Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, menyebut butuh berhari-hari untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Sebab, hingga saat ini, AS dan Iran masih berdiskusi soal poin-poin yang ada di dalam kesepakatan agar bisa menguntungkan kedua pihak.
Menlu AS: Butuh Berhari-hari untuk Capai Perdamaian dengan Iran

- Menlu AS Marco Rubio menyebut negosiasi damai dengan Iran masih butuh beberapa hari karena kedua pihak belum sepakat atas detail draf kesepakatan yang menguntungkan bersama.
- AS dan Iran bernegosiasi secara tidak langsung sejak 21 Mei 2026 melalui Pakistan, membahas draf berisi penghentian sanksi, pembukaan Selat Hormuz, serta perpanjangan gencatan senjata 60 hari.
- Di tengah proses negosiasi, AS melancarkan dua serangan ke kapal dan situs rudal Iran sebagai langkah pertahanan diri, namun CENTCOM menegaskan gencatan senjata tetap berlaku.
"Saya pikir, ada keselarasan dan kesepakatan yang kuat tentang seperti apa draf awal itu seharusnya. Saya pikir, seperti halnya dengan hal semacam ini, akan membutuhkan beberapa hari untuk mencapai kesepakatan. Bahkan, sampai pada perbedaan pendapat tentang satu kata atau kalimat," kata Rubio kepada wartawan di New Delhi, India, Senin (25/5/2026) dilansir Anadolu Agency.
1. Rubio sebelumnya mengatakan kesepakatan dengan Iran bisa diraih lebih cepat

Pernyataan Rubio tadi berbeda dengan pernyataan sebelumnya. Sebab, sebelumya, ia mengatakan kesepakatan perdamaian dengan Iran bisa diraih lebih cepat, yakni pada Senin. Namun, kenyataannya, hal itu tidak bisa terwujud karena negosiasi perdamaian antara AS dan Iran kini masih berlangsung.
Di sisi lain, Pemerintah Iran juga menyebut bahwa kesepakatan perdamaian dengan AS tidak bisa diraih dalam waktu dekat. Sebab, menandatangani kesepakatan perdamaian butuh proses panjang dan tidak boleh terburu-buru.
"Memang benar bahwa kita telah mencapai kesimpulan mengenai sebagian besar isu yang sedang dibahas. Namun, untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat, tidak ada yang bisa mengklaim hal seperti itu," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baghaei, dilansir BBC.
2. Negosiasi perdamaian AS dan Iran sudah berlangsung sejak pekan lalu

AS dan Iran sendiri sudah melakukan negosiasi perdamaian sejak Kamis (21/5/2026) pekan lalu. Namun, negosiasi kali ini dilakukan secara tidak langsung. Sebab, AS dan Iran hanya berkirim pesan saja lewat Pakistan yang berperan sebagai mediator.
Dalam negosiasi tersebut, AS dan Iran berhasil membuat draf antara kedua pihak. Draf tersebut berisi sejumlah poin kesepakatan yang akan ditandatangani kedua negara untuk mencapai perdamaian.
Dalam draf tersebut, AS bersedia menyudahi sanksi ekonomi terhadap Iran, bersedia meminta Israel berhenti menyerang Lebanon, dan bersedia menghentikan blokade terhadap semua pelabuhan milik Iran. Sementara itu, Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. AS dan Iran juga bersedia memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
3. AS melakukan serangan ke Iran di tengah negosiasi damai

Di tengah negosiasi yang sedang berlangsung, AS dilaporkan telah melakukan dua serangan terbaru ke Iran. Kedua serangan tersebut diluncurkan pada Senin. Serangan pertama dilakukan terhadap dua kapal Korps Garda Revolusi Iran yang berupaya menebar ranjau di Selat Hormuz, sedangkan serangan kedua ditargetkan ke situs peluncur rudal Iran di Bandar Abbas.
Pusat Komando AS (CENTCOM) menjelaskan, kedua serangan tadi merupakan bentuk pertahanan diri AS dari ancaman Iran. Namun, CENTCOM menegaskan bahwa serangan itu tidak menunjukkan bahwa gencatan senjata AS dan Iran sudah berakhir. Sebab, gencatan senjata kedua negara kini masih berlangsung.








.png)










