Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dosen Udayana: Periset Indonesia Dicurigai Gegara Kasus Riset Palsu
Pelaku dugaan riset yang disebut palsu di ISPPD 2026 / (tangkapan layar Threads @mandharabrasika)
  • Kasus dugaan riset palsu di konferensi ISPPD 2026 membuat peneliti Indonesia dicurigai dan menurunkan kepercayaan internasional, terutama bagi mereka yang bergerak di bidang serupa.
  • Penyelenggara konferensi belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun telah melakukan investigasi internal dan membatalkan travel grant milik pelaku yang terlibat.
  • Terdapat empat nama peserta asal Indonesia, hanya satu hadir langsung, dengan indikasi pemalsuan identitas serta fabrikasi data menggunakan AI yang telah diakui oleh pelaku.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dosen dan peneliti Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana, Bali, Ida Bagus Mandhara Brasika mengungkapkan kasus dugaan riset palsu dalam konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark, berdampak terhadap kepercayaan dan kredibilitas peneliti Indonesia di tingkat internasional.

Menurut dia, dampak kasus tersebut paling terasa bagi peneliti yang bergerak di bidang yang sama dengan konferensi tersebut.

"Tentu bagi peneliti di bidang tersebut berdampak langsung, karena setelah kejadian peneliti Indonesia jadi dicurigai. Kalau pada bidang lain akan beragam tergantung apakah panitia terekspos informasi ini atau tidak," ucapnya saat dikonfirmasi IDN Times, Rabu (27/5/2026).

1. Travel grant pelaku dibatalkan

Viral alumni lpdp

Dia menjelaskan hingga saat ini penyelenggara konferensi juga belum mengeluarkan pernyataan resmi kepada publik terkait kasus tersebut. Meski begitu, menurut dia, langkah investigasi internal sudah dilakukan.

"Belum ada pernyataan publik resmi dari penyelenggara. Tapi sudah dilakukan investigasi, dan travel grant bersangkutan dibatalkan," katanya.

2. Empat orang terlibat hanya satu yang hadir

Tangkapan layar dugaan riset yang disebut palsu di ISPPD 2026 (Dok/Istimewa)

Terkait jumlah peserta asal Indonesia yang diduga terlibat, Ida mengatakan terdapat empat nama yang tercatat seharusnya melakukan presentasi dalam konferensi tersebut. Namun, dari jumlah itu hanya satu orang yang hadir secara langsung.

"Setidaknya ada empat nama yang terdaftar harusnya memberikan presentasi. Namun yang hadir hanya satu. Tidak bisa dipastikan apakah memang tim atau pencatutan," ujarnya.

3. Pemalsuan untuk dapatkan travel grant

ilustrasi melakukan riset (pexels.com/Ono Kosuki)

Ia juga mengungkap adanya indikasi penggunaan identitas berbeda dalam kasus tersebut. Menurut dia, dugaan itu diperkuat oleh kesaksian langsung di lokasi. Sementara terkait fabrikasi data dan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Ida menyebut hal tersebut telah diakui oleh pelaku.

"Penggunaan identitas berbeda ada saksi langsung yang lihat. Fabrikasi data dan AI sudah diakui oleh pelaku," kayanya.

Sebelumnya Ida Bagus membongkar dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset yang menyeret peserta asal Indonesia dalam konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Temuan itu sebelumnya ia ungkap melalui akun Threads miliknya, @mandharabrasika, pada Senin (25/5/2026) hingga akhirnya viral. Praktik tersebut dinilai merusak kredibilitas peneliti Indonesia di forum akademik dunia

ISPPD 2026 merupakan konferensi ilmiah internasional bergengsi yang mempertemukan para ahli pneumonia dari berbagai negara. Namun, dalam utas yang ramai diperbincangkan di media sosial, sejumlah peserta asal Indonesia disebut melakukan pemalsuan secara terorganisir untuk mendapatkan fasilitas perjalanan dan pengakuan akademik

Editorial Team

Related Article