Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CEK FAKTA: Stok Obat Oseltamivir di Rumah Sakit dan Apotek Kosong
Obat Oseltamivir untuk Pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri. (dok. Kemenkes)
  • Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan oseltamivir masih tersedia di rumah sakit, membantah narasi bahwa stok obat tersebut kosong di Indonesia.

  • Oseltamivir tidak diberikan kepada semua pasien influenza, melainkan terbatas untuk pasien bergejala berat atau memiliki komorbid yang membutuhkan antivirus.

  • Pembatasan penggunaan diterapkan untuk mencegah resistansi antivirus; pemerintah meminta peningkatan influenza direspons lewat surveilans dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Narasi di media sosial menyebut stok oseltamivir kosong di rumah sakit dan apotek, sementara Menteri Kesehatan menyatakan obat tersebut masih tersedia di rumah sakit.
  • Who?
    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pasien influenza tertentu, pengguna media sosial akun @xxx****e, serta rumah sakit dan apotek disebut dalam situasi ini.
  • Where?
    Situasi ini dilaporkan terjadi di Indonesia, dengan pencarian oseltamivir disebut dilakukan di rumah sakit dan apotek.
  • When?
    Narasi tersebut muncul ketika kasus influenza meningkat di Indonesia; waktu pasti unggahan dan pencarian obat per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Penggunaan oseltamivir dibatasi karena antivirus tidak ditujukan bagi semua pasien influenza dan pemakaian berlebihan berisiko memicu resistansi obat.
  • How?
    Oseltamivir diberikan secara terbatas kepada pasien influenza bergejala berat atau memiliki komorbid, berdasarkan pertimbangan tenaga medis dan masukan para ahli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Obat oseltamivir tidak kosong di rumah sakit, kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ada orang di media sosial bilang susah mencarinya di apotek dan rumah sakit. Tapi obat ini tidak boleh diberikan ke semua orang flu. Dokter memberi obat ini untuk pasien yang sakit berat atau punya penyakit lain. Sekarang obatnya masih ada di rumah sakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah meningkatnya kasus influenza, penanganan oseltamivir menunjukkan adanya pendekatan yang berhati-hati dan berbasis pertimbangan ahli. Ketersediaan obat di rumah sakit bagi pasien dengan kondisi berat atau komorbid membantu memastikan penggunaannya tepat sasaran, sekaligus menjaga efektivitas antivirus dengan mengurangi risiko resistansi akibat pemakaian berlebihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Seiring meningkatnya kasus Influenza di Indonesia muncul narasi yang menyebutkan bahwa obat oseltamivir di Indonesia sudah kosong termasuk di rumah sakit dan apotek.

Narasi tersebut ramai disuarakan di media sosial @threads, salah satunya pengguna medsos dengan akun @xxx****e yang sulit mencari obat tersebut di apotek.

"Diresepin oseltavimir, di suruh cari sndri di luar RS yang kyknya uda ga ada di indo. Uda cari di semua apotik dan RS luar juga pada kosong," tulisnya

Benarkan obat oseltamivir kosong?

1. Obat oseltamivir tidak untuk semua pasien

Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama Sekda Jateng saat konferensi pers terakhir perkembangan terbaru layanan CKG untuk wilayah Jateng. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan, obat antivirus seperti oseltamivir tidak ditujukan untuk semua pasien influenza. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini diberikan secara terbatas hanya pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus. Dia memastikan obat tersebut tersedia di rumah sakit

"Jadi obat oseltamivir itu ada di rumah sakit, tapi berdasarkan para ahli yang menyampaikan bahwa tidak bisa sembarangan diberikan karena bisa mengakibatkan resistensi," ujar Menkes Budi.

2. Penggunaan oseltamivir dibatasi

ilustrasi oseltamivir (commons.wikimedia.org/Mk2010)

Pembatasan penggunaan oseltamivir diperlukan untuk mencegah terjadinya resistansi terhadap obat antivirus. Menkes mengibaratkan hal tersebut dengan penggunaan antibiotik yang tidak tepat yang dapat mendorong terjadinya resistansi antimikroba.

“Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx,” lanjut Menkes.

3. Kabar tersebut disinformasi

Ilustrasi Cek Fakta General. (IDN Times/Anjani Asra)

Budi mengimbau agar peningkatan kasus influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan dengan kepanikan

Jadi kabar oseltamivir kosong merupakan disinformasi atau hoaks, karena Menkes menjamin bahwa obat tersebut masih tersedia di rumah sakit.

Curated For You

Editorial Team

Related Article