Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dugaan Eksploitasi Anak oleh WNA Jepang, Kemen PPPA: Kekerasan Serius
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi bicara pencegahan kekerasan seksual di lokasi bencana banjir. (IDN Times/Amir Faisol)
  • Kemen PPPA menegaskan penanganan kasus dugaan eksploitasi seksual anak oleh WNA Jepang harus mengutamakan kepentingan terbaik korban dan mencegah trauma berulang selama proses hukum berlangsung.
  • Pemerintah menyiapkan pendampingan komprehensif bagi korban, mencakup layanan psikologis, kesehatan, serta dukungan reintegrasi sosial sesuai amanat undang-undang perlindungan anak.
  • Kemen PPPA mendorong kerja sama lintas pihak termasuk Interpol untuk mempercepat penyelidikan, menemukan korban, dan memperkuat bukti digital dalam pengungkapan kasus tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
15 Agustus 2025

Pihak kepolisian sempat melakukan penggerebekan dan menangkap terduga pelaku WNA Jepang, namun kemudian membebaskannya.

12 Mei 2026

Pengguna akun X @SisterInDanger mengungkap di media sosial tentang dugaan kekerasan seksual anak oleh WNA Jepang yang sering ke Jakarta mencari korban.

19 Mei 2026

Menteri PPPA Arifah Fauzi menyatakan kasus dugaan eksploitasi seksual anak oleh WNA Jepang merupakan kekerasan serius dan menegaskan pentingnya perlindungan serta pemulihan korban.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dugaan eksploitasi seksual anak oleh warga negara Jepang di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, yang dinilai sebagai bentuk kekerasan serius terhadap anak dan berdampak panjang bagi korban.
  • Who?
    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Kemen PPPA, kepolisian, serta seorang WNA asal Jepang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
  • Where?
    Kejadian diduga terjadi di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, dengan penanganan dilakukan oleh pihak berwenang di Indonesia dan kemungkinan kerja sama lintas negara melalui Interpol.
  • When?
    Pernyataan resmi disampaikan pada Selasa, 19 Mei 2026. Dugaan aktivitas pelaku disebut telah berlangsung sejak sebelum penggerebekan pada 15 Agustus 2025.
  • Why?
    Kasus ini muncul karena adanya laporan dugaan tindakan kekerasan seksual terhadap anak-anak oleh WNA Jepang yang sering datang ke Jakarta untuk mencari korban demi kepentingan pribadi.
  • How?
    Kemen PPPA menyiapkan pendampingan psikologis dan sosial bagi korban, mendorong penyelidikan bersama kepolisian serta Interpol, dan mengingatkan media agar tidak menyebarkan identitas anak demi pemulihan korban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang Jepang yang jahat datang ke Jakarta dan menyakiti anak-anak. Menteri Arifah bilang ini hal yang sangat buruk dan bisa bikin anak sedih lama sekali. Pemerintah mau bantu anak supaya tidak takut lagi. Polisi juga cari bukti dan kerja sama dengan Interpol. Semua orang diminta jaga rahasia anak korban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Respons cepat dan tegas Kemen PPPA dalam menyoroti kasus ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah terhadap perlindungan anak. Upaya menghindari trauma berulang, menjaga kerahasiaan identitas korban, serta menyediakan pendampingan psikologis dan sosial mencerminkan pendekatan yang manusiawi. Selain itu, dorongan kerja sama lintas pihak, termasuk dengan Interpol, memperlihatkan keseriusan dalam memastikan keadilan dan pemulihan menyeluruh bagi korban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengatakan, kasus penanganan kasus dugaan eksploitasi seksual anak oleh WNA Jepang di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, merupakan kekerasan serius yang berdampak panjang terhadap keselamatan dan masa depan anak.

"Anak sebagai korban berada dalam posisi rentan terhadap bujuk rayu, tekanan, dan manipulasi, serta berpotensi mengalami dampak jangka panjang secara fisik, psikologis, sosial, dan mental emosional, termasuk trauma, gangguan relasi sosial, hambatan pendidikan, hingga masalah adiksi. Karena itu, anak harus mendapatkan perlindungan, penanganan, dan pemulihan yang menyeluruh serta berperspektif korban,” kata dia, dikutip Selasa (19/5/2026).

1. Penanganan harus hindari trauma berulang

Kampanye Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) tentang laki-laki harus dilibatkan dalam memerangi kekerasan perempuan. (lakilakibaru.or.id)

Kemen PPPA menilai proses penanganan perkara harus menghindari reviktimisasi atau trauma berulang selama pemeriksaan berlangsung. Pemerintah juga mengingatkan media dan masyarakat untuk tidak menyebarluaskan identitas korban demi menjaga proses pemulihan psikologis anak.

“Pemberitaan kasus yang melibatkan anak tetap memperhatikan etika perlindungan anak. Penyebaran foto, video, identitas, maupun informasi lain yang dapat mengungkap identitas korban berpotensi menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan dan menghambat pemulihan korban. Oleh karena itu, seluruh pihak, termasuk media massa dan masyarakat, memiliki tanggung jawab menjaga kepentingan terbaik bagi anak,” ujar dia.

2. Siap berikan pendampingan komprehensif korban

Ilustrasi kekerasan perempuan dan anak (IDN Times)

Kemen PPPA menyatakan siap memberikan pendampingan komprehensif bagi korban. Mulai dari layanan psikologis, kesehatan, hingga dukungan reintegrasi sosial sesuai amanat Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

3. Dorong kerja sama dengan Interpol

Ilustrasi kekerasan perempuan. (IDN Times/Aditya Pratama)

Kemen PPPA meminta penyelidikan difokuskan pada penemuan korban dan penguatan bukti digital dengan melibatkan kerja sama lintas pihak, termasuk Interpol.

“Kemen PPPA juga mendorong kepolisian mempercepat penyelidikan dengan fokus pada penemuan korban sebagai saksi serta bekerja sama dengan Interpol dan pihak terkait lainnya dalam pengungkapan data dan informasi digital sebagai alat bukti yang sah,” kata dia.

4. Pelaku kerap ke Jakarta cari korban

Ilustrasi pelecehan dan kekerasan Perempuan (IDN Times/Arief Rahmat)

Media sosial X belakangan dihebohkan dengan adanya dugaan tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak yang melibat seorang oknum warga negara asing (WNA) asal Jepang. Pelaku disebut sering terbang ke Jakarta untuk mencari korban anak kecil demi kebutuhan orientasi seksualnya sambil direkam.

"Ada cowok Jepang pedofil sering ke Jakarta nyariin anak kecil untuk seks sambil direkam," tulis pengguna akun X @SisterInDanger seperti dikutip IDN Times, Selasa (12/5/2026).

Pengguna akun juga menyampaikan, pelaku semula sempat diringkus pihak kepolisian dalam penggerebekan yang dilakukan pada 15 Agustus 2025 silam. Namun, polisi justru membebaskan terduga pelaku tersebut

Dia mengatakan, pelaku dalam kasus ini tidak hanya satu orang karena pedofil dari Jepang terus berdatangan ke Jakarta untuk mencari korban anak-anak lainmya.

Editorial Team