Comscore Tracker

5.236 Orang Meninggal karena COVID-19, Ketua Satgas: Bukan Konspirasi!

COVID-19 ancaman nyata, maka tetap waspada ya, guys

Jakarta, IDN TImes - Satgas penanganan COVID-19 melaporkan, jumlah pasien positif COVID-19 yang meninggal dunia total hingga Minggu (2/8/2020) terdapat 5.236 kasus. Angka tersebut muncul karena ada penambahan kasus meninggal sebanyak 43 orang.

Selain itu pertambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 1.519 kasus Dengan demikian total kasus COVID-19 mencapai 111.455.

Meski angka positif tinggi namun angka kesembuhan pasien COVID-19 juga bertambah. Hari ini ada penambahan 1.056 kasus sembuh, sehingga total kasus sembuh COVID-19 tembus 68.975.

1. Semua harus sadar ini bukan konspirasi

5.236 Orang Meninggal karena COVID-19, Ketua Satgas: Bukan Konspirasi!Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha pada Masa Pandemik COVID-19 (Youtube.com/BNPB Indonesia)

Beberapa waktu lalu, Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Doni Monardo, meminta masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan untuk menekan penambahan kasus positif COVID-19. Masyarakat harus menyadari bahwa COVID-19 adalah ancaman yang nyata.

"COVID ini adalah ancaman yang nyata, suatu virus yang membahayakan. Dalam berbagai kesempatan saya sering mengatakan COVID ibarat malaikat pencabut nyawa, korban di seluruh dunia sudah lebih dari 600 ribu orang, semua harus sadar ini bukan konspirasi," ujar Doni dalam keterangan persnya di channel YouTube Sekretariat Kabinet, Senin (27/7/2020)

Baca Juga: [UPDATE] Kabar Baik, 68.975 Orang di Indonesia Sembuh dari COVID-19

2. Penularan bisa dikurangi bila kontrol diri

5.236 Orang Meninggal karena COVID-19, Ketua Satgas: Bukan Konspirasi!Ilustrasi bekerja memakai masker. (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

Doni mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir kasus positif rata-rata 1.000 kasus per hari. Bahkan bisa lebih dari 2.000.

"Kalau semua orang mampu mengontrol diri, maka proses penularan ini bisa kita kurangi bahkan bisa kita cegah apabila satu sama lain saling jaga jarak dan tidak mendekati ke tempat kerumunan," jelasnya.

3. Indonesia belum mencapai puncaknya

5.236 Orang Meninggal karena COVID-19, Ketua Satgas: Bukan Konspirasi!Seorang penumpang kapal saat diambil sampel darahnya. Fariz Fardianto/IDN Times

Doni menilai Indonesia belum mencapai puncaknya. Satgas akan tetap meningkatkan upaya sosialisasi, dan komunikasi agar seluruh masyarakat bisa memahami.

"Saat ini belum tahu kapan puncak, melihat perkembangan karena fluktuatif setiap hari. COVID ini belum akan berakhir kapan kita belum tahu, sebab saat ini vaksin sedang diupayakan," terangnya.

 

4. Sebaran COVID-19 di 34 provinsi

5.236 Orang Meninggal karena COVID-19, Ketua Satgas: Bukan Konspirasi!Pemain Arema FC mengikuti rapid test di kantor Arema FC. IDN Times/ Alfi Ramadana

Virus corona telah menyebar di 34 provinsi di Indonesia. Berikut ini data rincian penyebaran dilansir laman covid.19.go.id, Minggu (2/7/2020) pukul 16.00

