Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Suami Harum Korban Kereta Bekasi: Telepon Istri Diangkat Damkar
Makam Harum Anjarsari (30) di TPU Cipayung, Jakarta Timur. (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Harum Anjarsari menjadi korban kecelakaan KRL Bekasi–Cikarang saat perjalanan pulang setelah acara kantor, meninggalkan suami dan dua anaknya.
  • Suaminya, Radit, sempat menunggu kabar selama 40 menit dan mencoba menghubungi Harum, namun panggilan akhirnya dijawab oleh petugas pemadam kebakaran.
  • Radit kemudian menemukan fakta bahwa istrinya termasuk korban meninggal dunia setelah proses identifikasi di RS Polri melalui pencocokan ciri dan DNA keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
27 April 2024

Harum Anjarsari menghadiri acara halal bihalal di kantornya dan pulang pada malam hari. Ia dijemput suaminya Radit bersama anak bungsu mereka menuju Stasiun Tambun.

pukul 20.55 WIB

Harum dan keluarganya tiba di Stasiun Tambun. Dalam perjalanan, Harum mengirim pesan terakhir kepada suaminya bahwa kereta yang ditumpanginya menabrak mobil di Bekasi Timur.

40 menit kemudian

Radit menunggu kabar dari Harum namun tidak mendapat balasan. Ia menuju Bekasi Timur dan mendapati situasi sudah kacau akibat kecelakaan KRL Jakarta–Cikarang.

keesokan harinya pukul 09.00 WIB

Radit menunggu proses evakuasi korban di Stasiun Bekasi Timur sebelum kembali ke RSUD untuk mencari istrinya.

setengah lima sore

Radit menerima telepon yang mengabarkan bahwa istrinya, Harum Anjarsari, meninggal dunia setelah teridentifikasi melalui proses forensik dan pencocokan DNA di RS Polri.

kini

Kementerian Perhubungan menyatakan insiden bermula dari KRL relasi Bekasi–Cikarang yang tertemper mobil di perlintasan JPL 85, menyebabkan rangkaian dievakuasi dan memicu tabrakan lanjutan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kecelakaan kereta terjadi di Bekasi Timur, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL relasi Bekasi–Cikarang yang sebelumnya tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
  • Who?
    Salah satu korban adalah Harum Anjarsari (30), penumpang KRL, sementara suaminya Radit (36) mencari keberadaan istrinya setelah insiden tersebut. Petugas Damkar dan pihak rumah sakit turut menangani evakuasi.
  • Where?
    Peristiwa terjadi di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, dengan proses evakuasi korban dilakukan di RSUD setempat dan RS Polri Jakarta.
  • When?
    Kecelakaan berlangsung pada Senin malam, 27 April 2024, sekitar pukul 20.55 WIB, dengan proses identifikasi korban berlanjut hingga keesokan harinya.
  • Why?
    Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden bermula ketika KRL tertemper mobil di perlintasan sebidang sehingga mengganggu perjalanan dan menyebabkan tabrakan lanjutan dengan KA Argo Bromo Anggrek.
  • How?
    KRL yang berhenti akibat insiden pertama ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB). Saat KA Argo Bromo Anggrek
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada ibu namanya Harum naik kereta pulang kerja mau liburan sama suami dan anaknya. Tapi keretanya nabrak mobil di Bekasi Timur. Suaminya, Radit, tunggu lama tapi istrinya nggak jawab lagi. Waktu ditelepon, yang angkat malah petugas pemadam. Akhirnya Radit tahu kalau istrinya meninggal karena kecelakaan itu. Sekarang Radit dan keluarganya sangat sedih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah duka mendalam, kisah Radit memperlihatkan keteguhan hati dan kasih yang tulus terhadap istrinya. Ia tetap berusaha mencari Harum dengan sabar, berpindah dari satu rumah sakit ke lainnya, dibantu petugas Damkar dan pihak berwenang yang sigap mengevakuasi korban. Kehadiran mereka mencerminkan empati dan kerja sama kemanusiaan di saat krisis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pekan ini harusnya menjadi momen bahagia Harum Anjarsari (30) bersama suami Radit (36) dan dua anaknya. Mereka berencana pergi berlibur sebelum Radit dipindah tugaskan dari Jakarta ke Tasik, Jawa Barat.

Harum sudah mengajukan cuti, namun ia tetap harus ke kantor untuk acara halal bihalal pada Senin (27/4/2024). Singkat cerita, Harum pulang ke rumah pada malam hari.

Radit bersama anak bungsunya yang berusia tiga tahun menjemput Harum. Keduanya menuju Stasiun Tambun dan sampai pada pukul 20.55 WIB.

“Istri masih kabar-kabaran. Pas sampai di Bekasi Timur tuh dia bilang, 'Sayang, ini keretanya nabrak ini,' katanya, 'nabrak mobil,” pesan terakhir Harum lewat percakapan WhatsApp kepada sang suami.

1. 40 menit menunggu kabar Harum

Makam Harum Anjarsari (30) di TPU Cipayung (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Radit kemudian meminta Harum untuk turun dan shareloc agar selanjutnya dijemput. Namun, hingga 40 menit menunggu, Harum tak kunjung membalas pesan.

Radit kemudian menuju Bekasi Timur, sesampainya di sana ia mendapati situasi yang sudah chaos.

“Udah chaos, saya pulang dulu ke Tambun, nidurin anak saya,” kata Radit.

2. Radit menelepon Harum, diangkat petugas Damkar

Radit, suami Harum Anjarsari (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Setelah itu, dia mendapati kabar jika KRL Jakarta-Cikarang yang ditumpangi istrinya mengalami kecelakaan. Dia pun mencoba menelepon sang istri, tetapi tak ada jawaban.

Radit memutuskan untuk ke RSUD, tempat para korban mendapatkan perawatan. Namun, dari beberapa rumah sakit yang dikunjungi, Ia tak menemukan Harum.

“Ibu mertua saya nelepon, 'Coba angkat telepon lagi ke nomornya Arum,' katanya. Saya telepon, ternyata yang angkat Damkar (Pemadam Kebakaran),” ujar Radit yang berusaha tegar di dekat pusara Harum.

3. Radit dikabari istrinya meninggal dunia

Kecelakaan KRL dan Argo Bromo di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). (IDN Times/Imam Faishal)

Petugas Damkar yang mengangkat telepon Radit kemudian memintanya untuk ke Stasiun Bekasi Timur. Sesampainya di sana, petugas Damkar memberikan HP milik Harum.

Saat memegang HP Harum, Radit berharap istrinya selamat dari musibah. Dia pun memutuskan untuk menunggu proses evakuasi hingga pukul 09.00 WIB, keesokan harinya.

“Sampai akhirnya saya ke RSUD lagi, di RSUD diarahin, karena infonya ada 10 orang yang dibawa ke RS Polri. Akhirnya saya ke RS Polri bareng mertua saya. Sudah mulai, forensik semua, DNA ayah mertua saya, terus saya nyebutin ciri-cirinya juga dan memang ya… pas (sesuai),” ujar Radit.

“Setengah lima (sore) ditelepon, dan tahu (Harum meninggal dunia), ya udah terima saja gitu. Memang udah takdirnya,” ujar dia.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.

Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.

Sebagai dampak peristiwa itu, petugas lalu memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.

Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta-Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnyasehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.

Editorial Team