah itu, Nabi meminta dipanggilkan Misthah bin Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahys yang telah ikut menyebarluaskan berita bohong tentang Aisyah.

Aisyah menyambutnya dengan syukur mendalam, mengukuhkan kembali cinta mereka di atas kebenaran Ilahi.

3. Kelembutan Nabi di Haji Wada'

Ilustrasi kota Makkah era kenabian (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Sisi romantis Nabi juga tampak pada saat Haji Wada'. Ketika Aisyah menangis karena tidak bisa menjalankan umrah akibat haid, Rasulullah menenangkannya dengan lembut.

Aisyah mengatakan: Ketika itu aku sedang haid dan menangis. Rasulullah lalu menemuiku dan bersabda: "Wahai Aisyah, ada apa? Apakah engkau sedang haidh?" Aku menjawab: "Ya. Demi Allah, kalau terus begini rasanya aku tidak bisa melanjutkan perjalanan bersama kalian."

Rasulullah bersabda: "Janganlah pesimis. Engkau tetap berhaji berhaji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di sekitar Baitullah."

Tak sampai di situ, setelah haji selesai, Nabi secara khusus meminta saudara Aisyah, Abdurrahman bin Abu Bakar, untuk mengantarkannya ke At-Tan'im agar Aisyah bisa menunaikan umrah sebagai pengganti rasa sedihnya. Beliau sangat menjaga perasaan istrinya agar tidak merasa kurang dalam ibadah.

4. Nafas terakhir di pangkuan sang kekasih

Ilustrasi orang-orang Arab sedang berjalan di gurun pasir. (Nano Banana 2/Rochmanudin)

Puncak dari kisah cinta ini terjadi saat ajal menjemput Rasulullah. Atas izin istri-istrinya yang lain, Beliau memilih untuk dirawat di rumah Aisyah.

Di detik-detik terakhirnya, Aisyah membantu melembutkan siwak dengan giginya sendiri sebelum diberikan kepada Nabi—sebuah gestur kecil namun sangat intim. Akhirnya, Rasulullah mengembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan dan di atas pangkuan Aisyah.

Editorial Team