Jakarta, IDN Times - Hizbullah optimistis Lebanon akan masuk dalam kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran. Sebab, mereka yakin Iran pasti akan mengupayakan hal tersebut. Jika kesepakatan ini terjadi, penghentian perang AS dan Iran akan meliputi penghentian perang Israel dan Lebanon.
Hizbullah Pede Lebanon Masuk dalam Kesepakatan Damai AS-Iran

- Hizbullah yakin Iran akan memastikan Lebanon ikut dalam kesepakatan damai AS-Iran, yang diharapkan bisa menghentikan konflik antara Israel dan Lebanon.
- Donald Trump menegaskan fokus negosiasi damai AS hanya dengan Iran, tanpa menuntut Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan tersebut.
- Negosiasi damai AS-Iran masih berlangsung dengan syarat utama dari Iran mencakup penghentian sanksi ekonomi dan perang, termasuk gencatan senjata bagi Lebanon.
"Jika kesepakatan itu tercapai, kami memiliki kepercayaan penuh pada Republik Islam (Iran). Kami yakin bahwa mereka akan bersikeras pada kesepakatan apa pun, termasuk masalah Lebanon," kata seorang politikus Hizbullah, Hassan Fadlallah, dalam cuplikan pidato yang disiarkan oleh televisi Al-Manar pada Jumat (12/6/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.
1. Iran menjamin kesepakatan damai dengan AS akan melibatkan Lebanon

Iran sendiri sebetulnya sudah berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan damai dengan AS harus meliputi Lebanon. Sebab, Iran sudah memasukkan hal tersebut ke dalam draf kesepakatan perdamaian dengan AS. Namun, draf kesepakatan itu belum difinalisasi oleh kedua negara.
Sebagai negara tetangga, Iran tidak ingin Lebanon terus diserang Israel. Sebab, hingga saat ini, Israel masih ngotot menyerang Lebanon selatan untuk membasmi seluruh pasukan Hizbullah. Padahal, gencatan senjata kedua negara masih berlaku. Serangan terbaru Israel ke Lebanon selatan terjadi pada Jumat. Kala itu, Israel meluncurkan serangan ke Al-Bayyad, desa kecil yang ada di Kota Tyre, Lebanon selatan. Dilansir Al Jazeera, serangan itu melukai satu orang.
2. Donald Trump tidak menuntut Lebanon masuk dalam kesepakatan damai

Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, tidak terlalu memikirkan Lebanon dalam negosiasi damai dengan Iran. Dalam pernyataannya, ia menegaskan, negosiasi yang ditempuh AS hanya untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Sementara Lebanon adalah urusan Israel.
"Saya rasa, mereka ingin melihatnya (Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan damai AS dan Iran). Namun, saya tidak menuntut itu," kata Trump dalam wawancara di acara Meet the Press bersama NBC News pada 6 Mei lalu, seperti dikutip Jerusalem Post.
3. Negosiasi AS dan Iran masih berlanjut

Saat ini, negosiasi perdamaian AS dan Iran masih berlanjut. Negosiasi kedua negara sebetulnya sempat mandek. Sebab, beberapa waktu lalu, Iran memutuskan untuk menghentikan negosiasi sebagai protes karena Israel tetap menyerang Lebanon meski sudah gencatan senjata.
Iran sendiri telah mengajukan sejumlah syarat perdamaian ke AS. Beberapa di antaranya adalah penghentian sanksi ekonomi terhadap Iran dan penghentian perang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan, penghentian perang harus meliputi Iran dan Lebanon. Artinya, jika AS berhenti berperang dengan Iran, maka Israel juga harus berhenti berperang dengan Lebanon.
Selain itu, AS juga harus menghentikan pembekuan aset-aset milik Iran yang jumlahnya mencapai miliaran dolar. Sebagai gantinya, Iran akan menghentikan blokade Selat Hormuz. Sebab, pada Kamis (11/6/2026) lalu, Iran kembali menutup penuh salah satu jalur strategis perdagangan global tersebut. Kendati begitu, Iran menegaskan akan tetap mengontrol Selat Hormuz secara penuh. Sebab, menurut Araghchi, Iran punya kedaulatan penuh atas selat tersebut.


















