Jakarta, IDN Times - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai langkah berhemat yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekadar pencitraan belaka. Sebab, upaya penghematan dengan mematikan lampu dan menjatah penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak terlalu memberikan dampak yang signifikan.
"Ini lebih ke pencitraan yang dilakukan oleh DPR. Karena awalnya yang dibicarakan oleh presiden, gaji mereka (anggota DPR) yang dipotong," ujar Lucius ketika dihubungi oleh IDN Times melalui telepon pada Jumat (27/3/2026).
Sementara yang diminta melakukan penghematan adalah para ASN yang bekerja di gedung parlemen. Kemudian, kebijakan itu diglorifikasi seolah-olah sudah dilakukan penghematan dalam jumlah besar oleh DPR dan anggotanya. Sedangkan, komitmen soal pemotongan gaji anggota DPR belum diketahui kapan implementasinya.
"Dengan mencari-cari celah untuk penghematan di kesekjenan, DPR sedang ingin menunjukkan itu sebagai produk pencitraan semata. Nyaris tidak ada dampak signifikan untuk membantu anggaran negara," tutur dia.
Alih-alih menempuh langkah penghematan dengan mematikan lampu dan penghematan listrik, Lucius mendorong DPR kembali ke fitrah awal sebagai lembaga pengawas kebijakan pemerintah. "Peran penting DPR terlihat lebih signifikan di situ ketimbang bicara apa yang perlu diefisiensikan di kesekjenan," katanya.