1. Aceh 431 kasus
2. Bali 3.488 kasus
3. Banten 1.870 kasus
4. Bangka Belitung 193 kasus
5. Bengkulu 235 kasus
6. Yogyakarta 760 kasus
7. DKI Jakarta 22.144 kasus
8. Jambi 169 kasus
9. Jawa Barat 6.637 kasus
10. Jawa Tengah 9.732 kasus
11. Jawa Timur 22.504 kasus
12. Kalimantan Barat 387 kasus
13. Kalimantan Timur 1.516 kasus
14. Kalimantan Tengah 1.777 kasus
15. Kalimantan Selatan 6.192 kasus
16. Kalimantan Utara 284 kasus
17. Kepulauan Riau 493 kasus
18. Nusa Tenggara Barat 2.115 kasus
19. Sumatera Selatan 3.444 kasus
20. Sumatera Barat 957 kasus
21. Sulawesi Utara 2.668 kasus
22. Sumatera Utara 4.136 kasus
23. Sulawesi Tenggara 787 kasus
24. Sulawesi Selatan 9.647 kasus
25. Sulawesi Tengah 213 kasus
26. Lampung 271 kasus
27. Riau 456 kasus
28. Maluku Utara 1.557 kasus
29. Maluku 1.135 kasus
30. Papua Barat 460 kasus
31. Papua 3.114 kasus
32. Sulawesi Barat 238 kasus
33. Nusa Tenggara Timur 151 kasus
34. Gorontalo 1.284 kasus

Dalam proses verifikasi lapangan 10 kasus.

5. Kenali tanda-tanda terinfeksi COVID-19

5.236 Orang Meninggal karena COVID-19, Ketua Satgas: Bukan Konspirasi!Pemain Arema FC, Muhammad Rafli Saat menjalani rapid test. IDN Times/ Alfi Ramadana

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama Virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Tiongkok, pada akhir Desember 2019. Virus ini telah menyebar ke wilayah lain di Tiongkok dan ratusan negara, termasuk Indonesia.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang mampu membunuh Virus Corona. Kendati, persentase kesembuhan COVID-19 cukup tinggi. Di beberapa negara seperti Vietnam angka kesembuhannya mencapai 100 persen. Bahkan, beberapa pakar kesehatan menyebut COVID-19 bisa sembuh sendiri jika imun penderitanya bagus. Sebaliknya, rata-rata angka kematian akibat corona berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Selasa (17/3), sebesar 4,07 persen. Sementara di Indonesia, hingga Kamis (19/3) mencapai 8,37 persen.

Bagaimana gejala virus corona? Infeksi COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Tapi dalam beberapa kasus, pasien positif Corona tak menunjukkan gejala khusus.

Hari pertama, penderita virus corona mengalami demam atau suhu tinggi, nyeri otot, dan batuk kering. Sebagian kecil diare atau mual beberapa hari sebelumnya. Ada juga yang hilang penciuman. Hari kelima, penderita kesulitan bernapas, terutama penderita lansia atau mereka yang memiliki penyakit kronis.

Hari ketujuh, menurut penelitian Universitas Wuhan, gejala yang dialami penderita mulai semakin parah. Penderita biasanya perlu dirawat di rumah sakit. Hari kedelapan, penderita dengan kasus yang parah memperlihatkan sindrom gangguan pernapasan akut. Paru-parunya dipenuhi cairan dan kesulitan bernapas hingga menyebabkan gagal napas.

Hari ke-10, penderita dengan kasus ringan mengalami sakit perut dan kehilangan napsu makan. Hanya sebagian penderita yang meninggal dunia. Hari ke-17, rata-rata penderita sembuh dari virus corona dan keluar dari rumah sakit.

Bagaimana mencegah virus corona? Sering mencuci tangan pakai sabun, gunakan masker bila batuk atau pilek, mengonsumsi gizi seimbang, hati-hati kontak dengan hewan, cukup istirahat dan olahraga, jangan konsumsi daging mentah, bila batuk, pilek, dan sesak segera ke fasilitas kesehatan.

Perlu diwaspadai juga bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis 9 Juli 2020 mengonfirmasi, COVID-19 dapat menular melalui udara (airborne). Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa penyakit tersebut cepat menyebar ke seluruh dunia. 

Karena itu, pada hari yang sama, WHO merilis panduan baru mengenai penularan COVID-19 melalui situs resminya. Ada beberapa pembaharuan yang perlu kamu tahu.

