Islah Bahrawi saat memaparkan penguntitan yang dialami dalam jumpa pers bertajuk Menyikapi Intimidasi dan Teror Terhadap Masyarakat Sipil di Kantor YLBHI, Jakarta, Jumat (5/6/2026). (YouTube/YLBHI)
Menurut Islah, dugaan penguntitan tidak hanya terjadi di sekitar rumah, tetapi juga berlanjut ke aktivitas mobilitasnya bersama keluarga. Termasuk saat dia menjemput anaknya yang libur kuliah di Malaysia hingga melakukan perjalanan ke beberapa lokasi di Jakarta. Dia mengatakan, ada satu mobil yang terus mengikuti pergerakan mereka secara konsisten. Mulai dari titik keberangkatan, tempat makan, hingga perjalanan kembali menuju rumah tanpa terputus.
“Saya menjemput anak saya yang liburan, karena anak saya kuliah di Malaysia. Karena dia libur Idul Adha, saya jemput ke bandara. Saya belum sadar (dibuntuti). Nah, ketika ponakan saya itu duduk di barisan belakang karena seven seater. Ponakan saya itu curiga. Ketika keluar dari rumah, ada mobil Avanza ini," kata dia.
Dia mengatakan, kendaraan tersebut terus membuntuti hingga perjalanan kembali ke rumah, termasuk saat dirinya berhenti di beberapa titik kecil seperti toko swalayan, sebelum akhirnya kendaraan itu menghilang ketika dia sudah memasuki area gang rumah. Hal itu pun membuat dugaan adanya pola pengawasan terarah semakin menguat.
“Jadi mulai dari berangkat ke bandara sampai saya mampir di restoran untuk menjamu anak saya yang baru pulang dari Malaysia di PIK 2 itu, mereka juga ikut parkir, tapi tidak ikut makan. Ketika saya pulang dari Pagi Sore ke arah rumah, dia juga mengikuti terus sampai keluar pintu tol. Saya keluar dari tol, saya beli rokok, rokok saya habis, dia juga ikut berhenti dan kemudian sampai ke rumah, dia baru melepas saya ketika saya masuk ke gang rumah," kata Islah.
Selain itu, berdasarkan pemantauan dan pengamatan yang dilakukan, Islah menyebut adanya dugaan penggunaan alat pelacak yang menurut dia digunakan untuk memantau posisi pergerakannya secara real time. Islah semakin yakin pengintaian tersebut bukan bersifat acak, melainkan terstruktur dan terkoordinasi dengan metode tertentu.
Para OTK juga disebut memanfaatkan sebuah aplikasi di gawai untuk melaporkan kejadian. Islah menyebut, dalam dunia intelijen sistem ini disebut reporting and eliciting.
"Kenapa saya bilang terorganisir juga, mereka titik kumpulnya sama. Mereka kemudian saling berbagi informasi yang didapatkan. Nah yang kedua, indikasi ini diperkuat oleh sistem aplikasi yang sama. Ini adalah sistem aplikasi pelaporan, reporting and eliciting. Jadi ini adalah sistem pelaporan dan sistem pemunculan dari target yang sedang diintai itu dengan aplikasi yang sama ini," ujar Islah.
"Biasanya masing-masing instansi intelijen itu punya aplikasi pelaporan yang berbeda-beda. Nah ini kita gak tahu aplikasi ini, sistem pelaporan ini punya instansi mana, kita juga belum bisa menebak-nebak, yang jelas kita gak tahu sistem aplikasi ini milik siapa," kata dia.