Kecelakaan KRL dan Argo Bromo di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). (IDN Times/Imam Faishal)
Petugas Damkar yang mengangkat telepon Radit kemudian memintanya untuk ke Stasiun Bekasi Timur. Sesampainya di sana, petugas Damkar memberikan HP milik Harum.
Saat memegang HP Harum, Radit berharap istrinya selamat dari musibah. Dia pun memutuskan untuk menunggu proses evakuasi hingga pukul 09.00 WIB, keesokan harinya.
“Sampai akhirnya saya ke RSUD lagi, di RSUD diarahin, karena infonya ada 10 orang yang dibawa ke RS Polri. Akhirnya saya ke RS Polri bareng mertua saya. Sudah mulai, forensik semua, DNA ayah mertua saya, terus saya nyebutin ciri-cirinya juga dan memang ya… pas (sesuai),” ujar Radit.
“Setengah lima (sore) ditelepon, dan tahu (Harum meninggal dunia), ya udah terima saja gitu. Memang udah takdirnya,” ujar dia.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Perhubungan, insiden bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Sebagai dampak peristiwa itu, petugas lalu memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta-Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnyasehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.