Penularan utama COVID-19 tetaplah melalui kontak dengan pasien. Baik kontak langsung, tidak langsung, atau berada di dekat mereka. WHO menyatakan hal ini terjadi karena pasien COVID-19 mengeluarkan droplet dari saluran pernapasan ketika berbicara, batuk, bersin, atau menyanyi. 

Cairan dari pernapasan tersebut bisa dibagi menjadi dua macam, yakni respiratory droplet (berukuran lebih dari lima hingga sepuluh mikrometer) dan droplet nuclei atau aerosol (berukuran kurang dari lima mikrometer). 

Respiratory droplet dapat mengenai orang lain yang berada dalam radius satu meter dengan pasien. Ketika cairan itu mengenai mata, hidung, dan mulut, maka besar kemungkinan mereka tertular. Sementara, droplet nuclei atau aerosol ditularkan melalui udara.

Kita sering mendengar istilah airborne, apa artinya?WHO menyatakan transmisi airborne terjadi ketika virus disebarkan melalui droplet nuclei atau aerosol yang tetap bisa menular ketika dilepaskan ke udara. Selain itu, droplet nuclei bisa menggantung di udara dalam jarak dan waktu lama. 

Sebelumnya, WHO juga menyatakan transmisi ini dimungkinkan ketika kita berada di lingkungan rumah sakit. Sebab ada sejumlah prosedur medis yang menghasilkan aerosol. Namun lingkup tersebut kini membesar. 

Mengutip laporan WHO, ada beberapa studi yang dilakukan di rumah sakit untuk mengamati keberadaan virus di udara. Ternyata walaupun tidak ada prosedur medis yang melibatkan aerosol, RNA SARS-CoV-2 tetap ditemukan di udara. Namun ada pula studi yang menentangnya. 

Terdapat pula bukti bahwa aerosol juga diproduksi ketika kita berbicara dan batuk. Karena itu, walaupun studi mengenai sifat airborne dari COVID-19 masih terbatas, ada baiknya untuk tetap menerapkan pencegahan berbasis airborne. 

Penularan airborne utamanya terjadi di ruangan yang tertutup, ramai, dan tidak ada ventilasi yang memadai. Contohnya ruangan gym, restoran, ruangan dengan pendingin AC, dan lain sebagainya.

Sementara Kepala Lembaga Biologi Molekuler EIjkman Prof Amin Soebandrio menyebutkan penyebaran COVID-19 melalui udara bukan penemuan baru. Dia sudah mencurigai sejak awal kemunculan COVID-19.

"Jika ada droplet (percikan ludah) kemudian ada aliran udara yang cukup kuat (COVID-19) bisa terbawa angin dan terbang karena volumenya jadi lebih kecil, relatif ringan karena kadar airnya berkurang," ujar dia saat dihubungi IDN Times, Selasa 7 Juli 2020.

Amin menerangkan COVID-19 bisa keluar bersama droplet yang dihasilkan ketika bersin atau batuk. Droplet yang menempel pada benda-benda yang tersentuh orang lain, bisa menularkan virus corona.

Namun, sebagian virus corona menyebar lewat udara (airborne) saat droplet berubah menjadi partikel yang lebih kecil dan mudah menyebar di udara.

"Sebagian besar memang menular melalui droplet, tapi dalam situasi tertentu bisa. Seperti di rumah sakit saat dilakukan prosedur pemasangan ventilator, penghisapan lendir, atau terapi nebulizer," jelas Amin.

Jika membutuhkan beberapa nomor telepon terkait virus corona, kamu bisa menghubungi beberapa nomor penting ini, yakni Hotline kemenkes (+62 812 1212 3119, 119 ext 9, (021) 521 0411), atau mengunjungi beberapa situs terkait virus corona antara lain kemkes.go.id, arcgis.org, jakarta.go.id, healthmap.org, jabarprov.go.id, cdc.gov, jhu.edu. Kamu juga bisa mengunjungi web resmi pemerintah daerah untuk mencari informasi terkait perkembangan virus corona di daerah kamu tinggal.

 

Baca Juga: [LINIMASA-3] Perkembangan Terkini Pandemik COVID-19 di Indonesia

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya