Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tag di Google Maps Rumah Presiden ke-7 Jokowi. (Google)
Tag di Google Maps Rumah Presiden ke-7 Jokowi. (Google)

Intinya sih...

  • Google Maps menampilkan label "Tembok Ratapan Solo" di rumah Jokowi, kini berubah menjadi "Solo City Wailing Wall".

  • Ajudan Jokowi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi serupa di depan kediaman pribadi Jokowi.

  • Tembok Ratapan adalah situs suci bagi umat Yahudi, tempat berdoa dan menyampaikan permohonan kepada Tuhan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Jagat media sosial dihebohkan dengan titik lokasi rumah pribadi Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo di Solo diberi nama "Tembok Ratapan Solo". Adapun kediaman mantan Gubernur DKI Jakarta ini berada di Jalan Kutai Utara Nomor 1, Kelurahan Sumber, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah (Jateng).

Sontak warganet ramai membahas fenomena ini melalui berbagai postingan di media sosial. Mereka membagikan tangkapan layar (screenshot) melalui aplikasi Google Maps. Ada pula akun yang membagikan foto sejumlah orang di depan pagar rumah Jokowi, sambil meratap seperti sedang beribadah yang dilakukan umat Yahudi di Tembok Ratapan.

"Inilah tembok ratapan Sologakure. Konon katanya siapapun yang mencium dan menjilat tembok ini dengan penuh keyakinan, karier politiknya akan berjalan mulus dan penuh berkah," bunyi narasi dalam sebuah video.

Lantas benarkah fenomena tersebut?

1. Keterangan soal Tembok Ratapan di rumah Jokowi masih ada

Tag di Google Maps Rumah Presiden ke-7 Jokowi. (Google)

IDN Times coba mengakses Google Maps untuk mengonfirmasi apakah benar titik di rumah Jokowi diberi label tembok ratapan. Pantauan di aplikasi peta digital ini pada Selasa (17/2/2026) sore, masih terdapat embel-embel Tembok Ratapan.

Hanya saja namanya kini berubah, dari yang sebelumnya berbahasa Indonesia menjadi berbahasa Inggris menjadi "Solo City Wailing Wall". Titik lokasi ini berada persis di dekat rumah Jokowi.

2. Tanggapan ajudan Jokowi

Rumah Presiden ke-7 Jokowi. (IDN Times/Larasati Rey)

Menanggapi fenomena itu, ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aksi serupa di depan kediaman pribadi Jokowi.

Syarif mengakui masih ada saja warga yang mencoba meniru aksi dalam video viral tersebut. Meski begitu, pihaknya memilih untuk melakukan pendekatan secara persuasif.

“Masih ada saja yang melakukan, tapi kami imbau supaya tidak melakukan hal seperti itu,” kata Syarif, Selasa (17/2/2026).

Ia menegaskan, lokasi tersebut merupakan hunian pribadi Jokowi dan Iriana, bukan tempat wisata atau lokasi simbolik seperti yang ramai disebut di media sosial.

“Ini kediaman Bapak Joko Widodo dan Ibu Iriana, bukan Tembok Ratapan Solo,” tegasnya.

Nama “Tembok Ratapan Solo” muncul di Google Maps tepat di titik lokasi rumah Jokowi. Tak butuh waktu lama, label itu memicu rasa penasaran publik. Syarif mengaku sudah mengetahui adanya penamaan unik tersebut. Namun, ia belum memastikan apakah Jokowi sendiri sudah melihat atau mendengar soal hal itu.

“Kalau saya sudah tahu. Bapak sudah tahu atau belum, saya belum bisa pastikan,” ujarnya.

Meski muncul tren aksi meratap, pihak keamanan memastikan tidak ada pembatasan khusus bagi masyarakat yang melintas atau datang ke sekitar lokasi.

“Tidak ada pembatasan, tetap seperti biasa,” kata Syarif.

Saat ditanya kemungkinan meminta perubahan nama di Google Maps, Syarif tak banyak berkomentar. Ia pun mengaku tidak merasa tersinggung dengan label tersebut.

“Kalau saya biasa saja,” ucapnya singkat.

Dengan demikian, kabar mengenai titik lokasi rumah pribadi Jokowi diberi label mengenai tembok ratapan Solo adalah berita benar.

3. Mengenal Tembok Ratapan

Umat Yahudi Berdoa di Tembok Ratapan. (pixabay.com/MaciejJaszczolt)

Adapun, Tembok Ratapan merupakan salah satu situs paling suci bagi umat Yahudi di dunia. Tembok ini berfungsi sebagai tempat berdoa, bermeditasi, dan menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Banyak peziarah menuliskan doa di secarik kertas lalu menyelipkannya di celah-celah batu tembok, sebagai simbol harapan dan spiritualitas.

Secara historis, Tembok Ratapan adalah sisa dari kompleks Bait Suci Kedua (Second Temple) yang dibangun kembali pada abad ke-6 SM dan diperluas oleh Raja Herodes Agung. Bait suci tersebut dihancurkan oleh pasukan Romawi pada tahun 70 M, namun sebagian dinding penyangganya masih bertahan hingga kini, yang kemudian dikenal sebagai Tembok Ratapan.

Dalam praktik keagamaan, Tembok Ratapan memiliki kegunaan penting sebagai pusat ibadah umat Yahudi, terutama pada hari-hari besar seperti Yom Kippur dan Paskah Yahudi. Area ini terbagi menjadi dua bagian, yakni untuk laki-laki dan perempuan, sesuai tradisi Ortodoks Yahudi.

Lokasi Tembok Ratapan berada di Kota Tua Yerusalem, tepat di kaki Bukit Bait Suci (Temple Mount). Selain menjadi tempat ibadah, kawasan ini juga menjadi destinasi wisata religi dunia yang dikunjungi jutaan orang setiap tahun dari berbagai latar belakang agama dan budaya.

Editorial Team